Apabila telah melaksanakan thawaf, hendaknya keluar melalui Bab (pintu) Ash-Shafa, menuju bukit Shafa lalu menaiki beberapa anak tangganya.

Diriwayatkan bahwa, “Rasulullah Saw. menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka’bah.”

Meskipun demikian, sa’I cukup dimulai dari kaki bukit. Menaikinya lebih dari itu merupakan sesuatu yang mustahab (dianjurkan).

*SHAFA DAN MARWAH*

Shafa dan Marwah adalah nama-nama dari dua bukit kecil, yang berdekatan dengan Masjidil Haram. Jarak antara dua bukit yang disebut “Mas’a” adalah sekitar 395 meter. Shafa dan Marwah lebih besar dan lebih tinggi di masa lalu dan menjadi lebih kecil dan pendek seiring waktu dan pasca perluasan Masjidil Haram. Sekarang, ketinggian Shafa sekitar 8 meter, Marwah juga hanya tersisa sedikit saja dan pada tahun 1995 bukit Marwah diangkat dengan tujuan memperluas jangkauan putaran para pelaksana sa’i, dan diujungnya dibukakan pintu keluar, saat ini Marwah hanya tersisa tanda semata.

Shafa, Marwah dan juga sa’i diantara keduanya telah disebut dalam Alquran: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْ‌وَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَیتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَیهِ أَن یطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَیرً‌ا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِیمٌ “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 158]

*Ibadah Sa’i* merupakan salah satu rukun umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak di antara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama’ah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama’ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa’i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.

*SYARAT-SYARAT MELAKSANAKAN SA’I DIANTARANYA ADALAH*

Didahului dengan tawaf ifadah.
Menyempurnakan hitungan sampai tujuh kali.
Dilakukan di tempat sa’i.
Dan dilaksanakan harus tertib.

Setelah niat dan bertaqarrub, sa’i dimulai dari Shafa dan diakhiri dengan Marwah. Jika memulainya dari Marwah, baik secara sengaja atau lupa dan atau berdasarkan tidak mengetahui masalah, maka sa’inya batal dan wajib mengulanginya dari Shafa Tidak wajib mendaki bukit Shafa dan Marwah, meskipun dianjurkan. Dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran dan kembali dari Marwah ke Shafa dihitung putaran lainnya.

Jika ada seseorang secara sadar dan sengaja melakukan sa’i lebih dari tujuh putaran, maka sa’inya batal. Dan mayoritas fukaha membolehkan beristirahat dan duduk saat mengerjakan sa’i.

*WAKTU PELAKSANAAN SA’I*

Waktu melaksanaan sa’i adalah setelah melaksanakan tawaf ifadah atau tawaf umrah. Bagi yang melaksanakan haji ifrad atau haji qiran setelah tawaf qudum boleh melaksanakan sa’i, sehingga ketika melaksanakan tawaf ifadah tidak perlu mengerjakan sa’i lagi.

jika pelaksana umrah atau haji secara sengaja mengerjakannya sebelum tawaf, maka sa’inya batal dan wajib baginya untuk mengulanginya setelah tawaf dan salatnya; tetapi jika mendahulukannya berdasarkan lupa atau tidak mengetahui masalahnya, maka terdapat perbedaan fatwa tentang batalnya sa’i dan kewajiban mengulanginya setelah tawaf.

Para ulama masyhur berpendapat, boleh melakukan penundaan antara sa’i dan tawaf sampai malam.

SUNAH – SUNAH SA’I

Zikir dan berdoa saat berada dibukit Shafa dan Marwah dan disaat perjalanan sa’i.

Menutup aurat dan suci dari hadas dan najis.

Melakukan sa’i di tempat sa’i dengan berlari-lari kecil agak sedikit kencang terutama diantara tiang yang ada tanda lampu hijau sambal melihat kearah kabah.

TATA CARA MELAKSANAKAN SA’I

Berjalan menuju bukit shafa.

Setibanya dibukit shafa para jamaah menghadap kearah ka’bah sambal membaca takbir dan tahlil.

Berjalan kebukit marwah dengan berzikir dan berdo’a dilaksanakan setiap perjalanan.

Di mas’a (tempat sa’i) terdapat dua pilar berwarna hijau, ketika sampai disana dianjurkan bagi laki-laki untuk lari-lari kecil, sedangkan untuk perempuan diharuskan mempercepat jalannya.

Ketika mendekati bukit Marwah, membaca doa seperti yang terdapat dalam Q.S Al Baqarah : 158.

Ketika sampai dibukit marwah, menghadap kearah ka’bah kemudian membaca takbir dan tahlil sebagaimana yang dilakukan di bukit shafa.

•persyaratan bersuci dari hadats besar maupun kecil ketika mengerjakan sa’I, hukumnya mustahab (dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan thawaf

*Hikmah Sa’i*

Ritual sa’I ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan Hajar untuk mencarikan air bagi putranya Ismail yang kehausan. Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan sa’I ini diantaranya, bolak-baliknya jamaah haji antara bukit Shafa dan Marwah di halaman Ka’bah, menyerupai perbuatan seorang hamba yang berjalan pulang pergi secara berulang-ulang di halaman rumah sang Raja. Hal itu dilakukannya demi menunjukkan kesetiaannya dalam berkhidmat, seraya mengharap agar dirinya memperoleh perhatian yang disertai kasih sayang.

Menurut Syariati, Sa’i inilah yang dikatakan sebagai haji, yaitu sebuah tekad untuk melakukan gerak abadi ke suatu arah yang tertentu. ”Sa’i adalah perjuangan fisik. Sa’i berarti mengerahkan tenaga di dalam pencarian (usaha) untuk menghilangkan lapar dan dahaga yang engkau tanggungkan beserta anak-anakmu.”

Karena itu, sudah seharusnya setiap jamaah haji maupun umrah untuk menghayati makna terdalam dari pelaksanaan ibadah Sa’i. ”Ia adalah sebuah bentuk usaha yang harus dilaksanakan oleh umat manusia. Bila tidak berusaha, ia sengsara dalam kehidupannya. Jangan pernah berpikir tentang hasilnya. Pasrahkan semuanya pada Allah, karena hanya Dia tempat manusia berpasrah.”

*Sa’i Siti Hajar antara Shafa dan Marwah*

Dimuat dalam riwayat bahwa ketika Siti Hajar mencari air untuk Ismail as, ia berjalan bolak balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Sunah Ibrahim as ini dianggap sebagai ritual haji, bahkan pada masa jahiliyyah. Pada saat itu satu berhala diletakkan di satu sisi dan satu berhala lainnya diletakkan di sisi lain dan ketika orang-orang yang melakukan sa’i sampai ke berhala-berhala tersebut, mereka menyentuhnya. Gambaran masyarakat Jahiliyyah adalah bahwa kedua berhala ini, yang disebut Usaf dan Nailah, adalah laki-laki dan perempuan pelaku zina, yang telah berubah menjadi batu.

Dari berbagai sumber

#sai #umroh #kabah #quran #islam #ibadah #zawiyahjakarta #shibghatullah #fito #travel #fitotravel #muslim #muhammad #hijrah

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *