zawiyah jakarta

Pemakaman Ma’la, Berziarah dan Mengenang Sayyidah Khadijah

Pemakaman Ma’la (bahasa Arab: مَقبَرَة المَعلاة ) adalah pemakaman tertua di kota Mekah yang juga dikenal dengan nama Pemakaman Hajun (حَجون) atau Hujun (حُجون) dan bagi orang-orang Iran dikenal dengan nama Pemakaman Abu Thalib.

KEUTAMAAN MA’LA

Komplek pemakaman Ma`la terletak di sebelah Timur Masjidilharam dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit. Terdapat banyak lokasi pemakaman umum di Kota Mekah, tetapi yang sangat terkenal adalah komplek pemakaman Hajun. Keutamaan Pemakaman Hajun juga dipuji dalam syair-syair Arab yang menunjukkan pemakaman ini memiliki kedudukan penting dibanding pemakaman lain yang terdapat di kota Mekah.

Karena beberapa peristiwa bersejarah berkaitan dengan Hajun, pemakaman ini menarik perhatian umat Islam. Misalnya dalam satu peristiwa, Al-Qur’an melaporkan sebuah pertemuan sekelompok jin dengan Nabi Muhammad SAW di sekitar Pemakaman Hajun yang menyebabkan mereka masuk Islam. Dengan alasan itu, setelah beberapa waktu, dibangun sebuah masjid di dekat Pemakaman Hajun dan diberikan nama masjid al-Jinn atau masjid al-Haras yang masih ada sampai sekarang.

Menetapnya Nabi Muhammad SAW di Hajun sebelum penaklukan kota Mekah menunjukkan keutamaan pemakaman ini. Di samping itu
pada abad ke-1 H, Hajun menjadi tempat yang memiliki fungsi politik, termasuk menetapnya Abu Musa al-Asyari di Hajun setelah peristiwa tahkim (arbitrase).

NAMA-NAMA LAIN MA’LA

Pemakaman ini memiliki beragam nama lain diantaranya adalah: Ma’la (مَعْلاة), pemakaman al-Ma’la (مقبرةالمَعْلاة), Jannatu al-Ma’la (جَنّةالمَعْلاة), pemakaman Quraisy dan pemakaman Bani Hasyim.

Ma’la merupakan nama sebuah kawasan di kota Mekkah, sudah dari zaman dahulu tempat tersebut menjadi pemakaman nenek moyang bangsa Arab. Kuburan yang tertata rapih, tidak menyeramkan, karena letak pemakamannya di antara pemukiman warga yang lumayan padat, pemakaman tersebut dikelilingi tembok setinggi kurang lebih 1 meter. Kota Mekkah memang mempunyai beberapa pemakaman umum lainnya, seperti di Madinatu Syoraya yang lokasinya lebih dekat ke Muasim-Mina, tapi masih masuk wilayah tanah Haram Makkah, 1 km ke arah barat tepatnya di daerah Hujun.

Di era Jahiliyah dan juga pada tahun-tahun awal setelah kemunculan Islam, pemakaman ini meliputi lembah Abi Dubb (dibagian kanan gunung) dan lembah Sufi al-Sabbab (dibagian kiri gunung) yang diperluas ke jalur Adhakhir dan daerah Khurman. Karena letaknya berada diluar kota Mekah, ahli geografi termasuk Al-Muqaddasi dan Ibn Khurdadbih tidak menyebutkan pemakaman ini; Yaqut al-Hamawi hanya membahasnya secara umum. Oleh karena itu terdapat kesulitan menentukan ukuran luas atau batas pemakaman ini disebabkan letaknya berada dikawasan gunung Hajun dan letaknya yang berdampingan dengan pemakaman al-‘Ulya.

Orang yang meninggal di Mekkah, baik itu Jemaah haji atau umroh juga masyarakat umum yang tinggal disana maka akan dimakamkan di pemakaman umum ini.

Orang yang pertama dikuburkan di Ma’la adalah Qushai bin Qilab (kakek kelima Nabi Muhammad SAW), beliau merupakan nenek moyang dari suku Quraisy. Kemudian kakek Nabi saw, diantaranya adalah: Abdul Manaf bin Qushai, Hasim bin Abdul Manaf, Abdul Muthalib bin Hasim, dimakamkan juga paman-paman beliau yaitu Abu Thalib, al-Walid ibnu Mughirah, termasuk putra-putra beliau Qhasim. Menurut sebuah riwayat, Aminah ibunda Rasulullah SAW disebutkan juga dimakamkan di pemakaman tersebut.

Di Ma’la juga terdapat makam para sahabat, antara lain: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Yasir bin Amar, Abdullah bin Amr bin Ash, Asmah binti Abu Bakar, Abdurahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Umar ibnu Khathab, Abdullah bin Zubair, Fudhail bin ‘Ayyadh, sejumlah arif abad ke-2 H, sejumlah sadat (keturunan Nabi Muhammad saw) khususnya sadat Hasani dan Manshur khalifah dari Bani Abbasiyah. Dan para sahabiyah yang pertama kali sahid adalah Sumaiyah, dan masih banyak lagi para sahabat yang dimakamkan di pemakaman Ma’la tersebut. Sejumlah ulama terkenal di Mekah juga dimakamkan di pemakaman ini.

