Artikel

Eksistensi Pengajian Ulama Betawi di Media Online Sosial dan Media Sosial di DKI Jakarta

OLEH: Badrah Uyuni, MA
Jakarta, 16 November 2018

Riset EKSISTENSI PENGAJIAN ULAMA BETAWI DI MEDIA ONLINE DAN MEDIA SOSIAL DI DKI JAKARTA ini merupakan kelanjutan dari penelitian tahun-tahun sebelumnya yang diselenggarakan oleh lembaga Penelitian Jakarta Islamic Center. Riset ini merupakan penelitian yang menempatkan Majelis Taklim ataupun halaqoh sebagai entitas dari tradisi dan kebudayaan mengaji yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat yang tinggal di DKI Jakarta dan sekitarnya (Betawi). Hanya saja kali ini yang diangkat adalah Majelis taklim yang bentuknya sudah dalam media baru yang menggunakan media internet, yaitu media online dan media sosial.

A. PENDAHULUAN

Di era teknologi informasi saat ini, peranan new media dan sosial media dalam dakwah sangat penting. Dakwah tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga dilakukan di Internet. Hal ini didasari oleh pengguna internet yang semakin meningkat tajam. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2015 pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 139 juta.Perkembangan pengguna internet yang kian membengkak itu seiring pertumbuhan pesat pengguna handphone dan tablet . Lonjakan pengguna internet mobil 30 persen pada tahun 2014. Dan trendnya terus meningkat.Saat ini, 40 persen penduduk bumi terhubung internet. Dengan harga perangkat mobile yang kian murah, bisa diperkirakan bahwa dalam hitungan tahun ke depan, seluruh penduduk bumi akan connected (terhubungkan).Pengguna yang luar biasa besar ini, dengan tingkat pertumbuhan yang pesat, menjadikan internet sebagai penghubung yang efektif dan murah. Namun, dari besarnya jumlah pengguna internet, tidak banyak yang memanfaatkan betul untuk kepentingan dirinya. Disinilah arti strategis media dakwah mengisi dunia internet dengan informasi yang bermanfaat.

Kebutuhan masyarakat akan informasi sudah menjadikebutuhan pokok. Masyarakat sudah disibukkan dengan aktivitas kesehariannya, mereka tidak sempat menonton televisi dan membaca koran untuk mendapatkan informasi. Bahkan kebutuhan masyarakat akan informasi di internet dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sehingga internet menjadi media alternatif alternatif untuk mendapatkan informasi. Dengan kemudahan itu, maka saat ini informasi bisa didapatkan tanpa harus terikat ruang dan waktu. Hal ini adalah kesempatan emas bagi da’i untuk memanfaatkannya sebagai media dakwah. Selain berdakwah lewat dunia nyata, da’i juga diperlukan dakwah lewat dunia maya sebagai pendukung dakwah di dunia nyata. Karena mengingat berdakwah lewat dunia nyata sangat terikat dari ruang dan waktu.

Pertimbangan utama untuk menjadikan media sosial sebagai media dakwah tentu saja berkaitan erat dengan posisi media sosial yang sangat terkemuka dan paling diminati di seluruh dunia. Memanfaatkannya sebagai media dakwah tentunya juga merupakan bagian dari proses kulturasi dakwah, yaitu dakwah yang mempertimbangkan potensi dan kecenderungan kultural masyarakat. Karena memang sejatinya dakwah harus mampu memasuki ranah kultur.Hal ini juga sekaligus menolak asumsi umum kalau para dai merupakan kelompok yang anti terhadap kemajuan.

Namun Era saat ini adalah era media sosial. Siapapun bisa mendapatkan informasi berbagai macam informasi, termasuk informasi seputar keagamaan. Yang mencengangkan adalah generasi milenial menjadikan media sosial sebagai sumber utama informasi. Ketika mereka mendapatkan informasi di media sosial, mereka ‘meyakini’ itu sebagai sebuah kebenaran.
Oleh karena itu pemerintah membuat Undang-Undang yang mengatur seputar ITE. Bahkan MUI mengeluarkan Fatwa NO. 27 tahun 2017 terkait pedoman bermedia sosial. Secara umum, fatwa tentang bermedia sosial ini dikelompokkan menjadi dua. Pertama, ketentuan hukum, dan kedua, pedoman dalam bermedia sosial. Pedomannya pun juga dirinci menjadi beberapa sub, yaitu: pedoman penyebaran, pedoman verifikasi atau tabayun, dan lainnya. Isi fatwanya adalah soal larangan dalam menyebarkan berita-berita palsu, bohong, ujaran kebencian, fitnah, adu domba, dan ghibah di media sosial.

B. PENGAJIAN ‘ZAMAN OLD’

Dakwah merupakan metode yang dilakukan oleh seorang pemuka agama (da’i) dalam menyampaikan atau menyiarkan dakwahnya. Secara etimologis dakwah itu sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a, yang diartikan sebagai mengajak atau menyeru, memanggil, seruan, permohonan dan permintaan.Majelis taklim adalah salah satu lembaga pendidikan diniyah non formal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya, serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta.

Majelis taklim sejatinya bisa dilaksanakan dimana saja, baik di rumah, gedung, atau mesjid. Majelis taklim juga dapat dihadiri siapapun tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ataupun jabatan. Inilah kenapa majelis taklim sangat dekat dan lekat dengan masyarakat. Majelis taklim sendiri mempunyai fungsi lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal.
Bahkan keberadaan majelis taklim juga diakui oleh negara melalui Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, Peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, dan Keputusan MA nomor 3 tahun 2006 tentang struktur departemen agama tahun 2006.

Dalam prakteknya, majelis taklim merupakan tempat pangajaran atau pendidikan agama islam yang paling fleksibel dan tidak terikat oleh waktu. Majelis taklim bersifat terbuka terhadap segla usia, lapisan atau strata social, dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi, siang, sore, atau malam. Tempat pengajarannya pun bisa dilakukan dirumah, masjid, mushalla, gedung. Aula, halaman, dan sebagainya. Selain itu majelis taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fleksibelitas majelis taklim inilah yang menjadi kekuatan sehingga mampu bertahan dan merupakan lembaga pendidikan islam yang paling dekat dengan umat (masyarakat). Majelis taklim juga merupakan wahana interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim, dan antara sesama anggota jamaah majelis taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu.

Begitu banyak manfaat dan keutamaan dari menghadiri majelis taklim. Baik itu secara rutin ataupun kegiatan perayaan maupun hari besar. Seperti:

1. Mendapat pahala,
“Barang siapa menegakkan shalat subuh berrjamaah di masjid, lalu ia duduk berzikir (tadurrusan) sampai matahari terbit, lalu menegakkan shalat dua rakaat, maka ia akan meraih pahala haji dan umrah. Rasulullah melanjutkan shalat “sempurna, sempurna, sempurna” (HR. At-Tarmidzi)
Dan Rasulullah SAW juga bersabda,
“Barangsiapa yang pergi ke masjid, tidaklah diinginkannya (untuk pergi ke masjid) kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan. Maka baginya pahala seperti orang yang melakukan haji dengan sempurna.” (HR.As-Suyuthi).

