Kaidah Tafsir dan Takwil

Teks-teks keagamaan merupakan teks-teks linguistik. Seperti teks-teks lainnya, ia selalu terhubung dengan struktur kebudayaan di mana teks tersebut diturunkan. Dari perspektif lain teks-teks tersebut tidak selalu dapat dipahami menurut makna literalnya. Karena seringkali mempunyai makna ganda.

Fakta-fakta hukum fiqh menunjukkan bahwa sebuah teks hukum tertentu diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh para ulama dan karena itu keputusan hukum yang dihasilkannya juga berbeda-beda atau tidak selalu sama. Pemaknaan teks secara tunggal hanya dapat dipahami berdasarkan kesepakatan pemakainya.

Para ulama kemudian membedakan pengertian antara tafsir dan ta’wîl. Tafsir lebih banyak berhubungan dengan riwayat (sumber-sumber transmisi) naql (teks yang lain), sementara ta’wîl selalu berkaitan dengan penggunaan akal dan ijtihad

Dan kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al-Qur’an diatur oleh ulama agar tidak terdapat kecerobohan dalam memahami Al-Qur’an.

*Berikut adalah kaidah-kaidah menafsirkan Al-Qur’an*

1. Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an.

Ayat-ayat yang mujmal (umum) diperinci lagi oleh ayat yang lain. Ayat-ayat yang muthlaq disebutkan secara muqayyad pada ayat yang lain.

2. Menafsirkan Al Qur’an dengan As-Sunnah

Jika tafsir suatu ayat tidak terdapat pada ayat yang lain, maka cari penafsirannya pada sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena As Sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An Nahl: 44).

3. Menafsirkan Al Qur’an dengan Qoul Sahabat

Jika tafsir ayat tersebut tidak terdapat pada As Sunnah, maka cari tafsirnya dari penjelasan para Sahabat Nabi. Karena merekalah yang paling mengetahui hal tersebut, dikarenakan para sahabat lah yang membersamai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Rasulullah telah mengajarkan ilmu-ilmu kepada mereka secara langsung termasuk juga mengajarkan Al Qur’an beserta tafsirnya secara talaqqi kepada mereka. Sampai-sampai diantara mereka ada yang mengatakan:

ما كنا نتجاوز عشر آيات حتى نعرف معانيهن والعمل بهن

“kami tidak melewati 10 ayat sampai kami mengetahui makna-maknanya dan mengamalkannya”

4. Menafsirkan Al Qur’an dengan Qoul Tabiin
Jika tafsir ayat tersebut tidak terdapat pada penjelasan Sahabat Nabi, maka para imam kaum Muslimin merujuk pada penjelasan para tabi’in. Karena mereka menerima pengajaran ilmu dari para sahabat Nabi. Tafsiran yang diperselisihkan oleh para tabi’in dikembalikan juga kepada kaidah-kaidah bahasa Arab yang dengannya Al Qur’an diturunkan.

Ta’wil merupakan suatu cara (metode) yang mencoba untuk menjelaskan makna suatu kata atau bahasa yang jika difahami secara literal akan menimbulkan pengertian yang sulit diterima oleh akal. Pada masa klasik (zaman awal Islam) bahkan sampai hari ini, teori ta’wîl diperdebatkan secara hangat dan mendalam di kalangan para ulama.

Abu Hamid Al-Ghazali dalam bukunya Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul mengatakan, “Ta’wîl adalah sebuah ungkapan (istilah) tentang pengambilan makna dari lafazh yang ambigu (muhtamal) dengan didukung dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafazh zhahir”.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya Al-Iklil fi Al-Mutashabih wa At-Ta’wîl menyatakan bahwa ulama mutaqaddimin (salaf) berpendapat bahwa ta’wîl merupakan sinonim dari tafsîr , sehingga hubungan (nisbat) diantara keduanya adalah sama. Seperti yang digunakan oleh Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsîr nya Jami’ Al-Bayan fi Ta’wîl Ayat Al-Qur’an; ta’wîl dari ayat ini adalah demikian, para ulama berbeda pendapat tentang ta’wîl ayat ini. Kata ta’wîl yang dimaksudkan oleh beliau adalah tafsîr . Sedangkan ta’wîl menurut ulama mutaakhkhirin (khalaf) dari kalangan ulama ushul, kalam, dan tashawwuf adalah mengalihkan makna lafazh yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh), karena ada dalil yang menyertainya.
Pendekatan ini juga sangat relevan untuk menjawab masalah-masalah kehidupan yang berkembang. Dengan cara ini, perumusan syari’ah Islam akan menjadikan aturan-aturan hukum syari’ah shalihah li kulli zaman wa makan (sesuai dengan ruang dan waktunya) untuk sebuah kehidupan manusia yang adil dan bermartabat.

Dikutip dari berbagai sumber

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *