Artikel

Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah terletak di barat daya Masjid Nabawi, berjarak 500 meter dari Bab As-Salam. Sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasul SAW mendirikan shalat di tempat tersebut, maka didirikanlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Mushalla, yakni masjid tempat shalat. Di Masjid inilah Rasul mendirikan shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Abu Hurairah berkata, Setiap kali Rasulullah melalui Al-Mushalla, Baginda akan menghadap ke arah kiblat dan berdoa.

Masjid ini disebut juga Masjid Id (Hari Raya) sebab lokasi masjid ini berdiri adalah tempat Rasulullah SAW menunaikan sholat hari raya di empat tahun kehidupan beliau.

Kata Al-Ghamamah dengan kata lain awan yang menaungi (mendukung).
Dari riwayat lain disampaikan “pada suatu saat Nabi Rasulullah SAW berkhutbah Idul Fitri, para jamaah mulai resah dan gelisah. Pasalnya khutbah Beliau terlampau panjang atau lama sehingga semua jamaah kepanasan oleh sebab panasnya terik matahari. Lalu datang lah mendung atau awan tebal yang menutupi matahari sampai setelah acara khutbah Beliau selesai”. Untuk mengenang peristiwa ini di bangunlah suatu masjid yang di beri nama Masjid Ghamamah yang berarti awan atau mendung.

Masjid Al Ghamamah dan Sejarah Sholat Istisqa

Kisah lain menyebutkan bahwa Awalnya, tempat dimana masjid Ghamamah berdiri adalah lapangan alun – alun yang sedang amat luas di pusat Kota Madinah. Dahulu ketika musim paceklik melanda Madinah, warga kota meminta Rasulullah untuk berdoa meminta kepada Allah SWT menurunkan hujan. Kemudian Rasulullah mengerjakan shalat mohon hujan di alun-alun itu.

Setelah shalat, Nabi segera berdoa memohon kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Allah SWT pun mengabulkan doa Nabi Muhammad SAW, begitu Nabi berlalu, tiba-tiba Kota Madinah di selimuti oleh awan gelap dengan diiringi hujan lebat. Tentu saja, hujan yang dimaksudkan adalah hujan yang memberi rahmat bagi umat manusia. “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 22).
“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Apakah mereka tidak memperhatikan?” (QS As-Sajadah [32]: 27).

Untuk memperingati peristiwa itu, Nabi serta para sahabat sepakat untuk membangun sebuah masjid dan menamakannya Masjid Al Ghamamah yang berarti masjid Awan.

Di lokasi ini juga (ketika belum dibangun bangunan masjid) atau di lokasi yang berdekatan dengan lokasi masjid ini, Rasulullah SAW pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi, Kaisar Aksum di Abbysinia (kini Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, namun menyambut baik kedatangan kaum muslimin yang mengungsi ke negerinya menghindar dari kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Ketika Najashi wafat, tak ada siapapun yang bersedia memimpin sholat jenazah baginya dan kemudian Rosulullah yang menshalatkan beliau secara ghaib. Peristiwa ini merupakan satu satunya peristiwa Rasulullah melakukan sholat ghaib atau sholat jenazah tanpa kehadiran dari jenazah yang di sholatkan.

DESKRIPSI

Menurut riwayat, Khalifah Umar bin Khattab adalah orang yang membangun masjid ini persis di tempat shalat Nabi SAW. Adapun bangunan masjid yang ada sekarang ini adalah peninggalan pembangunan Sultan Abdul Majid al-Utsmani. Masjid ini pernah direnovasi kembali pada masa Raja Fahd (1411H).

Masjid Al-Ghamamah ini berbentuk persegi panjang, terdiri dari dua bagian; jalan masuk dan aula shalat. Jalan masuknya berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter. Diberi atap dengan lima kubah bola. Memiliki lengkungan runcing.
Di bagian atasnya terdapat kubah tengah yang terpasang di atas jalan masuk masjid bagian luar. Kubah-kubah ini lebih rendah dari enam kubah yang membentuk atap aula shalat. Jalan masuk terbuka di bagian utara di jalan raya melalui lengkungan runcing.
Sementara aula shalat memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter aula ini dibagi menjadi dua serambi dan diatapi dengan enam kubah dalam dua barisan yang sejajar. Yang paling besar adalah kubah mihrab.
Pada dinding aula shalat bagian timur terdapat dua jendela persegi panjang. Pada bagian atasnya terdapat dua jendela kecil dan di atasnya lagi terdapat jendela ketiga berbentuk bulat. Hal yang sama juga terdapat pada aula shalat bagian barat.

Mihrab Masjid Al-Ghamamah berada di tengah dinding aula shalat bagian selatan. Di samping mihrab terdapat mimbar pualam yang memiliki sembilan tangga. Bagian atasnya terdapat kubah berbentuk kerucut. Pintunya berasal dari kayu yang dihias dengan khat Utsmani.
Sementara itu, menara azannya berada di sudut barat laut. Bagian bawah menara berbentuk persegi empat setinggi masjid. Kemudian berubah bentuk menjadi persegi delapan, dan berakhir.

Di bagian luar, Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian dalam, dinding dan cekungan kubah dipoles dengan warna putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles dengan warna hitam sehingga memberikan pemandangan indah pada masjid dengan dua warna yang serasi.

Masjid ini sampai kini masih di pakai untuk shalat lima waktu untuk orang-orang di sekitar, tetapi Masjid Al Ghamamah Madinah Tempat Sholat Id Rasulullah SAW tidak lagi di pakai sebagai tempat shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan sholat Istisqa, maupun sholat Jum’atan karena letaknya dekat dengan Masjid Nabawi.

Dari berbagai sumber

Badrah Uyuni

#fitotravel
#zawiyahjakarta
#SHIBGHATULLAH

Comment here