2. Memperoleh ketentraman
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, sedangkan mereka membaca Al-Quran dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenteraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisi-Nya.” (H.R.Muslim)
Mendapatkan ketentraman dengan menuntut ilmu dalam majelis taklim merupakan salah satu cara mendapat jiwa tenang dalam Islam. Orang yang sering mengikuti majelis taklim akan selalu damai dan hidup bahagia menurut Islam. Ia juga lebih sabar dalam menghadapi cobaan.
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Q. S. Al Fath:4).

3. Mendapatkan ampunan
Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan oleh malaikat kepada mereka. Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan – keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan,” (HR.Ath-Thabrani)
Rasulullah bersabda: “Jika kalian melewati taman surga, maka singgahlah dengan hati senang .“ Para sahabat bertanya, ”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir.” (atau halaqah ilmu) (HR Attirmidzi).

5. Mendapat naungan dari malaikat
Rasulullah SAW bersabda, “Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu karena ridha atas apa yang telah dilakukan.”

6. Didoakan seluruh mahluk hidup
Rasulullah SAW bersabda,
“Seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan memintakan ampunan kepada seorang ahli ilmu, begitu juga ikan yang ada di tengah lautan. Keutamaan seorang pemilik ilmu dibandingkan orang yang gemar beribadah seperti keutamaan diriku dibanding orang yang paling rendah dari kalian.” Kemudian Rasulullah melanjutkan sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi semut dalam lubangnya, sampai ikan, mereka bersalawat (mendoakan) kebaikan bagi para pengajar manusia. (HR.At-Tirmidzi)

7. Menjadi pewaris Nabi
Rasulullah SAW bersabda,
“Keutamaan orang alim ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang–bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mau mengambilnya, sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR.Ahmad).

8. Mendapat kemudahan menuju surga
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR.Muslim). Mereka yang rajin menuntut ilmu dalam majelis taklim akan mendapatkan kemudahan menuju surga karena ia telah mendapat ilmu tentang bagaimana cara menuju surga.

9. Setara dengan jihad
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia berjihad di jalan Allah hinggah ia kembali.” (HR At Tirmidzi). Menuntut ilmu agama berarti ikut menyebarkan ajaran Islam dan pahalanya sama dengan berjihad di jalan Allah.

10. Terlindungi dari azab Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda: ”Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah (taat kepada Allah) dan yang serupa itu, berilmu dan penuntut ilmu.” (HR At Tirmidzi).

11. Menjadi umat terbaik
Rasulullah SAW bersabda: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Q. S. Ali Imran: 79)

12. Mendapat perlindungan di akhirat
Rasulullah bersabda, “Satu diantara tujuh golongan di akherat kelak yang mendapat perlindungan Allah yaitu ,ijtama’a alaihi wa tafarroqo alaihi’, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” (HR Bukhari Muslim).

13. Berkumpul dengan yang dicintai di akhirat
Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang kelak di akhirat dikumpulkan bersama siapa yang dicintai di dunia.” (HR Muslim).

Berdasarkan keutamaan itulah banyak orang walaupun tidak semuanya berlomba-lomba untuk hadir majelis taklim, majelis dzikir dan majelis ilmu. Begitu juga dengan masyarakat jakarta dan Betawi pada khususnya. Hal ini bisa dilihat dari jumlah peserta pengajian atau jamaahnya. Ada pergeseran dalam jumlah oarng menghadiri majelis ilmu. Adapun majelis dzikir dan perayaan tetap mendapatkan tempat walaupun jumlahnya tidak berbanding lurus dengan bertambahnya populasi di Jakarta. Seperti keberadaan majelis ilmu dan jamaahnya yang ada tidak dapat menggambarkan antusiasme masyarakat dalam mengkaji ilmu agama atau paling tidak sekedar mencari berkah dengan mendatangi tempat mengaji. Banyak faktor yang terus menjadi pergumulan mengapa sangat sedikitnya jumlah orang yang ingin berperan serta dalam mendapatkan manfaat mengaji. Namun kembali lagi…keberkahan majelis taklim dan hidayah Allah lah yang menentukan bagaimana kelangsungan Majelis Taklim tersebut.

C. PENGAJIAN ‘ZAMAN NOW’

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengajian ‘zaman now’ maka kita harus mengetahui dulu peserta/jamaah majelis taklim dan bentuk media dari pengajian tersebut. Karena dengan memahami tipologi generasi milenial ini, akan diketahui bagaimana cara dan strategi menghadapi mereka sehingga dakwah Islamiyah tetap dapat tersampaikan.

1. GENERASI MILENIAL

Generasi milenial, disebut juga dengan generasi Y. Mereka adalah kelompok usia yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1981 sampai 1994 masehi. Generasi ini sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone. Ungkapan Generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Saat ini, mereka yang terkatagori milenial dalam berkomunikasi banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook, line, path, instagram, whatsapp, dan twitter. Mereka juga suka main game online. Era setelah generasi Y disebut sebagai generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1995 hingga 2010 atau 2011. Artinya, kelompok generasi Z pertama saat ini telah berusia 23 tahun atau telah lulus kuliah strata satu. Tidak sedikit yang belajar agama dari media sosial. Bahkan generasi milenial Y tetap terlibat dalam berinteraksi dalam dunia maya.

Pada masa lalu, saat melakukan analisis tantangan, hambatan dan problem dakwah biasanya berkisar pada dua urusan: internal dan eksternal. Problem internal biasanya terkait leadership, manajemen dakwah, finansial, kejumudan pemikiran, dan fanatisme (ashabiyah). Sementara problem eksternal biasanya terkait massifnya Kristenisasi, liberalisme, aliran sesat dan materialisme.
Jika ditinjau dari sifat dan karakteristik generasi milenial, maka problem internal dan eksternal itu tampak menyatu. Artinya tantangan dakwah makin besar dan serius karena sebagian sifat dan karakter generasi milenial bisa dikatakan bertentangan dengan Islam. Maka inilah generasi yang harus digarap secara serius. Umat Islam yang berada di wilayah tertinggal, termarginalkan, dan terisolisir tetap harus diperhatikan, tetapi generasi milenal, kaum muda ‘zaman now’ ini juga jangan sekali-kali diabaikan. Sebab merekalah yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan dakwah Islam di masa mendatang.