(Pada abad ke-7 H Firuzabadi dalam risalah Itsaratul Hajun li Ziyaratil Hajun menyebutkan 37 laki-laki dan 7 perempuan dari generasi sahabat yang dimakamkan di pemakaman al-Hajun, dilengkapi dengan identitas dan namanya masing-masing. Dan juga pada abad ke-11 H, Evliya Celebi dalam catatan perjalanannya menuliskan keberadaan 75 makam yang memiliki kubah di al-Hajun, diataranya makam Abdul Muththalib, Abu Thalib, Maimuna (istri Rasulullah saw) dan Syaikh ‘Alauddin Naqsyabandi. Sementara laporan Farahani pada abad ke-13 H dan Rafaat Basya pada abad ke-14 menyebutkan al-Hajun sebagai pemakaman yang mendapatkan perhatian besar kaum muslimin, khususnya dari umat Islam Syiah yang memuliakan makam Abu Thalib.)

Pada beberapa lokasi tertentu, satu makam digunakan secara bergantian. Dengan demikian, bila ada yang meninggal maka bisa jadi dikuburkan di makam yang sebelumnya dijadikan kubur bagi orang lain. Sebelumnya Ma`la juga sempat dijadikan lokasi untuk mengubur jemaah haji yang meninggal. Meski tidak banyak, jemaah haji asal Indonesia ada yang dikubur di Ma`la. Tapi untuk saat ini Pemerintah Arab Saudi sudah memiliki tempat pemakaman umum di daerah lain bagi jemaah haji yang meninggal.

Ada Makam Ibunda KHADIJAH-istri Rasulullah SAW

Pemakaman ma’la ini menjadi istimewa dikarenakan ada orang yang dicintai Rasulullah saw disemayamkan, yaitu Sayyidatina Khadijah al-Kubra. Menurut informasi Posisi makamnya tepat berada di bawah kaki gunung Assayyidah (bukit Khadijah) menghadap ke kiblat ke arah Masjidil Haram, namun untuk letak makam yang pastinya tidak ada orang yang mengetahui secara pasti dikarenakan di makam tersebut tidak terdapat tanda atau tempat khusus sebagai penanda tempat Siti Khadijah disemayamkan.

Komplek pemakaman Ma’la ini tidak seperti pemakaman umumnya yang berada di Indonesia. Kompleks pemakaman itu terletak di wilayah perbukitan. Sebab itu, bagian-bagian makam tersebut berundak-undak. Seluruh bagian makam diratakan, dan hanya ditandai dengan batu-batu putih yang besarnya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa, dengan tanah yang diratakan tanpa ada gundukan tanah di tengahnya. Semua bentuk dan ukuran disamaratakan.

Sebagian besar kompleks pemakaman tersebut lapangan terbuka, kecuali sekutip wilayah di bagian tengah yang dipagari beton dan besi-besi. Di ujung selatan kompleks yang dipagari itu, ada sebuah makam yang dikitari tembok putih semata kaki orang dewasa yang membentuk persegi panjang seluas kira-kira 1,5 kali 3 meter. Kebanyakan pengunjung yang berasal dari Asia Selatan diarahkan oleh petugas penjaga makam Ma’la ke bagian pagar bagian selatan yang paling dekat dengan kuburan itu untuk meyampaikan salam dan doa.

Namun, peziarah dari Turki menuju lokasi lain. Mereka menelusuri tembok bagian timur wilayah berpagar tersebut, ke arah dataran yang lebih tinggi di bagian utara. Menjelang ujung utara kompleks tersebut, mereka berhenti dan bergerombol menghadap ke sebuah makam di ujung barat wilayah berpagar tembok yang dekat dengan bebukitan. Persis di samping makam itu, berdiri satu-satunya pohon di kompleks Pekuburan Ma’la.

Hal ini sangat membingungkan sekaligus menyedihkan karena pada masa lalu, tak terjadi kebingungan soal di mana sejatinya makam Siti Khadijah.

Batu nisan yang paling penting di Pemakaman Ma’la adalah milik Sayyidah Khadijah, yang dibangun dengan kubah tinggi sebagai simbol keagungan si penghuni makam. Pada abad ke-8 H. Makam Sayyidah Khadijah direnovasi dan dibuatkan kubah tinggi atas perintah Sultan Sulaiman al-Qanuni seorang khalifah Utsmani sesuai dengan arsitektur makam-makam di Mesir. Makam tersebut kemungkinan sampai tahun 950 H masih tetap bertahan. Sebelum direnovasi, makam Sayyidah Khadijah hanya berupa makam dari kotak berbahan kayu. Berdasarkan dokumen tertulis yang ada, pada tahun 1298 H makam ini mengalami renovasi kembali. Husaini Farahani pada abad ke-13 H menyebutkan dharih makam Sayidah Khadijah dihiasi oleh kain beludru dan dengan keberadaan penjaga, khadim dan pembaca doa ziarah pada makam ini, masyarakat melakukan praktik keagamaan di tempat tersebut.
Dan pada masa Turki Utsmaniyah menguasai Makkah pada abad ke-16, kuburan itu dinaungi kubah putih yang membedakan dari makam-makam lainnya.

Pada tahun 1963-1964, semua kubah dan bangunan pada pemakaman al-Hajun di hancurkan oleh rezim Wahabi setelah sebelumnya menghancurkan Pemakaman Baqi. Tindakan tersebut memicu penolakan dan protes keras dari kaum muslimin. Meskipun Wahabi mencoba membenarkan tindakan tersebut dengan alasan syariat dan membandingkannya dengan pemakaman keluarga Nabi Muhammad saw namun upaya tersebut tidak berhasil meredam kemarahan umat Islam

Wallahu a’lam
Diolah dari berbagai sumber

 

Badrah Uyuni

Comment here