Artikel

Guru Mahmud Romli

Nama lengkapnya Mahmud bin H.Romli. Biasa dipanggil Guru Romli atau Guru Mahmud. Seperti Guru Khalid, sangat sedikit informasi yang dapat diketahui mengenai dirinya. Ia adalah saudara kandung dari H. Murtadho bin H. Romli, ulama Betawi yang namanya diabadikan menjadi nama jalan (Jl. H. Murtadho) di daerah Paseban, depan Pasar Pramuka, Jakarta Pusat. Dengan demikian, Guru Mahmud Romli masih keturunan Tanbih Badung, bangsawan dan pemimpin perang dari Ternate yang hijrah ke Kalimantan dan kemudian bergabung dengan pasukan Fatahillah untuk menggempur Portugis di Sunda Kalapa dan kemudian bermukim dan wafat di Sunda Kalapa.

Guru Romli berangkat ke tanah suci bersama orang tua dan ketiga saudaranya. Namun, semua anggota keluarganya ini meninggal di tanah suci, kecuali Guru Romli saja. Ia kemudian mengembara di Jazirah Arabia seorang diri selama hampir 17 tahun. Untuk mempertahankan hidupnya, ia pernah bekerja sebagai anggota satuan pengaman kafilah dagang melintasi gurun-gurun Saudi.

Beberapa kebiasaaanya di Saudi terbawa sampai ke tanah air, seperti menunggang kuda. Untuk membiayai hidupnya di tanah air, ia berdagang burung dan batu-batuan. Meskipun terbuka kesempatan menjadi penghulu, ia menolak bekerja dan hanya mengharapkan “gaji dari tuhan saja”.

Walaupun Guru Romli berpostur besar seperti “jagoan”, tetapi ia juga dikenal sebagai ulama tafsir. Guru Romli meninggal sekitar tahun 1959 dalam usia 93 tahun. Murid-Murid Betawinya yang terkemuka antara lain KH. Muhammad (Mu`allim Muhammad atau Guru Asmat) dari Cakung Barat, Mu`allim Syafrie dari Kemayoran, dan Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami.

Dikutip dari buku Geneologi Ulama Betawi oleh Rakhmad Kiki Jaelani

Comment here