2. PENGERTIAN MEDIA ONLINE DAN MEDIA SOSIAL

a. Media Online

Media Online, Website, Media Sosial, dan Jejaring Sosial masuk dalam kategori media baru (new media) era internet. Media artinya sarana, saluran, atau channel. Online artinya terhubung ke jaringan Internet atau Dalam Jaringan (Daring) dalam bahasa Indonesia, yakni jaringan internet. Pengertian Media Online secara sempit atau dalam konteks media massa/pers adalah situs web berita, portal berita, atau suratkabar dan majalah online. Dan media online adalah media massa ”generasi ketiga” setelah media cetak (printed media) –koran, tabloid, majalah, buku– dan media elektronik (electronic media) –radio, televisi, dan film/video. Media Online merupakan produk jurnalistik online.

Media online mempunyai beberapa karakteristik seperti: Kapasitas luas –halaman web bisa menampung naskah sangat panjang, Pemuatan (posting) dan editing naskah bisa kapan saja dan di mana saja; Jadwal terbit (publikasi informasi terbaru) bisa kapan saja dan bisa setiap saat; Cepat, begitu di-upload langsung bisa diakses semua orang; Menjangkau seluruh dunia yang memiliki akses internet; Aktual, berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajian; Update, pembaruan informasi terus dan dapat dilakukan kapan saja; Interaktif, dua arah, dan ”egaliter” dengan adanya fasilitas kolom komentar, chat room, polling, dsb; Terdokumentasi, informasi tersimpan di ”bank data” (arsip) dan dapat ditemukan melalui ”link”, ”artikel terkait”, dan fasilitas ”cari” (search); Dan terhubung dengan sumber lain (hyperlink) yang berkaitan dengan informasi tersaji.

Berikut adalah jenis-jenis media online:
1) Situs Berita Online (Detik.com, Kompas.com, Tribunnews.com, Liputan6.com)
2) Situs Pemerintah (BPK.go.id, Imigrasi.go.id, Kejaksaan.go.id)
3) Situs Perusahaan (Promonavigator.com)
4) Situs E-commerce (Bukalapak.com, Tokopedia.com, Lazada.com)
5) Situs Media Sosial (Twitter.com, Facebook.com, YouTube.com)
6) Situs Blog (Maxmanroe.com)
7) Situs Forum Komunitas (Kaskus.co.id)
8) Aplikasi Chatting (BlackBerry Messenger, Line, WhatsApp)

Penggunaan media online memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang harus disikapi dengan bijak oleh para penggunanya. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan media online:

Kelebihan Media Online
1) Proses penyebaran informasi sangat cepat
2) Informasi atau data lama dapat dibuka kembali dengan mudah sewaktu-waktu
3) Bentuk konten yang disampaikan sangat beragam, yaitu teks, image, audio, video
4) Dapat diakses dengan mudah dari mana saja dan kapan saja, serta penggunaannya praktis dan fleksibel
5) Para pengguna media online dapat saling berinteraksi

Kekurangan Media Online
1) Informasi yang dimuat tidak selalu akurat dan kurang lengkap karena lebih mengutamakan aktualisasi
2) Pengguna harus memiliki perangkat yang mendukung dan koneksi internet yang stabil
3) Penggunaan media online dalam jangka panjang bisa menyebabkan mata lelah dan gangguan kesehatan mata

b. Media Sosial

I. Media Sosial
Media Sosial (Social Media/medsos) adalah bagian dari website dan media online. Media online adalah situs web yang berfungsi sebagai forum online atau sarana interaksi sosial, pergaulan, pertemanan, antara orang-orang di seluruh dunia. Forum online ini juga berfungsi sebagai sarana berbagi atau bertukar infomasi, saling komentar, dan sebagainya. Termasuk media sosial adalah Blog, Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, LinkedIn, Flickr, Line, Pinterest, Path, Whatsapp, Telegram, dll.

II. Jejaring Sosial

Jejaring Sosial (Social Networking) adalah bagian dari media sosial, yaitu berupa pemanfaatan media sosial untuk membangun jaringan pertemanan, jaringan bisnis, jaringan pergerakan, bahkan bisa membangun jaringan untuk menggelar aksi demonstrasi besar-besaran. Diibaratkan, media sosial adalah kendaraan mobil (benda).

Perkembangan kegiatan dakwah melalui teknologi komunikasi ditandai dengan munculnya media-media dakwah di media online dan media sosial dengan desain yang menarik dan isi pesan yang mudah dipahami.setidaknya media sosial telah berkontribusi terhadap percepatan gerak rakyat. Informasi yang disebarluaskan melalui media sosial menjadi pemicu bagi publik untuk “turun gunung”. Kekuatannya begitu dahsyat dalam mempengaruhi khalayak untuk bersatu padu “menekan” arogansi pribadi maupun kelompok. Maka , jangan remehkan kekuatan rakyat (people power) di media sosial. Memang, jenis ruang publik baru ini secara fisik tidak terlihat, pemakainya juga jarang bertemu. Namun, mereka sambung menyambung di ruang virtual yang melipat dunia hanya dalam seperlemparan batu. Informasi melalui medsos juga sangat potensial. Biayanya minim, namun bisa menjangkau banyak kalangan dalam waktu singkat. Yang lebih menakjubkan lagi, pengaruh medsos kian menjadi-jadi lantaran bersifat interaktif. Satu sama lain saling bersahutan.

Yang perlu dipahami benar oleh para pendakwah adalah ada banyak keunggulan keunggulan berdakwah secara online yaitu:
a) Menjangkau segmen yang luas (baca : global) dan tidak mengenal waktu
b) Menjangkau segmen yang dituju sesuai yang ditargetkan, apakah anak-anak, remaja, wanita, orang tua, keluarga, dan sebagainya
c) Berlangsung terus-menerus selama materi dakwah masih tersimpan di server. Pendakwah hanya perlu satu kali menulis atau memposting materi dakwah
d) Bisa bersifat interaktif dan individual dimana sasaran dakwah bisa bertanya dan menelusuri materi dakwah lebih dalam sesuai yang diinginkan serta mengulang materi dakwah seperti membawa ulang, mendengar ulang rekaman ceramah atau melihat ulang tayangan video.

3. KONDISI DAKWAH DI MEDIA ONLINE DAN MEDIA SOSIAL

Faktanya adalah artikel-artikel keislaman banyak dibaca. Namun tidak diketahui secara jelas siapa yang menulis. Apakah seorang yang memiliki kedalaman ilmu dan belajar puluhan tahun di jurusan keislaman atau seorang yang belajar Islam dari media sosial dan menuliskannya ulang. Itu menjadi kabur di dunia jejaring maya ini. Dulu, ketika kita ingin belajar agama maka kita harus mendatangi seorang alim ulama dan belajar langsung kepadanya. Di era media sosial, seseorang bisa ngaji dimana dan kapan saja. Tinggal buka gawai pintarnya, mereka akan disuguhi informasi keislaman yang sangat melimpah-ruah. Termasuk jika ingin belajar tafsir Al-Qur’an. Semua jenis media sosial dipakai ‘tokoh agama’ itu untuk berdakwah. Mereka berlomba-lomba untuk mengisi dunia media sosial dengan corak pemikiran dan pemahamannya masing-masing.

