Artikel

Wirdul Latif bersama Zawiyah Jakarta

Al Wirdul Latif bersama Zawiyah Jakarta

Abuya KH. Saifuddin Amsir

A Zawiyah Jakarta atau Betawi Corner dan Al-Asyirah Al-Qur’aniyyah

Zawiyah Jakarta

Istilah Zawiyah Jakarta di cetuskan pertama kali oleh KH. Saifuddin Amsir. Istilah ini yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Sudut Jakarta’. Istilah ini sarat dengan makna sufistic: penggunaan kata Zawiyah ini lebih diharapkan menjadi tempat untuk mencari ilmu dan keberkahan yang ada pada Zawiyah kaum Sufi. Zawiyah Jakarta sebagai sudut spiritual diharapkan dapat mencerahkan dan membebaskan umat dari kesempitan hati yang berada di tengah- tengah pertarungan hidup dan bergulat dengan segala persoalanya; sudut spiritual yang menjadi rumah bagi siapapun yang tersingkir dan merasa kalah oleh kekuatan dan tipu daya duniawi.

Keberadaan Zawiyah Jakarta pada mulanya dilatarbelakangi oleh kegelisahan beliau atas maraknya aliran atau ajaran sesat dan menyesatkan di Ibukota Indonesia, Jakarta. Majelis Taklim dan halaqah yang pada umumnya ada di tengah masyarakat belum cukup ampuh untuk menjadi oase penghilang dahaga spiritualitas umat Islam yang mengikuti aliran dan ajaran tersebut. Sistem dan metode yang telah dikembangkan oleh para ulama dan habaib -yang mengerti persis corak, kultur, kondisi sosiologis dan tuntutan masyarakat Betawi – ini telah menjadi dasar yang tak lapuk oleh zaman dalam mempertahankan eksistensi agama Islam di tengah masyarakat Betawi.

Sistem halaqah atau majelis ta’lim merupakan keunggulan yang semoga akan terus dipelihara dalam menegakkan dakwah dan kaderisasi ulama di tanah Betawi.

Pergeseran zaman dan perputaran sejarah tentu membawa riak-riak yang mempengaruhi struktur dan gaya hidup masyarakat Betawi, tetapi tetap tidak mengubah akar mereka sebagai penganut Islam yang memang secara sejarah sosialnya Betawi itu identik dengan Islam.

Betawi Corner

Sedangkan istilah Betawi Corner beliau cetuskan kemudian sebagai sudut intelektualisasi yang melengkapi sudut spritualitas. Diilhami dengan menggejalanya aliran-aliran Islam yang ‘condong kepada pemikiran Barat’ dan bermunculannya corner-corner di pusat pendidikan dan Kebudayaan; seperti British Corner, American Corner, dll. Zawiyah Jakarta[1] hadir dengan tujuan inti agar para santri dan diharapkan pula para Cendikiawan ‘tidak terlibat dan keluar’ dari pemikiran Islam yang telah ‘tercemar’ itu. Perubahan yang diusung bukanlah Perubahan pemikiran yang sebelumnya sudah ada untuk peningkatan kemajuan peradaban Islam tapi lebih kepada penipisan Islam.[2]

Menurut Abuya, dengan keberadaan corner tersebut yang kelihatannya untuk memperkenalkan budaya dan wawasan dari nama corner tersebut, tapi dampaknya lebih membuat orang menjadi menjauhi al-Qur’an. Sayang, kebanggaan Jakarta dengan keislamiannya harus luntur oleh ‘kerusakan-kerusakan’ yang ditimbulkan oleh corner-corner yang banyak hadir dalam mengaduk-aduk keistimewaan maupun makna dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Oleh karena itu, Zawiyah Jakarta/ Betawi Corner diharapkan dapat menjadi wadah pergerakan dakwah cultural yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Betawi saja juga masyarakat luas.

Karena corner terdengar kebarat-baratan, maka kata zawiyah lebih dipilih karena konotasi peribadatannya lebih terlihat daripada kata corner yang berkonotasi ‘mojok’. Betawi corner yang jika disimpangkan artinya Betawi mo mojok. Betawi juga diganti dengan Jakarta yang lebih heterogen. Kebutuhan yang ada di Jakarta itu agar bisa lebih hidup dengan kata zawiyah agar kehidupan yang agamis lebih bisa muncul.

Perhatian besar KH. Saifuddin Amsir terhadap kerusakan ummat di Jakarta sangat terlihat pada penjelasannya yang terus memperjuangkan dakwah Islam melalui Zawiyyah Jakarta. Zawiyah Jakarta merupakan sebuah wadah belajar dan diskusi bagi para santri Betawi dan yang ada di Betawi untuk lebih mendalami Aqidah dan ajaran Ahlussunnah Waljama’ah, dengan bersandarkan pada tradisi salaf tetapi bukan aliran salaf yang belakangan ini kembali marak ditengah masyarakat melainkan tradisi lama yang belum diintervensi oleh methodology Barat. Dengan menitikberatkan pada pemahaman akan sendi-sendi Al-Qur’an dan Al-hadits, ilmu pengetahuan, praktek, keadaan sosial kemasyarakatan, izzah sebagai muslim, dan diperkokoh dengan nilai-nilai ekonomi syari’ah sehingga lebih berdaya guna dan menyesuaikan zaman.

Menjadi satu bagian dari upaya Zawiyyah Jakarta yang dibina oleh Abuya Saifuddin Amsir untuk mengembalikan posisi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah sebagai pijakan dari kehidupan ummat.[3] Sehingga diharapkan dalam perkembangannya Zawiyah Jakarta akan ditujukan sebagai zawiyah bagi para santri dan murid untuk bermunajat, belajar, berdiskusi, dan beramal akan hakikat sejati dari Aqidah Islam, Al-Qur’an, Al-Hadits, dan esensi dari Filsafat islam.[4]

Zawiyah Jakarta juga menjadi komponen yang sangat penting untuk menggolkan cita-cita Yayasan Terpadu Shibghatullah yang berpuncak pada terbentuknya keluarga qur’any. Hal ini menjadi suatu realita yang tidak terelakkan keberhasilannya walaupun masih dalam bentuk potensi-potensi yang ingin diwujudkan. Langkah-langkah perjuangan Abuya untuk mencapai puncak itu notabenenya dirajut dalam bentuk rajutan pendidikan dan dakwah. Di dunia pendidikan, abuya pernah menjadi guru agama mulai dari tingkat TPA, MTs, MA, hingga Perguruan Tinggi. Pada awal masa mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Jakarta), beliau pernah diberi mata kuliah Filsafat Logika yang hanya diberikan pada semester IX dan X. sedangkan di Ma’had Aly Al-Arbain Al-Asyirah As-Syafiiyah yang diasuhnya diikuti oleh beberapa mahasiswa tingkat S2. Ini berpuncak pada pengajaran di tingkat pasca sarjana dan majlis taklim. Dan di dunia dakwah Abuya juga mengajar dari tingkat pemula sampai tingkat Masaikh di Jakarta yang berpuncak pada mengajar Majlis Taklim di rumah Gubernur DKI Jakarta Bapak DR. Ing H. Fauzi Bowo. Sementara pengajaran yang Abuya lakukan untuk tingkat internasional, Alhamdulillah Allah juga sudah memberikan ni’mat kepadanya dengan keberhasilannya dalam menyertakan sembilan orang muridnya untuk mengikuti dauroh-dauroh yang diselenggarakan Syeikh Hasan Hito (Ulama asal Syiria yang juga mengelaborasi system pemikiran Islam Sunni di tengah-tengah dunia Barat) dan timnya yang merupakan seorang pakar pada bidangnya. Sementara Konferensi-konferensi Islam yang bertaraf internasional juga acap kali dikunjunginya sehingga Alhamdulillah saat ini dia menjadi salah seorang yang sangat dilirik oleh Majelis Taqribul Madzahib (Majlis Antar Madzhab yang mencoba untuk menemukan titik temu antara Sunni dan Syiah), yaitu sebuah usaha yang tak kunjung henti yang dilakukan muslimin Syiah sehingga Abuya dapat berperan didalam organisasi itu.

Abuya KH. Saifuddin Amsir pernah dipertimbangkan untuk menjadi salah satu pimpinan dari gerakan ini di Indonesia mendampingi Bapak DR. Quraish Shihab, seperti juga dia pernah ditawarkan untuk menjadi ketua redaksi jurnal filsafat dari UNAS milik ST. Taqdir Ali Syahbana (1990) menngantikan Nurcholis Madjid yang pada saat itu sedang memiliki kesibukan di luar negeri. Tetapi, seperti yang sudah-sudah, tawaran-tawaran kerja sama yang terlalu berbau politik sering gagal berdekatan dengan Abuya.

Al-Asyirah Al-Qur’aniyah

Dari berbagai pengamalannya dalam berinteraksi dengan jama’ah dan problematika/kemelut kehidupan yang melanda, terutama dengan globalisasi, kondisi dan gejala dimana Al-Qur’an sebagai pedoman hidup ummat tidak lagi mendapat tempat secara utuh di lembaga-lembaga formal, KH. Saifuddin Amsir menyimpulkan bahwa solusi yang tepat adalah dengan menerapkan/membentuk “Asyirah qur’aniyah (keluarga Qur’any)”, yaitu keluarga yang seluruh perilakunya bersandarkan pada ajaran Al-Qur’an.

