Artikel

Tentang Sya’ban

Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam hitungan kalender hijriah. Secara harfiah, ia berasal dari syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan. Ada juga yang mengatakan, sya‘ban berasal dari kata as-syi‘bu’ (dengan kasrah pada huruf syin) yang bermakna sebuah jalan di gunung, yang tidak lain adalah jalan kebaikan. Sementara sebagian ulama lagi mengatakan, ‘Sya‘ban’ berasal dari kata ‘As-sya‘bu’ (dengan fathah pada huruf syin), secara harfiah ‘menambal’ di mana Allah menambal (menghibur atau mengobati) patah hati (hamba-Nya) di bulan Sya’ban. Ada pula ulama yang memahami bulan ini dengan makna selain yang disebutkan sebelumnya. Artinya bulan sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya untuk menapaki dan menjelajahi keimanannya sebagai persiapan menghadapi puncak ‘bulan Ramadhan’.

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang mulia. Berbagai macam fadhilah dan sejarah penting Islam ada di dalam bulan ke delapan dalam tahun hijriyah ini. Salah satunya, Sya‘ban merupakan bulan dimana arah kiblat dipindahkan dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka‘bah di Arab Saudi.

Dalam bulan ini juga turun Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menganjurkan pembacaan shalawat, diangkatnya amal-amal manusia menuju ke hadirat Allah SWT, dan berbagai peristiwa lainnya. Oleh karena itu dianjurkan bagi umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah, khususnya di hari ke 15 atau dikenal dengan Nishfu Sya’ban. Pada sebagian riwayat, malam Nishfu Sya’ban adalah malam paling mulia setelah lailatul Qadr.

Menilisik dari segi linguistik, Al-Imam ‘Abdurraḥmān As-Shafury dalam literatur kitab momumentalnya Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is mengatakan: “ Sesungguhnya di dalam kata Sya’ban terdapat lima huruf dimana dengan setiap hurufnya kaum muslimin dan muslimah akan diberi suatu pemberian. Dengan Syiin akan diberi ➡️
Syaraf ( Kehormatan) dan Syafaat;
dan dengan ‘Ain akan diberi ➡️
‘Izzah (Keperkasaan) dan Karamat (Kemuliaan), dan dengan Baa akan diberi ➡️
Biir ( Kebaikan)
dan dengan Alif Akan diberi ➡️
Ulfah ( Kelemahan-Kelemahan);
dan dengan Nuun akan diberi ➡️
Nuur (Cahaya).

Oleh karenanya dikatakan : Bulan Rajab adalah untuk mensucikan hati dan bulan Sya’ban ialah untuk mensucikan Ruh.

Sesungguhnya orang yang mensucikan badannya pada bulan Rajab maka dia akan mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban, dan orang yang mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban dia akan mensucikan ruhnya pada bulan Ramadhon, maka jika dia tidak mensucikan badannya pada bulan Rajab dan hatinya pada bulan Sya’ban, kapankah dia akan mensucikan ruhnya pada bulan Ramadhon ?.

Seorang ahli hikmah berkata : ” Sesungguhnya bulan Rajab untuk memohon ampun dari segala dosa, dan bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari segala cacat, dan bulan Ramadhon untuk memberi penerangan hati, sedang malam Qadar adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Imam ‘Asakir, dan Al-Baihaqy berikut.

‎خَمْسُ لَيَالٍ لَا تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَةُ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَتَيِ العِيْدَيْنِ

Artinya, “Ada 5 malam di mana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya‘ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”

‎مَنْ أَحْيىَ لَيْلَةَ العِيْدَيْنِ وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ.

Artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya‘ban, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari di mana pada hari itu semua hati menjadi mati.”

*Sunnah Puasa Sya’ban*

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Wahai Rasul, saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan sebagaimana anda melakukan puasa pada bulan Sya’ban. Kemudian Rasulullah menjawab, ‘Sya’ban itu merupakan bulan yang dilupakan banyak manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu, amal-amal dilaporkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Aku suka jika amalku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa’.”