Dakwah saat ini tidak lagi harus dilakukan secara konvensional, mendatangi tempat-tempat tertentu, melakukan ceramah agama dan face to face secara langsung dengan pihak lain. Geliat dakwah belakangan kian marak, merambah dunia jejaring sosial yang tanpa harus bertatap muka secara langsung. Dakwah dalam jejaring sosial—atau media sosial—terasa lebih banyak diminati dan hampir setiap orang siapa saja dapat mengikuti tanpa kesulitan. Setiap juru dakwah, biasanya sudah dibekali oleh keahlian “insting” media sosial, yang bisa saja bekerja sama dengan pihak lainnya, untuk mengunggah suara atau video ceramahnya ke berbagai media sosial. “Dakwah tanpa batas” memang di satu sisi sangat memudahkan setiap orang yang gandrung ceramah-ceramah keagamaan, namun di sisi lain, dakwah bebas ini terkadang justru bisa mengubah opini seseorang, membuatnya tidak nyaman, membanggakan kelompoknya sendiri (primordialisme) atau bahkan pada tahap tertentu bisa membuat seseorang menjadi lebih radikal.

Maraknya dakwah dengan beragam pendekatan yang dilakukan oleh para juru dakwah (da’i) harusnya memberikan kesan bahwa kegiatan dakwah mampu memperkuat solidaritas sosial, bukan menambah sekat sosial yang baru. Dakwah, sebagaimana yang ada dalam ajaran Islam, cenderung mengajak kepada kebaikan dan kedamaian, bukan mengajak permusuhan atau pertentangan. Namun, maraknya kenyataan bahwa dakwah ternyata dapat melahirkan berbagai macam sekat sosial atau bahkan menimbulkan perpecahan dan permusuhan, sungguh esensi dakwah sebagai ajakan ke arah kebaikan kemanusiaan, nyata-nyata telah menyimpang dalam pelaksanaannya.Disisi lain, media sosial juga mempunyai dampak negatif bagi masyarakat pengguna internet. Salah satu contohnya ialah media sosial dapat dengan mudah ditiru dan disalah gunakan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab dan bertentangan dengan ajaran dakwah tersebut. Kemudian dakwah melalui media sosial juga menimbulkan salah tafsir. Sehingga pemahaman yang didapat memiliki kemungkinan besar berbeda dengan penyampaian pesan yang dimaksud.

Hal tersebut juga tidak terlepas dari peran media yang hanya bersifat komunikasi satu arah. Sehingga apabila hal ini terus menerus berkelanjutan, maka dapat menghilangkan makna ajaran yang sesungguhnya. Adanya interaksi dalam dakwah menjadi hal yang penting bagi pendakwah dan masyarakat itu sendiri. Dakwah secara langsung bersifat lebih interaktif dan efisien dalam penyampaian pesan dakwah.

a. DAKWAH DI MEDIA ONLINE

i. Blog (website pribadi) dan Website.

Blog adalah website yang mengandung isi dalam urutan waktu terbalik dan terdiri atas posting-posting. Dimana posting terbaru akan ditampilkan terlebih dahulu, kemudian posting yang lebih lama. Dengan kata lain tulisan-tulisan yang diposting akan dimunculkan berdasarkan tanggal, artinya tanggal tulisan terbaru akan ditampilkan paling atas atau depan. Sedangkan tulisan yang lama berada dipaling bawah.Blog pada awalnya adalah media sosial yang digunakan hanya untuk menulis catatan harian pribadi yang ada di internet. Bahkan tak jarang para blogger menjadikannya hanya sekedar “diary internet”. Beberapa tahun kemudian dari perkembangannya itu, blog digunakan untuk kepentingan pribadi baik ekonomi, sosial, politik, budaya maupun yang lainnya. Sedangkan website adalah kumpulan dari halaman-halaman situs, yang biasanya terangkum dalam sebuah domain atau subdomain, yang tempatnya berada di World Wide Web (WWW).

Perbedaan dakwah melalui blog dan website

Jika website biasa hanya menyediakan “komunikasi satu arah”, pengunjung hanya menerima apa yang mereka baca di halaman website tersebut tanpa bisa mengomentarinya (pengunjung menjadi pasif), sedangkan blog memberikan “komunikasi dua arah” pada pengunjung, konten yang di publikasi dapat diberi komentar dan komentar dapat dibalas dengan pengunjung lain atau pemilik blognya (pengunjung menjadi aktif). Hal itu akan lebih bermanfaat lagi ketika blog digunakan untuk kepentingan dakwah, begitu juga website jika digunakan sebagai media dakwah yang efektif dan efisien.

Contoh Website dan blog dakwah:

Diantara contoh website yang digunakan untuk kepentingan dakwah adalah www.yusufmansur.com milik ustadz Yusuf Mansur. Beliau menggunakan bahasa yangmemotivasi dan menyentuh hati untuk selau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Misalnya pada tanggal 23 November 2013 materi dakwah yang disampaikan di situs websitenyaadalah “Do’a, mendo’akan dan minta dido’akan”. Judul yang dikemukakan tersebut mendapatkan apresiasi dari 31 pengunjung,mayoritas pengunjungberpendapat bahwa judul dan tema tersebut setelah dibaca dan direnungi telah menyentuh hatinya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh semangat.

Contoh lain dari situs muslim yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah situs www.salingsapa.com Saling Sapa tidak hanya menyediakan situs saja, tetapi mulai menghadirkan layanan lain seperti aplikasi mobile, radio on-demand dan juga televisi berbasis satelit.SalingSapa didirikan memang untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas sehingga dipilih jalur online untuk menyampaikan dakwahnya. Dari segmentasi SalingSapa, tidak ada target dan segmentasi khusus yang dilakukan pengelola situs.dan juga tidak ada batasan konten-konten yang masuk dalam tema tertentu. Kemudian SalingSapa juga meluncurkan sebuah aplikasi baru yang berisi layanan streaming audio bernama SalingSapa Radio. Aplikasi ini disebut mengalami pertumbuhan pesat sampai sekitar lebih dari 400 persen dan sudah digunakan oleh 14 ribu orang pasca diluncurkan.

Dan https://yayasanalmuafah.wordpress.com adalah contoh blog yang terhubung dengan facebook dan instagram dari KH. Rizki Zulkarnaen. Blog ini memiliki ragam konten dakwah yang variatif. Mulai dari sejarah para ulama dan para wali, doa-doa mustajab, amalan, hizib, tarekat, sholawat, kitab-kitab salaf, kajian fiqih, dll.

ii. Channel TV berbasis satelit

Diantara contoh Channel TV berbasis satelit atau TV Online yang digunakan untuk kepentingan dakwah adalah Channel 164 yang didirikan pada 2016 ini fokus terhadap konten dakwah dalam bentuk videografis dari pengajian kiai pesantren. Pengajian mereka distreaming agar bisa disajikan kepada masyarakat luas. Channel 164 masih fokus menyebarkan konten dakwah melalui Facebook dan Youtube. Sedangkan di Instagram hanya pengumuman tentang jadwal kajian-kajian dan aktivitas yang berkaitan dengan NU.