Oleh karena itu beliau kemudian mengusung kelahiran Al-Asyiroh Al-Qur’aniyyah. Sebuah institusi pendidikan untuk mendidik generasi pencinta dan penghafal Al-Qur’an yang digagasnya, salah satu anaknya sendiri telah menjadi hafidz sejak berusia 13 tahun. Institusi ini insya Allah menerapkan kurikulum baru dengan menggabungkan kurikulum berbasis perpaduan antara ilmu dan amal yang dititikberatkan pada I’jazul Qur’an, Khawasul Qur’an, Aurad, dan Do’a-do’a Qur’ani.

Selain gagasan Al-Asyirah Al-Qur’aniyah, KH. Saifuddin Amsir mengajukan hajat kemanusiaan terhadap adanya “Pasukan Langit” untuk mengatasi segala kemelut. Gagasan ini dilatarbelakangi fakta sejarah bahwa zikir dan doa, menempati tempat yang penting dalam perjuangan Islam. Bertebaran contoh-contoh historis dari peran dzikir dengan formulasi yang ditawari oleh para Auliya’ di seluruh dunia Islam sepanjang sejarah dan terakhir contoh-contoh ini mencuat di Libya dengan Omar Mukhtar, di Indonesia dengan Syaikh Abdul Wahhab Rokan, KH. Sholeh Abbas Buntet Cirebon, KH. Hasyim Asyari Tebu Ireng, Kiyai Falak Ya’qub Ujan Bogor, KH. Nur Ali Bekasi, dan ribuan ulama lainnya, begitu juga dengan panglima-panglima pasukan langit di Indonesia yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Belakangan, dunia digemparkan oleh kegagalan pasukan elit Amerika yang ‘digagalkan’ oleh dzikir dan tasbihnya al-Imam Ayatullah Ruhullah al-Khumaini pemimpin Islam Syiah, Iran. Meskipun operasi militer yang bernama “Blue Light” ini dipimpin langsung oleh Jimmi Carter presiden Amerika Serikat dari Gedung Putih untuk menyerang Iran, namun Amerika kalah melawan Iran. Dan ini merupakan peristiwa yang meluluhkan kesombongan intelligensia dan militer Amerika.

Gagasan “Keluarga Qur’any” dan “Pasukan Langit” sebenarnya tidak berbeda. Keduanya dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat –terutama kaum lemah yang terzhalimi- dengan zikir dan doa yang diharapkan mampu dan handal dalam menghadapi orang-orang yang akan berbuat makar yang dapat memperburuk kehidupan orang lain.

Selain itu, Abuya KH. Saifuddin Amsir juga terinspirasi dengan keterkaitannya dalam salah satu kunjungannya ke luar negeri untuk aktifitas dakwah dan syiar Islamnya, bahwa dalam konfrensi Islam yang diselenggarakan di Libya: para ulama dan Ilmuwan muslim menyepakati perlunya mempertajam ide- ide sufisme Islam bagi generasi muda. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda Muslim tidak makin tercabut dari akarnya.[5] Konferensi juga menyerukan agar organisasi- organisasi Islam yang berskala nasional maupun internasional dan otoritas keagamaan di tiap- tiap negara untuk bekerjasama dan berkoordinasi untuk menghadang gelombang degradasi moral, eksploitasi secara serampangan, dan penyebaran ide- ide anti agama.

B Al-Wirdul-Latif

AlWirdul Latif adalah wirid[6] harian yang dibaca pada tiap pagi dan petang. Ini berarti orang yang mengamalkan Al-Wirdul Latif memulai dan mengakhiri harinya dengan Wirid tersebut. AlWirdul Latif merupakan sebuah wirid (kumpulan doa) yang disusun oleh Ulama besar sufi Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad Radhi Allahu Anhu ( 5 Safar 1044 H/1624 M-7 Zulkaidah 1132 H/1712 M) [7]. Imam Al-Haddad juga menyusun beberapa Wirid terkenal seperti AlWirdul Kabir. Karena panjangnya susunan AlWirdul Kabir, maka beliau menyusun Wirid yang lebih ringkas dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk membacanya. Seperti karangannya yang lain,[8] Imam Al-Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang mengandung I’jaz dan Khawas. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid ringan) sebab enak dibaca dan dirasakan di hati kita. Wirid ini baik untuk dibaca dalam memulai aktivitas sehari-hari, karena didalamnya terdapat doa

اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ

Ya Allah, kami memohon kepada–Mu kebaikan hari ini, pembukaannya, kemudahannya, cahayanya, berkatnya dan petunjuknya.

اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ، وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ.

Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada–Mu daripada keburukan hari ini dan keburukan apa yang terdapat didalamnya. [9]

Demikian disebutkan oleh Abuya KH. Saifuddin Amsir, “Wirdul Latif merupakan bagian dari khazanah yang penuh dengan ayat-ayat yang mengandung khawasil qur’an (khasiat-khasiat al-Qur’an) dan hadits Rasulullah SAW. Hal ini terbukti dari banyak orang yang telah mengamalkannya dengan ikhlas.”[10]

Pada dasarnya Nabi Muhammad SAW tidak menetapkan rangkaian wirid tertentu yang harus dibaca oleh ummatnya, namun Nabi SAW meninggalkan formula-formula khusus yang bisa diamalkan. Pada bagian akhir dari bukunya yang berjudul Qanun At-Ta’wil, Ibnu Arabi menyatakan bahwa tugas setan adalah membawa manusia melupakan Allah SWT, maka kita sebagai hamba harus senantiasa meminta pertolongan Allah agar tetap senantiasa mengingatnya dengan dzikir-dzikir.

Mengingat pada dasarnya isi dari seluruh bacaan wirdul latif adalah diangkat dari sumber-sumber sunni, adalah menjadi bijak apabila beliau menambahkan wiridan-wiridan ini yang diambil dari luar sumber-sumber sunni. Itulah sebab yang membuat beliau memilih doa-doa dan wirid-wirid dari sumber-sumber syii disertakan disini agar kerja-kerja penuh kesungguhan yang ia tekuni belakangan ini, -yaitu mengusung misi pendekatan antar mazhab di dalam yang dilakukan secara bersemangat oleh tokoh-tokoh Islam Syiah-. Dan yang beliau itu ternyata sangat ta’at karena materi doa-doa dan wirid yang beliau pilih disini diambil dari wiridan al-Imam Ali Zainal Abidin di dalam Kitab As-Shahiifah As-Sajjaadiyah Al-Kamilah yang tak lain dan tak bukan adalah kakek moyang dari al-Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad sendiri.

Dan dalam kenyataannya, tak ada kekuatan dari kalangan syiah untuk menyalahkan dan menganggap sesat kaum sunni, dalam hal ini terbukti dengan banyaknya musuh Islam yang dirobohkan oleh kaum dengan munajat dan dzikir-dzikir mereka seperti yang terjadi pada diri Umar Mukhtar di Libya, sebagaimana tidak ada kekuatan pada kalangan sunni untuk menganggap syiah sesat dan salah karena terlalu banyak munajat-munajat syiah dan wirid mereka yang berhasil menghancurkan musuh sebagaimana yang terjadi pada diri al-Imam Khumaini saat menghancurkan operasi militer Amerika Jimmi Carter.

Selama dzikir-dzikir dan doa-doa itu tidak dikotori oleh muatan-muatan negative. Inspirasi yang diberikan oleh Prof. DR. Fazeli (seorang Al-Musawi –keturunan Nabi Muhammad SAW- dari Iran yang saat ini menjadi Ketua Islamic College Jakarta pada kedatangannya di Ma’had Aly Zawiyah Jakarta) semakin mengukuhkan pemikiran Abuya bahwa selama ini yang menimbulkan perpecahan Sunni Syiah adalah terjadi dalam hal-hal yang bukan primer bahkan cenderung isu-isu ‘hawamisy’ (hal kecil) dan kita bahkan masih tetap berkutat dalam persoalan-persoalan yang menebabkan kita kehilangan potensi dalam kemandulan gerak yang panjang dan tidak mengkondisikan sebuah lingkungan yang produktif. Sementara dinamika kehidupan saudara kita orang syiah ada pada posisi yang dapat dikatakan lebih unggul jika melihat Iran sebagai contoh. Dimana sebagai Negara mayoritas syiah yang kurang lebih selama 30 tahun diembargo oleh dunia Barat, Iran tetap bertahan bahkan sanggup menjadi Negara berkembang yang menghasilkan dokter terbanyak di dunia karena tingginya perhatian terhadap pendidikan sehingga seluruh jenjang sekolah yang diadakn oleh pemerintah gratis. Dunia kesehatan pun mendapat perhatian yang tidak main-main untuk seluruh masyarakatnya, dst.

