Artikel

Mengapa Kata Ganti Tuhan Selalu Dhamir Mudzakkar? هو الله

Mengapa kata ganti Tuhan selalu menggunakan bentuk maskulin (dhamir mudzakkar)? Tidak seka­lipun Tuhan dalam Al-Qur’an menggunakan kata gan­ti bentuk feminine (dhamir mu’annats). Kata ganti Tu­han selalu Huwa, tidak per­nah menggunakan Hiya.
Tentu di sini tidak menunjukkan Tuhan berjenis kelamin laki-laki. Bukan juga untuk melegitimasi superioritas kaum laki-laki kar­ena Allah Swt Maha Adil, tanpa membedakan kelas-kelas dalam masyarakat termasuk kelas jender. Banyak ayat menunjukkan hal ini antara lain: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (Q.S. Al-Isra’/17:70). Dalam ayat lain ditegaskan: “Hai manusia, sesungguh­nya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesung­guhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (Q.S. A-Hujurat/49:13). Dari kedua ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak membedakan jenis kelamin, la­ki-laki atau perempuan, tua atau muda, etnik manapun, asal merasa anak cucu Adam pas­ti Tuhan memuliakannya. Manusia tidak boleh menghina apa yang dimuliakan Allah Swt.

Penggunaan bentuk mudzakkar pada kata ganti Tuhan semata-mata mengikuti tradisi ba­hasa Arab yang memang selalu menggunakan kata ganti Tuhan di dalam bentuk mudzakkar. Dari semua dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga) yang ada (huwa huma hum hiya hunna), yang menunjukkan ‘jumlah’ yang satu cuman huwa dan hiya. Kalau Allah menggunakan selain kedua itu, jelas tidak akan make any sense at all karena Allah selalu menegaskan sifat ke-Esa-anNya.
Dan karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyāsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simāi muannats majāzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majāzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).
Al­lah Swt berposisi sebagai pengguna (musta’mil/ user), bukannya sebagai Pencipta dan sekaligus Pengguna (al-Wadhi’) di dalam bahasa Arab. Kosa kata berbahasa Arab yang digunakan da­lam Al-Qur’an bukan bahasa Tuhan dalam arti mencipta sendiri kosa katanya yang kebetulan mirip bahasa Arab. Kalam Allah dalam bentuk ba­hasa lafaz (al-Kalam al-Lafdhi) sudah bersentu­han dengan budaya manusia, yakni mengguna­kan bahasa Arab yang diciptakan oleh manusia yang terikat oleh lokus dan waktu.

Seperti penggunaan ‘nahnu’, ini punya kaitan erat dengan bahasa. Menurut Imamun Nahwi Sibawai, mudzakkar itu lebih ringan dari pada mu’annats karena mudzakkar adalah awal (asal) dan tadzkir bisa mencakup makna ta’nits ( كتاب سبويه ). Maksudnya, secara bahasa, mudzakkar itu adalah asal jadi tak perlu ada tanda tambahan untuk menunjukkan bahwa itu mudzakkar, sehingga jadi lebih ringan. Atau
kecuali ia punya tanda-tanda muannats atau punya sebab tertentu sehingga dia dianggap muannats, atau memang sudah lazimnya diperlakukan sebagai muannats sehingga bisa menggunakan dhomir muannats.
Secara bahasa juga, mudzakkar bisa mencakup di dalamnya makna muannats, tapi tidak sebaliknya. Dari sini, mudzakkar punya kelebihan keluasan makna.

Lebih jauh lagi, sejak dahulu kala, orang Arab selalu menggunakan kata ganti mudzakkar ‘huwa’ untuk ‘Allah’ (Tuhan semesta alam). Maka selain sudah jadi naluri bahasa, itu sudah jadi naluri akal sehat mereka bahwa Tuhan lebih tepat digunakan untukNya dhamir mudzakkar huwa dan bukan hiya. Maka, kalau Allah menggunakan hiya, bukan saja akan membingungkan secara gramatikal arab tapi juga secara sense akal sehat mereka.