Akhyar TV pun tak jauh berbeda dengan 164 Channel yaitu menyajikan konten-konten dakwah terbaik dari ustaz Adi Hidayat kepada masyarakat. Melalui konten yang ditampil akhyar TV ingin mengajak umat Islam kembali kepada alQuran dan sunnah tapi dengan ilmu yang benar. Akhyar TV didirikan untuk mengurangi orang menyaksikan tayangan dakwah melalui Youtube. Sebab, terkadang ketika mereka menonton di youtube terdapat konten pornografi.

b. DAKWAH DI MEDIA SOSIAL

Pada era ini pula, siapapun dengan gadget di tangan dapat menjadi seorang da’i. Atau pendakwah. Tidak penting betul apakah bacaan Qur’an-nya baik atau buruk. Atau apakah kapasitas keilmuannya di bidang Keislaman cukup dan mumpuni. Asal dia mampu merangkai kata-kata dan punya sedikit kemampuan berbicara, dia sudah sah menjadi da’i, menjadi pelaku dakwah, orang yang menyampaikan dakwah. Anomali yang begitu besar ini membuat profesi da’i itu sendiri menjadi absurd. Dalam dunia di mana batas-batas menjadi kabur, batas antara seseorang yang pandai menyampaikan dakwah, dengan orang yang memang menjalani profesi sebagai seorang da’i, atau kader dakwah, juga turut menjelma sesuatu yang samar-samar. Namun kondisi tersebut tidak lantas menjadikan kader dakwah kehilangan siginifikansinya. Kader dakwah hanya perlu merumuskan peran yang lebih efektif dengan pembeda yang unggul dari para pelaku dakwah lainnya.Selain itu mereka perlu membekali diri mereka dengan kecakapan-kecakapan khas era milenial. Agar tidak ketinggalan langkah dari generasi milenial lain yang juga ingin mengambil bagian dalam dakwah meski secara membabi buta. Seperti kecakapan dalam memanfaatkan Internet, memanfaatkan dan mengelola media sosial dan kecakapan jurnalistik. Kecakapan-kecakapan tersebut adalah kecakapan dasar yang akan akan sangat membantu kader dakwah dalam menyampaikan dakwah di tengah arus informasi era milenial yang sangat deras. Kader dakwah juga dituntut untuk dapat menyampaikan dakwah kapan pun dan di mana pun. Pada titik ini, seorang kader dakwah tidak bisa lagi hanya sebatas mahir berceramah. Namun juga mesti mahir berdialog, berdiskusi, dan bahkan juga berdebat. Memiliki kemahiran literasi sehingga dapat menyebarkan dakwah dengan tulisan yang pada era ini tidak hanya terbatas pada buku, koran, dan majalah, namun meluas ke media sosial, blog, dan kanal-kanal media massa. Serta juga kemahiran konsultasi, demi dapat menjawab berbagai macam komentar yang menghampiri. Komentar-komentar yang tidak lagi dapat dibatasi maupun disaring pada era milenial yang identik dengan keterbukaan ini. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya untuk disadari oleh kader dakwah adalah meskipun siapapun dapat berdakwah di era milenial ini, kader dakwah tetap memiliki diferensiasi-nya sendiri di mana mereka telah memiliki bekal-bekal dasar yang menjadikan dakwah mereka adalah suatu gerakan yang profesional. Dalam artian memiliki rancang bangun yang jelas, serta visi dan misi yang lengkap serta terukur dalam suatu sistem yang rapi. Setiap orang bisa saja menjadi pelaku dakwah, namun tidak setiap orang dapat menjadi kader dakwah.

Berikut adalah daftar Media Sosial yang populer di masyarakat dan mempunyai akun-akun dakwah yang sudak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

i. Line

Line adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis. LINE memiliki daya tarik memberikan update konten dakwah berupa gambar dan ulasan berkaitan dengan topik akhlak, aqidah, dan syariah, dsb. Banyaknya konten dakwah yang diupdate saat ini, namun tidak semua masyarakat menerima, memahami dan melakukan sesuai dengan apa yang disarankan oleh konten akun dakwah tersebut. Terutama pengguna line adalah anak-anak muda.

ii. Facebook

Diantara contoh berdakwah dengan medsos adalah dengan facebook. Facebook mempunyai jutaan pengguna dengan bermacam-macam latar belakang pendidikan, profesi, pekerjaan, kasta dan lain-lain. Dari pengusaha papan bawah dan atas, birokrat sampai kalangan-kalangan paling elitpun bisa ditemukan disini.Dari kalangan anak-anak hingga orang tua, dari kalangan terpelajar hingga awam. Dari artis, selebritis hingga ustadz akan ditemukan disini. Berdakwah menggunakan facebook mempunyai ragam bentuk manfaat. Walaupun oleh sebagian orang facebookdianggap lebih banyak mudlaratnya bahkan mereka mengatakan bahwafacebookadalah sumber dari kesesatan di dunia maya, internet,tetapi kita sebagai umat Islam, harus memanfaatkannya untuk kepentingan dakwah. Misalnya saling bertukar pesan-pesan dakwah yang ringan dan mudah dipahami dan mudah dilaksanakan, saling mengingatkan kepada amalan-amalan kebaikan, mengundang untuk mengikuti acara-acara keagamaan yang terdekat. Jadipada dasarnya kemajuan teknologi seperti facebook misalnya bersifat netral, maka penggunanyalah yang sangat menentukan ke arah mana ia digunakan, baik atau buruk sepenuhnya tergantung di tangan penggunanya.

Contoh akun facebook yang merupakan page dari majelis taklim adalah MAJELIS DZIKIR SYAMSI SUMUS INDONESIA. Akun ini sangat aktif menginformasikan semua kegiatan yang diselenggarakan oleh MAJELIS DZIKIR SYAMSI SUMUS INDONESIA dan ceramah-ceramah yang melibatkan Habib Mustofa bin Abdullah Alaydrus di berbagai majlis lain. Acara-acara Majlisnya perupa kegiatan mengaji kitab kuning, dzikir, pembacaan Asmaul Husna dan Ratib, ceramah umum dan ziarah wali songo. Jumlah yang menyukai page ini ada 4.918 ada dantotal yang mengikutinya ada 5.266 orang.

