Artikel

Maulid Nabi (Rumah Rasulullah SAW di Mekkah)

Rumah Nabi Muhammad saw ketika membina rumah tangga bersama Khadijah. Terlihat dari kejauhan sekira 200-an meter pintu akses menuju Bukit Marwah ke arah terminal Syib Amir di sisi kanan, tampak bangunan bercat paduan coklat-kuning pastel dikunjungi puluhan orang.
Saat ini (konon) berada di bawah tiang lampu. Banyak orang membaca Al Qur’an di sini untuk menghormat dan tabaruk kepada baginda Nabi saw. Tetapi rumah yang berukuran sekitar 10X18 meter ini merupakan bangunan yang tampak tidak terawat yang ada di sekitar Masjidil Haram. Rumah yang diceritakan sebagai tempat Rasulullah SAW dilahirkan ini tidak dirawat layaknya situs bersejarah yang ada di Indonesia. Konon, pemerintah Arab Saudi sengaja membiarkan rumah ini dan tetap menjadi perpustakaan yang selalu terkunci karena pemerintah Arab khawatir jika rumah ini dibangun rapi akan dijadikan tempat syirik oleh jamaah haji yang tidak mengerti masalah tauhid.

Terlihat spanduk di sisi kanan pintu masuk yang bertuliskan ‘Foto dari dalam Perpustakaan Makkah’. Sementara, di sisi kirinya terdapat spanduk yang bertuliskan sejumlah larangan. Mulai dari: dilarang shalat di depan Rumah Maulid, dilarang berdoa di depan Rumah. Namun rumah tempat lahir nabi itu tidak lagi bisa kita nikmati aslinya, karena sudah berbentuk bangunan tahun 1900 an Maulid dan dilarang meratap di temboknya.

Rumah Kelahiran Nabi Muhammad saw (Maulid Nabi) yang terletak berdekatan dgn tempat mengerjakan Sa’i, arah timur Masjidil Haram. Kawasan ini dikenali sebagai Suq al-Layl atau Shib Ali. Kini, dibangun sebuah perpustakaan dengan nama “Maktabah Makkah Al-Mukarramah”. Namun tak semua orang bebas masuk. Pada tahun lalu juga diberlakukan larangan serupa. Hal ini untuk menghindari kemungkinan adanya kerusakan pada koleksi buku yang tersimpan di dalamnya.

Bangunan sebelah kiri dari rumah ini dijadikan gudang untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Sementara batas bagian kanan langsung berhadapan dengan tempat pengambilan air zam-zam yang disediakan pemerintah Arab. Sementara bagian belakang rumah ini berbatasan dengan trotoar jalan yang dilalui masyarakat yang akan berjamaah ke Masjidil Haram dan mengambil air zam-zam dari keran yang disediakan.

Suasana ramai ditambah lagi dari desingan alat-alat berat yang sedang membuldoser daerah yang dulunya disebut pasar seng untuk perluasan halaman Masjidil Haram. Akibatnya debu-debu pun sering mewarnai areal ini jika alat-alat berat itu beroperasi.

Jika kita ingin menuju Maulid Nabi ini maka dari Masjidil Haram dapat mengambil jalan keluar lewat pintu Ajyad, lalu pergi ke arah kiri. Dengan jarak kurang lebih 650 meter, kita akan tiba di terminal transit bus Mina.

Tempat kelahiran Nabi SAW dulu dikenal dengan lembah Abu Thalib. Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, rumah ini ditinggali oleh Aqil bin Abi Thalib ra. Kemudian dilanjutkan didiami oleh anak cucu Aqil. Selanjutnya rumah itu dibeli oleh Khizran, istri Raja Bani Abbasiyah yang terkenal sukses dan ahli ibadah Harun Al Rasyid. Setelah dibeli, tempat itu lalu dibangun sebuah masjid Al-Khaizuran. Namun, karena berdekatan dengan Masjidil Haram, masjid itu lalu dihancurkan dan akhirnya dijadikan perpustakaan umum oleh Syaikh Abbas Qatthan, wali kota Makkah pada tahun 1370 H atau 1950 M.

Ketika Rasulullah SAW hijrah bersama bani Hasyim yang masuk islam, tanah warisan bani Hasyim dikuasai oleh Aqil dan Thalib, keduanya adalah anak Abi Thalib yang masih kafir. Sementara Ali dan Ja’far yang juga putra Abu Thalib, sama sekali tidak mendapatkannya. Termasuk Nabi Muhammad SAW.

Diambil dari berbagai sumber

Badrah Uyuni

#fitotravel #travel #islam #nabi #maulidnabi #muhammad #haji #mekah #madinah #masjid #perpustakaan #SHIBGHATULLAH

Comment here