Artikel

KH. Ahmad Djunaidi

KH. Ahmad Djunaidi lahir pada tahun 1911M, bertepatan dengan tahun 1329H. Pertama mengaji al-Qur`an kepada Guru Haji Muhammad Ali (Guru Sa`ali), kemudian kepada Guru H. Isma`il. Kemudian kepada Guru H. Abdul Rahim Bin Basnawi, Kuningan dan kepada Guru H. Abdul Salam Bin H. Hasni (Guru Salam, Rawa Bangke/Rawa Bunga, Jatinegara).

Pada tahun 1931 M, bertepatan dengan tahun 1349 H, ia berangkat ke Makkah Al-Mukarramah dan berguru kepada beberapa ulama, yaitu kepada Syaikhul `Alim Al-`Allamah Muhammad Ali Bin Husein al-Maliki al-Makki, kepada al-`Alim al-`Allamah as-Sayyid Muhammad Amin Kutbi, kepada Syaikh Ahyad Al-Bogori, kepada al-Faqih Syaikh Muhammad al-Fathoni, kepada Syaikh Husein Bin Abdul Ghani al-Palembangi, kepada al-`Alim al-`Allamah az-Zahidul Barakah Mufti Asy-Syafi`iyyah Syaikh Umar Bin Abu Bakar Bajnid, kepada Syaikh Sa`id Bin Muhammad Bin Ahmad Yamani As-Syafi`i, kepada Syaikh Idris Bin Sam`un al-Banteni (belajar membaca qira`at Al-Qur`an riwayat Hafsh, Warasy, Ibnu `Amru, As-Susi, dan Ibnu Katsir).

Setelah enam tahun menuntut ilmu di Makkah, pada tahun 1937 atau bertepatan dengan tahun 1355 H, ia kembali ke Indonesia, tanah airnya. Di Indonesia, ia melazimkan diri atau menuntut ilmu kembali kepada Habib Ali Kwitang dengan membaca di hadapannya Kitab Enam Yang Masyhur dalam Dunia Islam atau yang biasa disebut dengan al-Kutubus Sittah, yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Jami` At-Tirmidzi, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasa`i, dan Sunan Ibnu Majah.

Pada tahun 1950, ia menjadi pegawai pemerintah dengan menjadi anggota pada lembaga Peradilan Agama Jakarta. Karirnya sebagai pegawai pemerintah terus menanjak. Namun karena karirinya ini, ia sering berpindah-pindah tempat tugas. Pada tahun 1954, ia ditugaskan sebagai wakil ketua Peradilan Agama Jakarta, pada tahun 1958, ia ditugaskan sebagai ketua Peradilan Agama Tangerang; pada tahun 1959, ia ditugaskan sebagai ketua Peradilan Agama Bogor; pada tahun 1960, ia kembali ditugaskan di Jakarta. Pada tahun 1962, ia diutus oleh KH. Ahmad Zabidi ke Makasar, Sulawesi Selatan sebagai ketua Mahkamah Islam Tinggi namun tidak terlalu lama karena di tahun yang sama pula ia harus kembali ke Jakarta.

Pada tahun 1972, ia memutuskan untuk pensiun dari segala tugas pemerintahan. Ia kemudian berkonsentrasi untuk belajar (mengaji) dan mengajar (memberikan pengajian). Ia mengaji kepada Habib Ali Bungur. Dari Habib Ali Bungur ini, ia mendapatkan ijazah, baik yang khusus maupun yang umum.

Ia juga mengaji kepada Habib Zein Bin Abdullah Al-Idrus.
Ia begitu cinta kepada habaib. Kecintaannya ini membuatnya sering melakukan silaturrahim kepada habaib dan ulama yang membuat habaib dan ulama mencurahkan perhatian mereka kepadanya. Seperti Habib Ali Bin Ahmad Bin Abdullah Al-`Aththas, Pekalongan, yang pernah menyandangkan rida` (sorban) kepadanya pada saat acara haul Kiai Thahir, pengarang kitab Dala`il di Pekalongan. Begitu pula Habib Abdul Qadir Bin Ahmad As-Segaf yang juga pernah memakaikan sebuah kufiyah (kopiah) putih serta menyuapkan karma kepadanya pada tanggal 25 Ramadhan tahun 1397H di kediaman Habib Ali Bungur. Begitu pula Syaikh Ilmuddin Muhammad Yasin Al-Padangi AL-Makki As-Syafi`i yang memberikan ijazah kepadanya dari selulru karangan dan riwayat-riwayatnya.
Melalui Syaikh Muhammad Yasin Al-Padangi ini, ia juga memperoleh ijazah dari As-Sayyid Abdul Aziz Bin Muhammad Bin As-Shadiq al-Hasani dan juga dari saudara kandungnya As-Sayyid Abdullah Bin Muhammad Ash-Shadiq. Salah seorang muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka adalah KH. Sabilalrasyad.

KH. Achmad Djunaidi wafat pada tanggal 15 Syawal 1417H atau bertepatan dengna bulan Februari 1997M dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Menteng Dalam, Jakarta Selatan.

Dikutip dari buku Geneologi Ulama Betawi oleh Rakhmad Kiki Jaelani

Comment here