Dan yang selanjutnya adalah MAJLIS AL-MUWASHOLAH. Akun ini menginformasikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Al-Muwasholah dan melakukan siaran langsung atas semua Majelis yang diadakan oleh Al-Muwasholah. Hampir semua kegiatan Nabawi TV juga di posting di Halaman akun ini. Dan juga kegiatan dan ta’lim yang dibeikan oleh Habib Umar bin Hafiz juga ditampilkan disini. Ada 24.059 pengikutnya. Al-Muwasholah sendiri merupakan perkumpulan para alim ulama yang dibentuk oleh Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz pada 1327 H/ 20017 M. Visinya adalah Terwujudnya persatuan dan kerjasamaantara para ulama guna menampilkan dan menyampaikan dakwah sebagai bentuk rahmatan lil alamin. Dan misina turut andil dalam membangun dan membentukulama Rabbani di tengah ummat Islam.

iii. Twitter

Sama halnya dengan facebook, twitter digandrungi oleh semua kalangan. Hanya saja trend twitter tidak begitu diminati oleh anak usia 20 tahun ke bawah karena tamilannya yang kurak menunjukkan visualisasi yang merupakan media yang paling mudah dimengerti.

Berdakwah di bidang Twitter juga tidak ketinggalan. Seperti hanya Ustadz Felix Siauw. Da’ikelahiran Palembang ini dikenal sebagai aktivis dakwah di media sosial, karena dakwahnya di Twitter begitu populer, padat, mantap dan berpengaruh dan menyentuh hatifollower-nya. Tercatat hingga 17 Februari 2013 jumlah follower-nya mencapai 214.229 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan 19 orang hanya dalam waktu kurang dari 30 menit.

Dan contoh lainnya adalah Arisakti Prihatwono dengan dua temannya, Hadi Salim dan Iman Rivani yang merasa khawatir dengan kondisi umat Islam yang enggan memenuhi masjid terutama di waktu sholat Subuh justru menantang para pemuda muslim untuk melakukan sholat Subuh berjamaah selama 40 hari berturut-turut, lewat akun Twitter-nya, @pejuangsubuh. Kegigihan tiga pemuda ini berdakwah kepada kalangan anak muda patut diacungi jempol, karena kenyataannya masjid atau mushola kerap hanya diisi oleh orang-orang yang sudah tua ketika shalat Subuh dan hampir tak pernah ditemukan jama’ah-nya yang relatif lebih muda. Gerakan Pejuang Subuh ini jelas menginspirasi gerakan lainnya di sejumlah daerah untuk saling mengingatkan untuk menebar kebaikan, meramaikan masjid atau mushola, terutama di waktu subuh.

iv. Instagram

Contoh akun dakwah di instagram adalah ZAWIYAH.ARRAUDHAH (PONDOK PESANTREN TAHFIDZ QUR’AN AR-Raudhah wa zawiyah ar-raudhah ihsan foundation) Pimpinan: Ustadz Muhammad Danial Nafies. Akun ini menginformasikan kegiatan yang diselenggarakan oleh ZAWIYAH AR-RAUDHAH, dokumentasi kegiatan dan kunjungan ulama luar negeri, seminar dan pemberian sanad keilmuan. Zawiyah Ar-Raudhah juga merupakan tempat berkumpulnya komunitas tarekat Syadziliyyah di Jakarta.

Contoh lainnya adalah MA’HAD ALY ZAWIYAH _ Pimpinan: (ALM) ABUYA SAIFUDDIN AMSIR. Akun ini menginformasikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, Kalam Ulama, dan dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, Yayasan Terpadu Shibghatullah.

Kemudian ustadz Hanan Attaki, mempunyai metode dakwah kreatif menyasar anak-anak muda agar mereka tidak melupakan untuk tetap menebar kebaikan dan kedamaian kepada sesamanya. Ustadz Hannan menggagas konsep Pemuda Berhijrah dengan metode pendekatan kepada komunitas-komunitas bermain, seperti sepeda BMX, musik underground atau skateboard.Komunitas Pemuda Hijrah yang digagasnya, juga kerap menyebarkan konten dakwah di media sosial dalam bentuk suara, grafis atau video pendek yang menarik dan mengandung pesan-pesan moral kepada masyarakat. Semarak dakwah di media sosial pun tampaknya banyak dilakukan oleh beberapa penjuru dakwah yang konsisten menebar kebaikan dan tidak mengumbar banyak kebencian kepada pihak lain. Saat ini, komunitas yang dibangun ustadz Hannan mungkin sudah berjumlah ratusan ribu, jika melihat pada jumlah followers-nya di akun @pemudahijrah yang mencapai ratusan ribu orang. Hampir setiap pengajiannya secara konvensional dipenuhi oleh anak-anak muda yang tertarik dengan gaya dakwahnya yang cukup unik.

v. Whatsapp

Whatsapp adalah aplikasi pesan instan untuk smartphone dan memiliki fungsi hampir sama dengan sms dan bbm. Ada banyak sekali grup kajian dalam whatsapp yang dibentuk para penggiat dakwah terutama para guru untuk memudahkan jamaahnya ataupun mengajak jamaah baru untuk belajar bersama.

vi. Telegram

Fitur Channel Telegram dapat menampung jumlah anggota tak terbatas. Whatsapp tidak memiliki fitur untuk menangani penyiaran/broadcasting. Groups pada Telegram memiliki kapasitas 200 orang dan dapat diupgrade menjadi Supergroups dengan kapasitas sampai 1000 orang.Telegram dapat diakses dari berbagai gadget sekaligus baik handphone/telepon genggam, tablet, komputer, laptop dan lain-lain secara bersamaan. Telegram berbasis cloud sehingga proses sinkronisasi terjadi dengan mudah dan lancar. Telegram bisa mengirim file baik itu foto, video, file (doc, zip, mp3, dan lain-lain) dengan ukuran maksimum 1.5 GB per file. Whatsapp hanya mengijinkan foto, pdf, video maksimum 16 MB.

Media ini adalah salah satu media altenatif untuk belajar selain dari berbagai grup komunitas belajar di whatsapp yang sedang menjamur. Nah keunggulan lainnya kita bisa membuat channelbroadcast yang tidak dibatasi jumlah penerimanya. Dimanafollowernya memiliki hak penuh untuk memilih channel mana yang akan dia ikuti untuk bisa mendapatkan pesan broadcast. Kalau broadcast di whatsapp itu yang memiliki hak penuh adalah pengirimnya, dialah yang menentukan siapa saja yang akan mendapatkan pesan broadcast. Misal kita menginginkan medapatkan pesan broadcasting kita harus mendaftar dulu. Terkadang kita juga mendapat broadcast yang tidak penting melalui whatsapp, padahal kita tidak menginginkannya. Maka channel di telegram ini lebih menawarkan rasa nyaman kepada penerima pesannya.Dengan semangat dakwah yang sangat besar, grup-grup telegram ini terus melebarkan sayapnya untuk mensyiarkan Islam, ada visi mulia yang komunitas ini genggam, bahwa mereka ingin berkontribusi untuk membangun generasi yang lebih baik dan terciptanya peradaban yang mulia. Lewat komunitas ini juga, mereka berharap menjadi salah satu bagian yang memberikan manfaat untuk mencerahkan dan mencerdaskan dengan mendalami Islam sebagai jalan hidup.

