Artikel

Ihram

Ihram (Bahasa Arab: إحرام Ihrām) adalah keadaan seseorang yang telah beniat untuk melaksanakan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang melakukan ihram disebut dengan istilah tunggal “muhrim” dan jamak “muhrimun”. Calon jamaah haji dan umrah harus melaksanakannya sebelum di miqat dan diakhiri dengan tahallul.

*Pakaian Ihram*

Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit. Selembar kain untuk menutupi bahu semacam jubah yang longgar atau rida’/selendang dan yang selembar lainnya dililitkan ke pinggang (izar)/menutup aurat. Sedangkan alas kaki yang digunakan adalah semacam sandal atau sepatu yang terbuka kedua mata kaki. Dan kepala tidak tertutup.

Rasulullah SAW berangkat dari Madinah setelah Beliau menyisir rambut, memakai minyak wangi, mengenakan pakaian ihram (izar dan rida’). Hal tersebut dilakukan sendiri oleh Nabi dan juga para sahabatnya.” (HR Bukhari dari Ibn Abbas).

Sedangkan pakaian wanita ihram adalah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan (seperti pakaian ketika sholat). Warna pakaian ihram disunatkan putih, menggunakan kain polos, tapi bebas menggunakan model apa saja. Hanya saja yang harus menutupi aurat. Yang boleh tampak hanyalah wajah dan telapak tangan.

*Cara Memakai Kain Ihram Untuk Pria*

Jemaah laki-laki tidak diperkenankan memakai celana, pakaian dalam, baju, penutup kepala, serta alas kaki yang menutupi mata kaki.
Bagian bawah kain ihram harus lebih tebal dan panjang dari bagian atasnya. Jika kain terlalu panjang di bagian atas, kita akan kesulitan ketika salat.

1. Pilihlah satu helai kain yang lebih panjang dan tebal untuk dipakai di bagian bawah badan. Bentangkan posisi kedua kaki, lalu sarungkan kain ke badan. Tangan kanan di bentangkan sambil menggenggam dua ujung kain ihram yang disatukan, dengkan tangan kiri diletakan dibawah ketiak untuk menahan lipatan,
2. Ujung kain ihram yang di satukan ditarik ke arah kiri, sedangkan tangan kanan menahan lipatan dibawah ketiak,
3. Ujung kain ihram yang disatukan dilipat kedalam seperti hal nya memakai sarung untuk shalat, sehingga tidak kelihatan dari depan dan nampak rapi. Kemudian kenakan sabuk khusus haji agar membentuk ikatan yang kuat,
4. Ambil kain ihram potongan yang ke-2 dan bentangkan dengan tangan memegang ujung kain ihram tersebut. Posisi tangan kiri agak ke atas dan tangan kanan ke bawah.
5.Selipkan ujung kain ihram sebelah kiri pada gulungan kain ihram di pinggang sebelah kanan.
6. Selendangkan ujung kanannya untuk menutupi bagian atas badan.

*Wewangian Ketika Ihram*

Memakai minyak wangi baik pada tubuh ataupun pada belahan rambut serta pakaian ihram (sebelum menyatakan niat), meskipun setelah berniat bekas minyak wangi itu masih ada. “Seakan-akan aku melihat kilatan minyak wangi pada belahan rambut Rasulullah SAW sewaktu Beliau sedang ihram (HR Bukhari-Muslim dari Aisyah)…”Saya biara menggosokkan minyak wangi pada Rasulullah buat ihram sebelum beliau melakukan ihram itu…” (Diriwayatkan dari Aisyah Ra).

*Adab Sebelum Berihram*

Sebelum mengenakan ihram, disunahkan untuk mandi dan berwudhu. (Membersihkan diri)
Dalam hal ini yang hendak dilakukan antara lain memotong kuku, memendekan kumis, mencabut bulu ketiak, mandi, berwudhu, menyisir jenggot dan rambut. “Di antara yang termasuk sunah adalah mandi bila hendak ihram dan ketika hendak memasuki kota Makkah.” (HR Bazzar, Darruquthi dan Hakim, dari Abdullah bin Umar ra). Berniat memakai ihram untuk ibadah haji/umrah lalu memakai ihram.

Shalat dua rakaat dengan niat shalat sunah ihram. Pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, hendaklah membaca surat Al Kaafiruun. dan pada rakaat kedua membaca surah Al Ikhlash setelah Al Fatihah. “Nabi SAW melakukan shalat dua rakaat di Dzhulaifah tempat memulai ihramnya.” (HR Muslim dari Ibnu Umar).

*Larangan ketika Berihram*

Ketika ihram diharamkan baginya melakukan perbuatan tertentu seperti memakai pakaian berjahit, menutup kepala (bagi lelaki) dan muka (bagi perempuan), bersetubuh, menikah, melontarkan ucapan kotor, membunuh binatang dan tumbuhan, memotong rambut/ kuku, dan lain-lain.

Sekalipun begitu ada tujuh kondisi yang membolehkan bagi seorang muhrim melanggar pantangan ihram. Dalam arti bahwa haji dan umrahnya tetap sah, akan tetapi dari tujuh halangan itu ada yang dikenai dam atau kafarat (denda) dan ada yang tidak. Berikut ini penjelasan lengkap dari kitab al-Tasywiq ilal Baitil Atiq karya Jamaluddin al-Thabari al-Syafii:

1. Tidak memiliki kain ihram dan sandal (seperti ia memakai kain ihram yang terkena najis dan tidak ada cadangannya serta sandalnya hilang sementara yang ia miliki sandal sepatu). Orang yang melanggar pantangan ihram ini tidak dikenai dam maupun kafarat;
2. Mengidap penyakit yang telah didiagnosa ahli medis. Seperti tidak boleh kedinginan dan kepanasan (yang mengharuskan menutup kepala dll.), terdapat penyakit kepalanya seperti bernanah sehingga harus potong rambut, memakai perban dll.), memakai pembalut (pampers) bagi lansia atau pengidap diabetes kronis, dan sebagainya. Hanya saja orang ini terkena denda membayar dam yang telah ditentukan dalam hukum syara;
3. Dalam kondisi tiba-tiba terdesak seperti tiba-tiba tersangkut dahan dan ranting yang harus dipatahkan. Tiba-tiba berhadapan dengan kalajengking, ular dan binatang lain yang membahayakan sehingga perlu dipukul hingga mati. Tiba-tiba bulu mata masuk ke mata sehingga harus dicabut, dan sebagainya. Orang yang melanggar ihram ini tidak dikenai sanksi;
4. Lupa yang tidak menyebabkan berdosa dan menggugurkan sanksi seperti bersenggama dengan pasangan hidup yang sah maka tidak wajib membayar dam. Hanya saja lupa yang menyebabkan kerusakan/mematikan makhluk lain tetap dikenai dam. Seperti lupa memotong ranting yang menyebabkan tumbuhan layu, lupa membuhuh hewan, lupa mencabut rambut yang menyebabkan botak permanen;
5. Tidak tahu hukum dan tidak ada orang lain yang menasehatinya. Misalnya perempuan membuka kaki dan pahanya saat berwudhu di tempat umum dsb maka ia tidak batal ihramnya dan tidak dikenai dam;
6.Kondisi terpaksa yang menyebabkan pelakunya tidak dianggap berdoa. Misalnya seorang yang sedang tawaf berdesak-desakan yang menyebabkan kain ihramnya menyentuh dinding Kabah yang wangi. Kain ihramnya terkena semprotan penjual minyak saat menelusuri jalan pertokoan di sekitar Masjidil haram, dsb. Orang ini tidak dikenai dam maupun kafarat.
7. Masih kecil atau kanak-kanak. Misalnya orang tua yang mengajak haji atau ihram anak laki-lakinya yang masih balita yang kemana-mana masih memakai pampers. Anak itu tidak terkena dam hanya saja menurut mazhab Syafii ia kelak setelah dewasa wajib meng-qadha hajinya.

*Pelajaran dari Berihram*

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari rangkaian manasik ibadah haji. Diantaranya, ketika seorang hendak berhaji, saat ia berhenti di miqot untuk melakukan ihram, dia tanggalkan seluruh baju yang melekat pada tubuhnya. Pakaian sederhana ini, dipakai oleh seluruh jamaah haji (pria). Tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin, pemimpin dan rakyat. Kesamaan mereka dalam pakaian ini, tanpa memandang martabat atau kedudukan, mengingatkan pada kesamaan yang kelak seluruh manusia akan menemui. Yaitu kesamaan pakaiaan yang akan membungkus tubuh, ketika ajal menjemput… semua akan dipakaikan kain kafan. Tak pandang mana yang kaya raya mana yang miskin melarat, semua akan dibungkus kain kafan. Mengingatkan dirinya tentang kematian yang memutus segala kelezatan dunia. kain ihram merupakan simbol pelepasan atribut keduniawian yang melekat pada manusia dan dianggap kembali fitrah seperti masa ia pertama kali dilahirkan. Sehingga semua manusia, baik pria dan wanita, terlihat sama di mata sang Pencipta. Karena dengan berihram bukan perkara busana melainkan pikiran, perilaku, dan semuanya perlu berubah.

Diolah dari berbagai sumber

Badrah Uyuni

#ihram umroh #kabah #quran #islam #ibadah #mekah #madinah #masjid #fito #travel #fitotravel #muslimtraveller #halaltrip #haji #mekah #madinah #zamzam #jalanmudahmenujubaitullah #baitullah #tanahsuci #saudi #travelmuslim #travelumrohjakarta #zawiyahjakarta #shibghatullah #kuliah #beasiswa #kampus #islam #akselerasi #doa #kampusonline #belajar #hijrah #ulama #guru #saifuddinamsir #betawi #masjidilharam #masjidnabawi #thawaf #sai #sofa #marwah #nabi #ziarah #haji #arafah #multazah #mina #muzdalifah #jumrah #shalat #khusyu #maulid #renungan #tashawwuf #dzikir #sunnah #hukum #badal #badalhaji #fitotravel #muslim #muhammad #hijrah #maulid #badrahuyuni #hajimabrur #umrohmaqbulah

Comment here