Puasa sunnah Sya’ban ini senantiasa dilakukan Nabi SAW. Mengenai berapa lama beliau berpuasa, para ulama berbeda pendapat, karena beragam riwayat yang menjelaskan puasa Rasulullah SAW di bulan Sya’ban ini.
Pendapat para ulama tentang berapa hari puasa itu dilakukan Nabi SAW cukup beragam, yaitu:

*1. Puasa Sya’ban sebulan penuh*

Beberapa riwayat menjelaskan bahwa pada bulan Sya’ban beliau berpuasa sebulan penuh, sehingga menyambung puasanya itu dengan puasa Ramadhan.
Riwayat yang menjelaskan hal ini di antaranya adalah : Dari Abu Salamah , bahwa Aisyah telah memberitahunya, ”Rasulullah tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, sesungguhnya beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh…” (HR Bukhari ).

*2. Puasa sebanyak mungkin, tapi kurang dari sebulan*

Rasulullah SAW diriwayatkan tidak puasa sebulan penuh, tapi kurang beberapa hari.
Hal ini dijelaskan dalam riwayat shahih berikut:
Abu Salamah berkata,”Aku telah bertanya kepada Aisyah tentang puasa Rasulullah. Ia menjawab,’Rasulullah terus berpuasa hingga kami menyatakan bahwa beliau puasa terus menerus. Dan terkadang beliau terus berbuka (tidak puasa) hingga kami menyatakan bahwa beliau terus berbuka (tidak puasa). Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa dalam suatu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban. Beliau puasa pada seluruh bulan Sya’ban, dan beliau puasa bulan Sya’ban keseluruhan kecuali sedikit.” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa beliau terus berpuasa dan di akhir hadits itu dinyatakan tidak sepenuhnya selama sebulan. Entah kurang sehari, dua atau tiga hari. Tapi jelas tidak sebulan penuh.

*3. Puasa sampai pertengahan bulan*

Di samping hadits-hadits di atas ada juga riwayat yang menyatakan bahwa beliau melarang puasa sunnah bila telah memasuki petengahan bulan.

Abu Hurairah berkata,”Rasulullah bersabda,’Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Sya’ban sampai datang bulan Ramadhan.’” (HR Ibnu Hibban ).

*4. Puasa satu atau dua hari saja*

Imran bin Hushain berkata,”Rasulullah pernah bertanya kepada seorang laki-laki,’Apakah kamu telah puasa di penghujung bulan Sya’ban ini?’ Ia menjawab,’Tidak’. Sebelum datangnya Ramadhan, maka puasalah sehari atau dua hari.” (HR Muslim).

Hadits tersebut , kata Imam al-Qurthubi, merupakan pembiasaan kebaikan dari Rasulullah agar tidak terputus. Dan itu merupakan anjuran untuk orang yang mukallaf agar tidak melewatkan puasa sunnah Sya’ban begitu saja. Ketika ada shahabatnya yang tidak puasa, beliau menganjurkan puasa barang sehari atau dua hari. Karena hal itu tidak terlepas dari keutamaan puasa bulan Sya’ban yang begitu besar, sayang kalau dilewatkan.

Kalau kita perhatikan hadits-hadits di atas, bisa disimpulkan bahwa puasa di bulan Sya’ban ini hukumnya sunnah. Apabila kita mau mengikuti sunnah Rasulullah untuk berpuasa pada bulan ini, maka berpuasalah sebulan penuh, sebulan kurang, atau puasa beberapa hari saja. Dan usahakan jangan sampai terlewatkan bulan Sya’ban ini begitu saja.

“Oleh karena Sya’ban itu merupakan pengantar dari bulan Ramadhan, maka pada bulan Sya’ban dianjurkan hal-hal yang dianjurkan pada bulan Ramadhan dan jiwa menjadi terlatih untuk taat kepada Allah. Kami telah meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Anas, yang berkata, ‘’Ketika bulan Sya’ban tiba, kaum Muslimin biasanya menekuni mushaf dengan membaca al-Quran. Mereka juga mengeluarkan zakat harta benda mereka agar membantu orang yang lemah dan miskin dalam menjalani puasa Ramadhan.’’ (al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’rifah, hal 258)

*Setelah malam nisfu Sya’ban, apakah masih ada kesunnahan yang bisa kita lakukan?*

Apakah pada tanggal 16 Sya’ban dan seterusnya masih dianjurkan untuk berpuasa?

Terkait persoalan ini, ulama berbeda pendapat karena ada satu hadis yang melarang puasa setelah nisfu Sya’ban, dan dalam riwayat al-Bukhari, Nabi juga melarang puasa dua atau tiga hari sebelum Ramadhan. Syekh Wahbab al-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan:

قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص. ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد

“Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahar, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Sya’ban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari nisfu Sya’ban. Dalil mereka adalah hadis, ‘Apabila telah melewati nisfu Sya’ban janganlah kalian puasa’. Hadis ini tidak digunakan oleh ulama mazhab Hanbali dan selainnya karena menurut Imam Ahmad dhaif.”

Ulama melarang puasa setelah nisfu Sya’ban dikarenakan pada hari itu dianggap hari syak (ragu), karena sebentar lagi bulan Ramadhan tiba. Khawatirnya, orang yang puasa setelah nisfu Sya’ban tidak sadar kalau dia sudah berada di bulan Ramadhan. Ada juga ulama yang mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban dilarang agar kita bisa menyiapkan tenaga dan kekuatan untuk puasa di bulan Ramadhan.

Meskipun dilarang, ulama dari mazhab Syafi’i pun tetap membolehkan puasa sunnah bagi orang yang terbiasa mengerjakannya. Seperti mengerjakan puasa senin dan kamis, puasa ayyamul bidh, puasa nadzar, puasa qadha, ataupun orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa dahar.

Sementara menurut ulama lain, khususnya selain mazhab Syafi’i, hadis di atas dianggap lemah dan termasuk hadis munkar, karena ada perawi hadisnya yang bermasalah. Dengan demikian, sebagian ulama tidak melarang puasa setelah nisfhu Sya’ban selama dia mengetahui kapan masuknya awal Ramadhan. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan:

وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

“Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah nishfu Sya’ban dan mereka melemahkan hadis larangan puasa setelah nishfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar”

Dengan demikian, ulama berbeda pendapat terkait hukum puasa sunnah mutlak setelah nisfu Sya’ban, karena mereka berpeda pendapat dalam memahami dan munghukumi hadis larangan puasa setelah nisfu Sya’ban. Akan tetapi, pada sisi lain, mereka sepakat akan kebolehan puasa sunnah bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, seperti puasa senin kamis, puasa daud, puasa dahar, dan lain-lain. Dibolehkan juga puasa bagi orang yang ingin membayar kafarah, qadha puasa, dan orang yang ingin melanjutkan puasa setelah puasa nisfu Sya’ban.

*Shalat Nishfu Sya’ban*

Pada malam nishfu Sya’ban, ditutuplah “Buku Catatan Perjalanan Hidup” setiap manusia. Dan akan dibuka lembaran buku baru untuk tahun yang akan datang. Kita berharap, akhir dan awal dari lembaran buku catatan hidup kita diisi dengan amal kebaikan.

‘’Mengenai keutamaan malam nishfu Sya’ban, ada sejumlah hadits-hadits lain yang diperselisihkan oleh para ulama. Mayoritas ulama menilai dha’if. Sebagian hadits-hadits ini dishahihkan oleh Ibn Hibban dan diriwayatkan dalam Shahih-nya. Hadits terbaik di antara hadits-hadits tersebut adalah, hadits “Aisyah yang berkata, ‘’Aku kehilangan Nabi, lalu aku keluar mencarinya, ternyata beliau ada di makam Baqi’, sedang mengangkat kepalanya ke langit. Beliau berkata, ‘’Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya berbuat sewenang-wenang kepadamu?’’.

Aku menjawab, ‘’Wahai Rasulullah, aku mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu.’’ Lalu Nabi bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia, lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya melebihi jumlah bulu-bulu kambing suku Kalb.’’ Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad al-Tirmidzi dan Ibn Majah.’’ (Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 261)

Disunnahkan pula agar pada siangnya untuk berpuasa.

Niatnya :

اصلى سنة نصف شعبان ركعتين مأموما لله تعالى.

(Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala. Allahu akbar.

Banyaknya : 2 rakaat (1 kali salam) lebih baik berjamaah.

Bacaannya: Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun

Pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas

Membaca surat Yasin 3x sesudah salam (selesai sholat sunnah Nisfu Sya’ban tsb,) dengan tujuan sebagai berikut:

Setelah pembacaan surat Yasin pertama membaca do’a agar dipanjangkan umurnya untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT, sebanyak-banyaknya.
Setelah pembacaan surat Yasin kedua membaca do’a agar rezeki yang banyak lagi halal kepada Allah SWT agar dapat kiranya dibuat bekal/sangu melakukan ibadah kepadaNya
Setelah pembacaan surat Yasin ketiga membac do’a agar diberikan kekuatan iman dan Islam

*Permohonan-permohonan yang dipanjatkan pada nishfu Sya’ban:*

Dianjurkan pada malam pertengahan Sya’ban memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar.

Ya Allah andai kata telah ditakdirkan di sisi Mu akan daku dalam buku Azaly, bahwa aku celaka dan sedikit rezeki, terusir dan diharamkan akan daku maka hapuskanlah (apa-apa yang tercatat/tertulis dalam buku Azaly itu) dengan kemurahan-Mu. Dan tetapkanlah di sisi-Mu dalam buku Azaly itu (tukarkanlah akan keadaan di azalyku itu) dengan kebahagiaan lagi memperoleh rezeki yang dipergunakan untuk kebaikan, sesungguhnya Engkau berkata dan kata-kata-Mu adalah benar; sebagaimana tercantum di dalam Kitab-Mu yang Engkau turunkan atas lisan Nabi-Mu yang diutus (Muhammad saw.), “Yakni dihapuskan Allah barang yang dikehendakinya (perkataan/pernyataan yang menyimpang) dan ditetapkan-Nya di sisi-Nya di Azaly”.

Ya Allah dengan keagunganMu pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia / berkat ini, yang memisahkan kepadanya tiap-tiap perkara/keadaan dan urusan yang tepat dan yang dipastikan, hindarkan ya Allah kami dari bala’i/musibah yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui dan Engkaulah yang lebih mengetahui dengannya, sesungguhnya Engkau Maha Agung dan Pemurah “. Washallallahu ‘alaasayyidina Muhammadin wa alaa aalihii washohbihii wasallam. Walhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Orang-orang saleh terdahulu membaca Al-Quran lebih banyak pada bulan Sya‘ban. Kebiasaan mereka kemudian ditandai oleh masyarakat. Tidak heran kalau masyarakat menamai bulan Sya‘ban sebagai “bulan para pembaca Al-Quran” dan “bulan Al-Quran”.

Selain tadarus, umat Islam juga dianjurkan untuk banyak bersedekah kepada kalangan dhuafa. Hal ini dimaksudkan agar kelompok penghasilan rendah dan tidak menentu dapat menyambut gembira bulan puasa sebagaimana umat Islam menengah ke atas.

قال الحافظ ابن رجب الحنبلي رحمه الله تعالى روينا بإسناد ضعيف عن أنس رضي الله عنه قال: كان المسلمون إذا دخل شعبان انكبوا على المصاحف فقرأوها وأخرجوا زكاة أموالهم تقوية للضعيف والمسكين على صيام رمضان

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahumullah mengatakan, ‘Kami menerima riwayat dengan sanad dhaif dari Anas RA yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya‘ban umat Islam tertunduk pada mushaf Al-Quran. Mereka menyibukkan diri dengan tadarus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhuafa dan orang-orang miskin dalam menyongsong bulan Ramadhan,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban?, cetakan pertama, 1424 H, halaman 44).

*Pengampunan Dosa*

Walaupun malam nisfu Sya‘ban adalah malam ampunan, namun tidak serta merta semua dosa bisa diampuni pada malam itu. Tidak serta merta juga orang-orang yang tidak melakukan apa-apa pada malam ini mendapat ampunan.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal.

يطلع الله الي جميع خلقه ليلة النصف من الشعبان فيغفر لجميع خلقه الا لمشرك او مشاحن

Artinya, “Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan.”

Dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar jtidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti nisfu Sya‘ban, juga termasuk di saat lainnya. Seperti dosa syirik, munafik, membunuh orang tua, berzina, dsb

Hal ini jelas disebutkan dalam hadits shahih riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Ibnu Mas‘ud.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ :« أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ». قَالَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ :« أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ ». قَالَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ :« أَنْ تُزَانِىَ حَلِيلَةَ جَارِكَ »

Artinya, “Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling berat?’ Kemudian Rasulullah menjawab, ‘menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (Syirik).’ Kemudian Abdullah berkata, ‘Apalagi wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi wahai Rasul?’ ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.’”

Diolah dari berbagai sumber
Badrah Uyuni

#zawiyahjakarta #shibghatullah #kuliah #beasiswa #kampus #islam #akselerasi #tashawwuf #ulamabetawi #saifuddinamsir #kuliahonline #belajar #ulama #guru #hijrah #maulid #nabi #muslim #muhammad #ziarah #dzikir #tarekat #awrad #wirid #hizib #muslim #haji #umroh #syaban #puasa #nishfu #badrahuyuni

Comment here