Selain itu ada beberapa alasan kuat yang kemudian akan dipaparkan dibawah mengapa Abuya sangat berkesungguhan untuk menjadikan wirid ini sebagai salah satu amalan penting yang menjadi wiridan umat sekaligus menjadi dasar penting yang ketika dilebarkan penjelasannya ternyata begitu sarat dengan muatan-muatan filosofis dengan contoh-contoh I’jaz yang melemahkan kreativitas akal manusia untuk menentangnya juga Alwirdul Lathif ini semarak dengan Khawas Al-Qur’an yang nyaris selalu ada dalam ayat dan hadits yang disebutkan meniscayakan kepastian yang baru lagi bahwa I’jaz, Khawas dan filosofi ayat menemukan perkembangannya pada kitab-kitab yang dihasilkan oleh para Sulthonul Ulama seperti Imam Al-Ghazali, Imam Ibn Katsir, Imam Ibn Al-Jauzy, Abdullah Ibn As’ad Al-Yafi, dll.

Dan beliaupun memutuskan untuk memilih, mengamalkan, mensyarahkan dan memasyarakatkan AlWirdul Latif. Beliau mensyarahkan wirdul latif ini di bawah Zawiyah Jakarta yayasan terpadu Shibghatullah yang memang sedang beliau kembangkan untuk memberi kader-kader ulama yang mumpuni dalam kajian-kajian ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits.

C. Syarah AlWirdul Latif

Di dalam DVD yang ia sebarkan ke tengah-tengah umat secara global, ia menjawab lima inti alasan dasar memilih wirdul latif untuk dapat diamalkan secara luas oleh masyarakat. Dalam jawaban globalnya Abuya KH. Saifuddin Amsir mensyarahkan AlWirdul Latif yang tidak hanya memperkuat tapi juga dapat membentuk keluarga qur’ani.

5 pertanyaan dan jawabannya

Mengapa Abuya KH. Saifuddin Amsir lebih tertarik untuk memasyarakatkan AlWirdul Latif daripada aktifitas Abuya sebelumnya yang lebih banyak berkutat dengan pendidikan dan pemikiran Islam dan lintas agama? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadzah Dra. Hj. Nur’aini AS)

Jawab:

Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang kita pelajari mengandung Khawas maupun I’jaz dan ada sekitar kurang lebih terdapat 700 ayat yang terangkum dalam AlWirdul Latif.

I’jaz: hal yang melemahkan orang dalam menandinginya. Khawas: kekhususan yang ada dalam ayat dan hadits yang dapat memunculkan sesuatu yang spektakuler.

AlWirdul Latif bagian dari khazanah yang penuh dengan ayat-ayat kental dengan kekhasiatannya yang terbukti dari orang-orang yang mewiridkannya. Bila orang menerapkan dan mengamalkan (mewiridkan) apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al-Quran maka semua permasalahan akan dapat diselesaikan. Maka Zawiyah Jakarta mencoba dan berusaha untuk mengkaji dan memunculkan ayat-ayat I’jaz dan Khawas ini agar dapat difahami dan diamalkan oleh masyarakat luas. Al-Qur’an yang sudah disingkirkan dan Al-Hadits yang sudah dibuang-buang akan kita munculkan dengan menekankan pada I’jaz dan Khawasnya.[11]

Apakah ada marhalah pendidikan yang tidak berharap untuk diakui secara structural (legal, Negara) dan tidak mengakui kalau perlu? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz Drs. H. Zainal Abidin)

Jawab:

Ada banyak jalan menuju Allah, yaitu (memahami) dengan Hikmah seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan dan para ahli dzikir, dengan Nasihat yang baik seperti yang diterapkan oleh para akademisi dan pemimpin pesantren (ustadz/ah), dan dengan Berdebat.

Wirid dan dzikir yang banyak diamalkan oleh masyarakat luas tidak akan cukup jika hanya dengan membaca ataupun mengkaji literature tertentu. Ia juga harus dipandu oleh guru yang ada dalam maqam-maqam tertentu. Banyak orang yang punya kesempatan untuk mengkaji lebih dalam wirid dan dzikir ini dengn kajian yang baik dan ikhlas Lillahi Taala disbanding orang yang ingin menelitinya karena lebih kepada tujuan duniawi. Namun mukhlisin seperti itu menjadi terhambat karena minat untuk menyelami ini sudah terhenti dikarenakan godaan, kondisi,dan berbagai macam situasi urgent lainnya..

Ma’had Ally Zawiyah Jakarta adalah sub lembaga dari Yayasan Terpadu shibghatullah yang ditujukan bagi mereka yang mau mempelajari Islam secara komprehensif dan mau secara aktif berperan serta dalam syiar keagamaan dalam masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Abuya KH. Ssaifuddin Amsir juga berpendapat bahwa untuk mengembalikan kemuliaan kota Jakarta, perlu ada lembaga-lembaga yang dapat ‘mencetak’ ulama-ulama dan cendikiawan-cendikiawan dengan kualitas yang tidak kalah dengan lulusan-lusan sarjana maupun paska sarjana dari universitas-universitas ternama. Menurut Abuya orang orang dahulu menyebut kepakaran seseorang yang terpuji adalah ketika dia mampu menggabungkan antara ilmu-ilmu yang zahir dengan ilmu yang bathin. Dimana ada suatau kekayaan ilmu pengetahuan disamping kehausan dahaga spiritual.

Baginya segala titel kesarjanaan dan yang semacamnya menjadi hampa bila tidak ditampilkan secara sungguh-sungguh bila tidak mapu memperhatikan dan memberi solusi terhadap kebutuhan ummat.

Mengapa Abuya KH. Saifuddin Amsir memilih AlWirdul Latif dari sebegitu banyak wirid di dunia? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz Muammar Khoirullah)

Jawab:

Hancur agama tanpa adanya sanad. Abuya KH. Saifuddin Amsir mendapatkan ijazah dan sanad AlWirdul Latif dari guru beliau sendiri yaitu Al-Habib Abdullah bin Husein As-Syami dari Syeikh Yasin Bin Isa Al-Fadani. Abuya sendiri sudah mengamalkan wirid ini secara spesifik pada tempat-tempat penting disetiap hajinya ke tanah Haram semenjak tahun 1988.

Abuya KH. Saifuddin Amsir dan AlWirdul Latif

Meletakkan majlis taklim sebagai fondasi dalam institusi keagamaan merupakan suatu keharusan. Apalagi pengalaman Abuya KH. Saifuddin Amsir sendiri yang memang sudah lama berdakwah keliling dan menjadi pengasuh lebih dari 30 majlis taklim. Di kediamannya beliau membuka majlis taklim yang diberi nama Ma’had At-Tamhid Al-Islami untuk asatidz dan At-Tamhid lil Ummahat untuk asatidzah serta majlis zikir yang diberi nama Hizbul Mustaghfirin. Sama halnya dengan Hizbul Mustaghfirin yang telah puluhan tahun diasuhnya. Dengan zikir dan wirid yang diprioritaskan pada penjagaan diri dan keberkahan hidup dengan mendawamkan bacaan Hizib Imam Nawawi dan Hizib Hirosah pada setiap Kamis malam Jum’at ba’da Isya. Abuya sendiri sebagai seseorang yang mencetuskan label Istigotsah Jakarta membuat Istigotsah (dalam skala kecil) secara pribadi di setiap pengajian yang beliau pimpin dengan kumpulan do’a dan kombinasi bacaan qasidah Yaa Rabbi bil Musthafa dan Yaa Rabbbii Hayyi’ lana min Amrinaa Rasyyadaa semenjak tahun 1973. Hal itu beliau lakukan semenjak penukilan yang dilakukannya pada Kitab Al-Mujarrabah ad-Dairabi al-Kabir.[12] Beliau mengkomposisikan bacaan-bacaan Istigotsahnya dengan kumpulan do’a dan wirid yang telah disarikan oleh Imam Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dan Syaikh Abil Hasan As-Syadzili. Ketiganya mempunyai muatan yang penting dalam membangun dan mendasari Tariqah Alawiyah yang sangat mewarnai Jakarta bahkan Nusantara. Beliau mengharapkan komposisi ini menjadi komposisi tepat yang menyarikan segala bentuk zikir yang ada di dunia Islam.

Menurut Abuya dari sekian banyak wirid di kalangan rijalullah, mutashawwifin, ahli dzikir ada hatfatud dzikir (pukulan dzikir). Hal ini berarti bahwa dzikir-dzikir itu terkadang berbalik memukul atau membawa kecelakaan pada orang yang membaca dzikir tersebut apabila dia melakukan kesalahan yang tidak disengaja ataupun dengan kesengajaan dan juga apabila terdapat kesalahan dalam membaca dzikir dan wiridnya.

Kenyataan ini sering terjadi pada dzikir-dzikir tertentu yang membuat pemberi ijazah dzikir itu menjadi berhati-hati dalam memberikan ijazahnya kepada seseorang. Bahkan sekelompok ulama mensyaratkan umur 40 tahun bagi orang yang ingin membaca dzikir tertentu, seperti Hizib Nawawi, Hizib Nashr As-Sadzili dan beberapa dzikir tertentu lainnya. Hal ini insya Allah tidak terjadi pada AlWirdul Latif karena kelembutan ‘power’ yang ada didalamnya yang sangat berkonsentrasi pada keselamatan aqidah dan urusan dunia akhirat.

Bahasa Arab berbeda dengan Bahasa lainnya.sbahasa ini secara khusus dipilih oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyuNya. Wahyu merupakan ilmu dan pengetahuan abadi yang diekspresikan dalam Bahasa manusia. Bahasa ini menjadi media bagi sebuah perumpamaan yang membutuhkan pikiran yang mendalam agar terpenuhi dan tersingkap segala apa yang dimaksudkan dalam wahyu (tersirat dan tersurat). Oleh sebab itulah Ayat-ayat dan kata-kata dalam Hadits dapat mengandung berbagai makna. Hal ini dapat dimengerti dari Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an. Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

Ayat-ayat tersebut dapat dipergunakan sebagai perlindungan dari segala macam kejahatan dan marabahaya, menyembuhkan penyakit, meningkatkan suatu kelebihan, untuk pergerakan, maupun untuk mendapatkan jawaban ataupun balasan sesuai dengan yang dijanjikan dalam setiap bait dari bacaannya. Karena itulah Muslim diseluruh dunia akan selalu membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam Bahasa aslinya yaitu Bahasa Arab, walaupun mereka tidak mengerti Bahasa itu. Hal ini untuk memastikan bahwa mereka tidak melewatkan rahasia dan keberkahan rangkaian ayat dan hadits tersebut, yang bisa saja jika hanya membaca artinya.

Bagaimana cara mempertemukan AlWirdul latif yang notabene adalah sebuah wirid yang biasa didawamkan diluar lingkup non-akademisi dengan Zawiyah Jakarta yang merupakan sebuah institusi pendidikan? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz H. Mohammad Adnan Lc, MA, LL.M)

Jawab:

Abuya memaparkan bahwa segala macam Ilmu itu berkumpul di al-Qur’an tapi ada sebagian ilmuwan yang menolak. Bahkan para liberalispun berpendapat bahwa Al-Qur’an turun ketika zaman jahiliyah untuk massa yang bodoh-bodoh. Sehingga Al-Qur’an pun tidah shahih likulli zaman wa makan.

Maka dengan AlWirdul Latif yang didalamnya mengeksiskan I’jaz dan Khawas Al-Qur’an dan AlHadits Abuya menanungi Zawiyah Jakarta untuk mengkaji, menelaah sekaligus mengamalkan AlWirdul Latif untuk bisa menjawab dan membuktikan persepsi salah yang dilontarkan oleh para ‘penginkar’ Al-Qur’an tersebut untuk selanjutnya disebarkan ke masyarakat luas.

Zawiyah Jakarta yang digagas oleh Abuya KH. Saifuddin Amsir merupakan ‘muara akademisi’ dan diramu secara tradisionalis. Sebelumnya Abuya sendiri sudah melahirkan At-Tamhid yang berarti persiapan. At-Tamhid ini dimaksudkan guna mempersiapkan orang-orang yang dapat memahami dan mengkaji Kitab-kitab salaf. Namun At-Tamhid ini yang hanya bisa diikuti oleh orang yang sudah bisa mengerti kaidah-kaidah Bahasa Arab. Namun selanjutnya Abuya membentuk Zawiah Jakarta sebagai tempat untuk mengkaji masalah keislaman secara lebih mendalam. (lihat pemaparan sebelumnya di sub A).

Dengan berbagai macam pengalaman yang sudah dilalui oleh Abuya, beliau belum merasakan dapt menjebol tirani yang mengekang Al-Qur’an untuk menglahkan zionisme yang ‘rembesannya’ sangat kuat terimplementasi pada Perguruan Tinggi yang ada termasuk Departemen Agama.

Zawiyah Jakartapun diharapkan dapat menjadi sebuah penjagaan kualitas dari silsilah wirid-wirid yang menjadi kekuatan utama dalam gerbang ummat Islam menghadapi berbagai permasalahan ummat.

Jika dirunut secara dalam, Yahudilah pencetus pertama dari penerapan system Ekonomi Islam dalam dunia perbankandan juga permasalahan lainnya yang ada di dunia Islam. Lalu apa peran AlWirdul Latif untuk mengatasi masalah ‘teracak-acaknya’ yang dilakukan oleh Yahudi dan pengikutnya tersebut? (Lihat pertanyaan yang diajukan oleh Ustadzah Raihanatul Quddus MSi)

Jawab:

Begitu banyak aksi negatif yang dilancarkan oleh para pengkritisi dari berbagai golongan yang memandang Islam dan beraneka ragam atribut keislaman secara skeptic dan bahkan melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Dan cara-cara seperti ini bisa dikategorikan sebagai langkah lanjutan dari upaya yang Yahudi lakukan untuk menggerogoti Islam.