Di samping itu Dzat Allah itu tidak lelaki-tidak pula perempuan. Namun
Dzat Allah itu memiliki nama-nama (asmaul husna). Salah satu nama
itu adalah Allah. Kata atau lafaz Allah itulah yang bersifat
maskulin, sedangkan Dzat-Nya tidak. Dalam bahasa Arab, kejelasan status feminin atau maskulinnya suatu kata
akan sangat berpengaruh pada grammatika kata selanjutnya. Jadi, kaidah
kebahasaan mengharuskan kita memilih satu kata untuk menyebut nama Tuhan
kita, dan kata itu, dalam kaidah bahasa Arab, tidak bisa netral.

Kata Ganti Tuhan dalam bahasa non-Arab

Sesungguhnya bukan hanya Al-Qur’an tetapi kitab-kitab suci lain khususnya kitab suci anak cucu Ibrahim (Abrahamic Religion) semuanya menggunakan kata ganti bentuk maskulin un­tuk Tuhan.

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Semua kata ganti Tuhan dalam Bi­ble menggunakan He dan tidak pernah seka­lipun menggunakan She sebagai ganti Tuhan. Hanya pernah terjadi di Toronto, kelompok fem­inis mengusulkan penggantian kata ganti Tu­han dari He ke It, jika tidak dimungkinkan She. Wacana lain ialah diusulkan He/She atau She/ He. Alasan para feminis menggugat kata ganti Tuhan menggunakan bentuk maskulin karena memberikan efek psikologis yang memberikan dukungan dan respek terhadap kaum laki-laki dan mendiskreditkan perempuan.

Dalam literatur Islam tidak pernah sekalipun diwacanakan penggantian kata ganti Tuhan dari Huwa (He) menjadi Hiya (She), atau kata gan­ti lain. Keberatan terhadap kata ganti tersebut juga belum pernah ditemukan dalam lintasan sejarah Islam. Itu disebabkan karena faham te­ologi Islam tidak penting mempersoalkan kata ganti Tuhan. Dalam tata bahasa Arab, kata ‘He‘ atau ‘Huwa‘ memiliki dua fungsi. Sebagai fungsi pria dan juga sebagai fungsi jenis maskulin. Sebelum berfungsi sebagai pria, tujuan utamanya adalah untuk mengkomunikasikan maskulin.
Penggunaan kata feminin justru akan menimbulkan masalah. Bentuk alami dari kata tersebut akan ditinggalkan, bentuk standar yang netral dalam bahasa Arab, menjadi ke dalam bentuk yang tidak netral, yaitu bentuk feminin dalam bahasa Arab.

Masalah ini tidak ada di dalam bahasa Arab, tapi, ada dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, sejak lahirnya Al Qur’an tak ada yang mengaitkan kemaskulinan kepada Allah. Bahkan di antara penyembah berhala dari kaum Arab. Mereka tak punya masalah ini, karena mereka tahu saat membicarakan yang bersifat ketuhanan, kata yang pantas untuk-Nya adalah yang tak terbatas pada suatu konotasi, dalam bahasa Arab kata itu adalah ‘huwa‘.

Dalam bahasa Inggis, ada keterbatasan dan harus gunakan kata ‘he‘ karena tak ada kata lain yang lebih baik. Pada akhirnya bagi saya, kegunaannya hanya satu, bahwa pada akhirnya takkan ada kata yang setara dengan kata Allah sesuai dengan yang diwahyukan-Nya. Disebut kata ganti apapun tetapi Sang Tuhan ialah Sang Maha Kuasa dan maha Penyayang.

Bahasa Arab juga, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyāsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majāzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majāzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.

Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.

Diolah dari berbagai sumber
Badrah Uyuni

#tuhan #dhomir #huwa #arab #asing #bahasa #makna #terjemah #zawiyahjakarta #shibghatullah #kuliah #beasiswa #kampus #islam #akselerasi #tashawwuf #ulamabetawi #saifuddinamsir #kuliahonline #belajar #ulama #guru #hijrah #maulid #nabi #muslim #muhammad #ziarah #dzikir #tarekat #awrad #wirid #hizib #muslim #haji #umroh

Comment here