Artikel

KH. Abdurrahim Rojiun

Nama sebenarnya yang lengkap beserta gelar adalah Dr. KH. Abdurrahim Radjiun Bin Muhammad Radjiun yang lahir di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1955. Ia adalah putra dari mu`allim Rojiun Pekojan, seorang kyai Betawi terkemuka yang seangkatan dan memiliki persahabatan akrab dengan KH. Noer Alie, Bekasi, KH. Abdullah Syafi`i (pendiri pergururuan Asy-Syafi`iyyah) dan KH. Thahir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyah). Jika ditelusuri garis keturunan dari pihak bapak, beliau masih memiliki kekerabatan dengan Habib Husien Luar Batang karena kumpi-nya (dari bahasa Betawi yang artinya kakeknya kakek), yaitu Abdul Halim dikuburkan satu kompleks dengan keluarga Habib Husien yang ada di Masjid Kramat Luar Batang.

Pada masa mudanya, Abdurrahim Rojiun pernah menjadi wartawan di Media Indonesia di akhir tahun 70-an. Pernah pula menjadi khatib tetap di Istana Negara sebelum kemudian memutuskan keluar sebagai khatib tetap di Istana Negara untuk total mengembangkan ajaran sufismenya ke tengah-tengah masyarakat.
Ia tidak menyebut sufismenya sebagai sebuah tariqat, tetapi sebagai sebuah jama`ah shalawat yang dinamainya dengan Istirhami (kelompok yang selalu meminta rahmat Allah).

Jama`ah Isitrhami mengamalkan bacaan shalawat yang disebut shalawat al-istirham yang ia susun sendiri. Inti ajaran sufismenya adalah menyebarkan rahmat Allah SWT kepada semua makhluk sambil terus menerus bersyukur atas segala yang diberikan oleh Allah SWT.

Ia, yang oleh pengikutnya biasa dipanggil dengan sebutan Abie Bismillah, menyusun sebuah kitab yang dinamai mirats dan turats. Mirats merupakan kumpulan 99 hadits qudsi, yang menurutnya hadits-hadits tersebut memuat 99 rahasia cinta kasih Allah. Sedangkan Turats berisi rekaman perjalanan beliau dengan sahabat-sahabatnya dan tentang petuah-petuahnya yang menjadi ajaran. Murid-murid dan ajarannya tidak hanya tersebar di tanah Betawi saja, bahkan sampai ke Timur Tengah, Malaysia, Brunie Darussalam, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ia wafat pada tanggl 28 Juli 2008. Muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka di Rawa Belong adalah KH. Abdul Mafahir.

Dikutip dari buku Geneologi Ulama Betawi oleh Rakhmad Kiki Jaelani

Comment here