Maka Zawiyah Jakarta mencoba eksis dengan ambil bagian dan berusaha untuk meluruskan itu. Dengan cara menelusuri lebih dalam I’jaz dan Khawas Al-Qur’an dan Al-Hadits yang dapat menjawab antitesa-antitesa para ‘pengkritisi’ Islam tersebut dan menjadikan mata kuliah I’jaz Qur’an wa Hadits dan Khawas Qur’an wa Hadits sebagai mata kuliah utama. Dan yang ingin ditonjolkan disini adalah Al-Qur’an baik dari sisi filsafatnya, I’jaznya maupun Khawasnya (kekuatan supranaturalnya) untuk mengantisipasi otoritas-otoritas liberalisme yang sangat didasari oleh pemikiran zionistis.

Karena Al-Qur’an shahih likulli zaman wa makan, dan apakah mereka bisa dan sanggup untuk memunculkan hal yang serupa dengan Al-Qur’an?

Melalui Zawiyyah Jakarta ini mari kita memperkokoh keimanan kita, dan eksistensi kita. Jangan hanya menguatkan iman tetapi eksistensi tidak, jangan hanya eksistensi tetapi identitas kita hilang, dua-duanya harus kita jaga.

Resep untuk mensucikan atau menjernihkan hati yang telah berlumur kotoran hitam kelamnya dosa ini, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Segala sesuatu itu ada alat pencuci dan pembasuh. Dan adapun alat pencuci hati seorang mu’min dan membasuhnya dari kotoran yang*sudah melekat / sudah berkarat itu dengan membaca Sholawat kepada-Ku”. (Saaadatud Daroini hal: 511).

“Sesungguhnya hati ini benar-benar berkarat dan sesungguhnya [cara] menjernihkannya adalah [dengan] membaca Al Quran, mengingat mati dan menghadiri majelis-majelis zikir.”

Oleh karena itu upaya yang dihadirkan untuk memperkenalkan AlWirdul Latif ini dengan menerbitkan VCD Syarah AlWirdul Latif yang sekarang ada dihadapan saudara/I dan juga ada langkah lain agar AlWirdul Latif ini senantiasa diamalkan tidak hanya oleh para murid Abuya KH. Saifuddin Amsir dan juga peserta dari Dzikir bersama, Istigotsah, dan momentum pemberian ijazah tetapi juga dapat diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Marilah sama-sama kita bangun dan dukung mudah-mudahan apa yang Abuya KH. Saifuddin Amsir cita citakan tercapai adanya. Amin Yaa RAbbal ‘Alamiin.

Kelanjutan dari pensyarahan, merekamnya dalam DVD ini, diperkuat dengan terbitnya kitab yang berjudul “al-Qur’an I’jazan, Khawasan wa Falsafatan” yang ada dihadapan saudra/I. Kitab ini sarat dengan dalil-dalil yang menunjang kekuatan kandungan wirdul latif secara ilmiah. Dan ini merupakan edisi penulisan pamungkas dari kitab-kitab:

Al-Furu’ wal Masail yang memuat berbagai persoalan agama
Kitabul Ikhtilaf
Kitabul I’tilaf yang ruhnya ada di dalam wirdul latif yang dipadukan dengan munajat Imam Ali Zainal Abidin ini.

Adalah suatu keharusan untuk mengucapkan syukur kehadirat Ilahi Rabbi, karena Rahman dan Rahim-nyalah sehingga semangat untuk berbagi kepada ummat hadir dihadapan saudara/I sekalian. Dan tentu saja ini tidak luput dari tokoh-tokoh yang menginspirasi Abuya agar menelaah apa yang terkandung dibalik I’jaz, Khawas, dan Falsafah Al-Qur’an.

Dan terima Kasih banyak kami ucapkan kepada para mahasiswa/I Ma’had Aly Zawiyah Jakarta yang terlibat dalam penyusunan kitab ini, juga kepada para pihak yang terlibat dalam penyempurnannya.

Dalam pengembangan kitab ini peran Jakarta Islamic Center (JIC) dibawah pimpinan bapak Drs. H. Muhayat sekaligus Koordinator Majlis Ta’lim Al-Fauz Gubernur Jakarta DR. Ing H. Fauzi Bowo menjadi sangat penting. Disamping itu DEPAG yang memilih Abuya untuk menjadi salah seorang dewan juri pada Musabaqah Qiraatul Kutub (Mufakat) untuk mengujikan peserta kajian materi Tafsir pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat pada 18 s/d 24 Juli 2011. Begitu juga kepada elemen terkait yang berwenang.

Jazakumullah Khairaan Katsiraan.

Comment here