Namun jika kita mencari secara spesifik grup telegram pengajian yang berbasis di DKI JAKARTA maka akan sangat kesulitan. Bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada. Seperti halnya grup whatsapp, begitu banyak jumlah peserta dari berbagai background namun memiliki satu misi dan visi tentang yang mereka sebut dengan ‘mengaji sehingga terkumpul dalam satu grup tanpa melihat batas jarak, waktu, usia, bahkan gender. Yang ditekankan adalah berkumpul untuk sama2 mengkaji dan mengaji.

vii. Youtube

Contoh channel youtubenya adalah RUMAH FIQIH di bawah Pimpinan: Ustaz Ahmad Sarwat, Lc. Ada 28.397 subscriber s.d pertengahan November 2018. Rumah Fiqih adalah channel youtube yang program utamanya adalah Yasalunak. Program Yasalunak menampilkan para guru dengan latar belakang syariah yang notebenenya lulusan timur tengah. Yasalunak merupakan jawaban seputar problematika Fiqih baik dari segi ilmu maupun kasus dalam pemahaman dan penerapan fiqih dalam masyarakat. Dibantu disiarkan langsung oleh SHARE TV, Rumah Fiqih mendapatkan tempat dimasyarakat sehingga banyak masyarakat yang mengirimkan pertanyaan dalam bentuk video dan dijawab langsung oleh para narasumber dari Rumah Fiqih Indonesia yang memang mempunyai jadwal tayang regular.

Dan contoh selanjutnya adalah MAJELIS RASULULLAH di bawah Pimpinan: (Alm) Habib Munzir Al Musawa. Dengan jumlah 56.539 subscriber s.d pertengahan November 2018. Aktifitas dakwah MAJELIS RASULULLAH ini berawal ketika Habib Munzir AlMusawa lulus dari Study-nya di DarulMustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh Tarim Hadramaut, Yaman. Beliau kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai nabi saw yang dengan itu ummat ini akan pula mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasul SAW sebagai Idola. Habib Munzir mewarnai bimbingannya dengan nasehat-nasehat mulia dari Hadits-hadits Rasul SAW dan ayat Alqur’an dengan Amr Ma’ruf Nahi Munkar, dan lalu beliau memperlengkap penyampaiannya dengan bahasa sastra yang dipadu dengan kelembutan ilahi dan tafakkur penciptaan alam semesta, yang kesemuanya di arahkan agar masyarakat menjadikan Rasul SAW sebagai idola.

c. NEW MEDIA

i. MP3, AAC, WMA, REAL AUDIOP, dll

New media dengan audio digital-nya yang diputar dengan MP3 (MP3, MPEG, Audio Layer 3), AAC (Advanced Audio Coding) WMA (Windows Media Audio), Real Audio dan lain-lain-nya menjadi media dakwah yang baik. Audio digital itu yang berisi musik-musik Islami/religi. Dengan media tersebut, kita dapatmendengarkan musik-musik Islami tersebut. Secara tidak langsung kita akan mendapatkan nilai-nilai keislaman. Contoh MP3 kitab Hilyah Tholibil Ilmi – Contoh-contoh Adab Terhadap Guru (Contoh MP3 kajian keislaman), MP3 Qori’ Ust. H. Muammar ZA (Contoh MP3 morattal al-Qur’an), MP3 Maher Zain – Baraka Allahu Lakuma (Contoh MP3 musik Islami) dan lain-lain.

ii. VCD dan DVD

New media dengan VCD (Compact Discs) dan DVD (Digital Versatile Disc or Digital Video Disc)-nya menjadi sarana dakwah yang sangat efektif dan efisien. Rekaman kegiatan pengajian dan ceramah-ceramah para mubaligh telah banyak yang disimpan dalam VCD maupun DVD sehingga dengan mudah dapat didistribusikan ke daerah-daerah sasaran dakwah yang dekat maupun yang jauh dengan cepat. Dengan media tersebut, kita dapat belajar dan menyimak pelajaran dari para ustadz di waktu lain, dengan suasana lebih santai. Seperti, VCD As-Sayyid Alwi al-Maliky: Faham-Faham Yang Harus Diluruskan, VCD Ceramah Habib Umar bin Hafidz – Bersimpuh di Pintu Sang Maha Pemberi, Paket 15 VCD Taklim Ihya Ulumuddin – Rahasia Keajaiban Hati, DVD Film Ashabul Kahfi, Kisah 309 Tahun Pengikut Nabi Isa Al Masih di dalam gua, (Subtitle Bahasa Indonesia, Durasi 9 Jam Lebih), DVD Film Omar, Umar bin Khattab, 30 Episode, Terjemah Bahasa Indonesia, Paket DVD Tausyiah Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf dan lain-lain.

iii. APLIKASI

New media dengan aplikasinya yang maju dan serba digital, dapat dimanfaatkan juga menjadi dakwah lewat jual beli dengan prinsip-prinsip ekonomi syari’ah. Sebab pemberdayaan ekonomi umat mengandung tiga misi. Pertama ialah misi pembangunan ekonomi dan bisnis yang berpedoman pada ukuran-ukuran ekonomi dan bisnis yang lazim dan bersifat universal, Kedua ialah pelaksanaan etika dan ketentuan hukum syariah yang harus menjadi ciri kegiatan ekonomi umat Islam, dan ketiga ialah membangun kekuatan ekonomi umat Islam, sehingga menjadi sumber dana pendukung dakwah Islam yang dapat ditarik melalui zakat, infak, sedekah, wakaf dan lain-lain. Seperti yang telah dilakukan oleh Ustadz Yusuf Mansur dengan situs websitenya www.wisatahati.net, serta situswww.syariahbisnis.com dan lain-lain.

iv. SOFTWARE

New media dengan software aplikasinyadapat memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatan dakwah. Hal lain yang bisa kita manfatkan adalah dalam hal efisiensi. Jika secara fisik kitab-kitab hadits yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan itu, dengan kemajuan Teknologi Informasi cukup disimpan dalam sebuah komputer/flashdisk yang mudah dibawa dan dibaca dimanapun. Dengan melakukan digitasi teks telah banyak tersedia buku-buku elektronik (e-books) yang dapat kita nikmati baik buku-buku tafsir, tarikh, kitab-kitab hadits, kitab-kitab fiqih dan lain-lain. Aplikasi tersebut antara lainAl Quran digital : memudahkan pencarian ayat dan topik-topik dalam Al-Qur’an, Maktabah syamilah dan lain-lain.

v. EMAIL

New media dengan elektronik mail (Email)nyadapat mempermudah dan mempercepat mengakses informasi dimana saja dan kapan saja berada. Dengan adanya komunikasi dalam penyampaian informasi tidak lagi dibatasi jarak maupun waktu.Dengan adanya email orang bisa menyampaikan pesan secara langsung walaupun dengan jarak yang jauh. Hal ini sangatlah efektif dan efisien dalam pengembangan dakwah Islamiyah.

4. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Demikian hasil laporan dari riset EKSISTENSI PENGAJIAN ULAMA BETAWI DI MEDIA ONLINE DAN MEDIA SOSIAL DI DKI JAKARTA. Agak kesulitan untuk mendapatkan pengajian yang berbasis di DKI JAKARTA dan yang fokus menjadikan ulama Betawi sebagai pengajar untuk majelis taklim yang mengembangkan sayap dakwahnya di media online ataupun media sosial.Begitu juga dengan akun yang membahas kitab kuning secara spesifik. Akun-akun yang tersedia adalah akun yang tidak melihat batas jarak, waktu, usia, bahkan gender. Karena yang ditekankan adalah berkumpul untuk sama-sama mengkaji dan mengaji.Hal itu bisa dilihat dari ulama Betawi yang memang masih “dikuasai” oleh ulama tua, sepuh yang disegani. Di samping itu budaya media online dan media sosial saat ini juga tidak terbatas dengan etnis dan wilayah ataupun kultur tertentu.

Yang menarik dari hasil riset ini adalah bahwa penguasaan media sosial oleh majelis taklim mayoritas dilakukan oleh golongan habaib. Selain karena mereka mempunyai jamaah yang luas dan fanatik tapi juga mereka memiliki dana yang baik untuk melakukan dakwah di medsos. Yang tentu saja membutuhkan dana seperti pulsa yang banyak, jaringan yang baik, alat yang modern dan terawat, orang yang bisa/ahli ‘memaintain’ akun-akun tersebut secara profesional dan terus-menerus. Selain para habaib ustadz-ustadz yang bergabung dalam majelis Al-Muwashola (lulusan Yaman-murid dari Habib Umar bin Hafidz) juga mampu menguasai media online dan media sosial dengan baik. Adapun ulama pribumi juga mampu bersama-sama berdakwah dengan mereka dan mendapatkan tempat di hati para followersnya. Hanya saja paham yang diajarkan lebih mengarah ke salafi (wahabi dan non-wahabi). Brand mengajak hijrah dan menjadi pribadi yang mengikuti Rasulullah adalah tema paling popular di media sosial. Dan genre baru yang belum telralu banyak namun diikuti oleh hampir semua kalangan baik habaib maupun salafi adalah tema akhlaq. Tema akhlaq ini paling banyak ditemukan dalam akun-ilmu tarekat dan hakikat.

Alhamdulillah, majelis ilmu di zaman ini begitu mudah, misalnya kajian melalui youtube atau kajian LIVE di media sosial. Namun, kita perlu bijak menyikapi fenomena ini bahwa Jika kitamampu mendatangi majelis ilmu, maka datangilah. Hendaknya jangan sampai kita malas mendatangi majelis ilmu apabila tempatnya dekat dengan kita dan mudah dijangkau. Dan Jika tidak mampu mendatanginya, misalnya sangat jarang kajian di daerahnya, barulah mengikuti kajian di youtube dan LIVE media sosial. Jangan sampai kita selalu mengandalkan kajian di youtube dan LIVE media sosial sehingga tidak pernah lagi menghadiri majelis ilmu. Bisa diusahakan, misalnya sepekan sekali atau sebulan sekali menghadiri majelis ilmu di daerah yang ada majelis ilmunya. Sekiranya tempat kajian agak jauh, masih bisa kita usahakan datang sebulan sekali atau dua bulan sekali. Majelis ilmu adalah taman surga tempat rekreasi hati dan jiwa. Karena tetap saja keberkahan ilmu itu didapat ketika kita hadir dengan fisik maupun ruh kita dalam majelis tersebut.

Dan gerakan dakwah tidak boleh bertumpu pada kekuatan satu dua orang saja. Dakwah juga tidak bergantung figure kharismatis, yang apabila figure tersebut tiada maka dakwah akan melemah. Kecakapan pimpinan/ketua majelis taklim dalam memimpin adalah hal mutlak. Namun dakwah harus berbasis ide, pemikiran dan gagasan Islam. Keterikatan anggota dan pengurus harus berdasarkan pada kesamanaan pemikiran bukan kepentingan. Apalagi ungsi medsos bukan sekedar untuk menikmati hiburan yang hanya membuat tertawa-tawa dan membuat otak berhenti berpikir saja, melainkan untuk mengambil nasehat dan ilmu serta sebagai media untuk berbagi/sedekah ilmu sehingga ia isinya tidak hanya postingan makanan, lelucon, selfie, dan curhatan saja. Namun khusus jika melakukan dakwah dan membagi ilmu di sosial media, tidak semua “teman sosmed” akan senang. Pasti saja akan ada yang merasa tidak suka dan bahkan tersinggung dengan apa yang kita posting. Entah itu karena postingan kita isi kata-katanya terlalu keras dan tidak tepat, atau mungkin juga karena teman sosmed beda pemahaman sehingga ia merasa terserang oleh postingan yang dilakukan. Bisa juga karena ia salah tafsir/salah persepsi ketika membaca postingan yang diberikan, hingga karena ia merasa bahwa kita tidak pantas memposting ilmu/dakwah karena yang memposting bukan siapa-siapa.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat berdakwah di media sosial:

1. Konten harus bermanfaat dan menunjukkan Islam yang damai. Beberapa tahun terakhir ini, kelompok Islam radikal-ekstremis, dan kelompok tekstualis memanfaatkan betul dakwah dengan media sosial ini. Mereka menyerbu dan memenuhi wacana dan konten keislaman kita di dunia maya. Ini yang menjadi salah satu penyebab keberislaman masyarakat kita menjadi kaku, hitam-putih, dan halal-haram. Kelompok-kelompok Islam moderat harus lebih giat lagi dalam berdakwah dengan menggunakan media sosial sehingga model keberislaman masyarakat kita tidak rigid.

2. Mengemas dengan menarik. Selain konten, kemasan juga harus diperhatikan dengan seksama. Sebaik apapun konten tetapi kalau kemasannya kurang menarik, maka itu tidak akan orang untuk membaca atau melihatnya. Konten harus dikemas dengan semenarik mungkin.

3. Responsif atau menyesuaikan dengan tren. Saat berdakwah di media sosial, kita juga harus memperhatikan isu-isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Informasi akan viral (dibaca, dilihat, dan dibagikan) manakala informasi tersebut sedang menjadi tren.

Foto2 kegiatan riset keulamaan di DKI Jakarta

Comment here