Artikel

Syaikh Dr. Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi

Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi adalah salah seorang ulama Betawi yang porduktif menulis. Karya-karyanya antara lain Muhammad fil Qur`an, Mukhtasar al-Bukhari w Muslim, dan Al-Qiraat al-`Ashr. Namun, yang monumental adalah kitab karangannya yang berjudul Al-Imam As-Syafi`i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid yang telah diterjemahkan oleh JIC dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah (group Mizan) pada tahun 2008 dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi`i.

Kitab ini yang merupakan disertasi beliau dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo, menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i. Bahkan menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriah PB NU dan pengurus MUI Pusat, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini. Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi`i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya.

Ulama Betawi kelahiran Jakarta 30 Agustus 1931 ini adalah cucu dari Guru Mughni Kuningan, Jakarta Selatan dari jalur ibu. Pendidikan formal pertama kali yang beliau tempuh adalah Taman Kanak-Kanak Belanda. Ia sempat didik oleh kakeknya, Guru Mughni. Setelah itu, atas saran kakeknya, beliau kemudian meneruskan pendidikannya di Jamiatul Khair, Tanah Abang, Jakarta sampai tingkat SLTA. Selain itu, beliau juga mengaji kepada KH. Abdullah Suhaimi, bapak dari KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA, ulama Betawi dari Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pencarian ilmu pengetahuan ke Mesir dimulai pada usianya yang ke-21 tahun, tepatnya pada Oktober 1952, yaitu ketika beliau pergi haji bersama kedua orang tuanya. Setelah melaksanakan ibadah haji, beliau tidak kembali ke tanah air. Beliau mengurus visa di Arab Saudi untuk pergi belajar di Mesir. Di negeri kaya peradaban itu, beliau meraih sejumlah gelar kesarjanaan. Gelar B.A diraih tahun 1956 dari Fakultas Syari`ah Universitas Al-Azhar, Kairo. Kemudian dua gelar M.A diraihnya pada universitas yang sama, yakni M.A jurusan kehakiman (1958) dan M.A jurusan Pengajaran dan Pendidikan (1960). Pada tahun 1961, beliau mendapat gelar Diploma I jurusan Hukum, selanjutnya Diploma II diraihnya pada tahun 1962, keduanya diperoleh di Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. Kedua Diploma tersebut setara dengan M.A. Perjalanan studinya terus berlanjut. Pada tahun 1966, beliau mendapat M.A Personal Statute dan Perbandingan Mazhab dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Minatnya yang tinggi terhadap disiplin ilmu tersebut diteruskan dengan meraih gelar Doktor dalam bidang Perbandingan Mazhab dari Fakultas Syari`ah dan Hukum, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Sejumlah aktivitas keorganisasian pernah dijalaninya. Pada tahun 1950, beliau mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH), dan menjadi ketuanya sampai tahun 1952. Pada tahun 1953, beliau mendirikan Organisasi Pelajar Indonesia di Mesir (PIM) yang kemudian diganti menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan menjadi ketuanya sampai awal tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1970, mendirikan PPI di Damaskus, Syiria, sekaligus menjadi ketuanya dalam beberapa tahun kepengurusan.

Perjalanan karir beliau, antara lain, adalah menjadi penyiar dan penerjemah pada Radio Mesir seksi siaran Bahasa Indonesia (1954 sampai dengan 1970). Pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1968, belaiu menjadi guru bahasa Indonesia pada Akademi Bimbingan dan Kader Al-Azhar Cabang Universitas Al-Azhar untuk luar negeri.

Beliau juga pernah menjadi dosen bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa Indonesia Cabang Univeritas `Ain Syamas, Kairo. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1974, beliau menjadi pegawai lokal KBRI Damaskus dan memegang jabatan sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Indonesia dalam bahasa Arab yang diterbitkan oleh KBRI. Beliau juga pernah menjadi penyiar dan penerjemah Radio Saudi Arabia seksi Bahasa Indonesia di Jeddah dari tahun 1974 sampai tahun 1988.

Pada tahun akhir tahun 1989, beliau pulang ke tanah air, Jakarta, tempat terakhir pengabdian dirinya sampai akhir hayat. Di Jakarta, beliau mendirikan Yayasan An-Nahrawi yang di antaranya bergerak di bidang pencetakan kitab-kitab beliau, seperti kitab Muhammad fi Qur`an dan lainnya. Namun, yayasan ini belum aktif lagi setelah beliau wafat. Seperti ulama Betawi lainnya, selama di Jakarta Beliau mengajar juga di beberapa majelis taklim di berbagai masjid, di antaranya di Masjid Al-Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan yang dekat dengan rumahnya, Masjid Agung At-Tin, Masjid Istiqlal dan di Majelis Albahhsy wattahqiq As-salam yang mengkaji tentang fiqh Imam Syafi’i yang kini diteruskan oleh KH. Ahmad Kazruni Ishak, salah seorang muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka.

Selain mengajar di majelis taklim, beliau juga pernah menjadi dosen di Fakultas Syari`ah IAIN (kini UIN) Ciputat. Dikarenakan jarak yang jauh dari tempat tinggal dan kesibukan lainnya, beliau hanya sempat mengajar di IAIN tersebut hanya satu semester. Meskipun mengajar di majelis taklim, beliau jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil doktor saja atau sering dipanggil syaikh. Sebagaimana budayawan Betawi H Ridwan Saidi tidak menyebutnya kyai ketika mengisahkannya di buku Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta.

Selain mengajar, beliau juga tercatat sebagai pengurus di Majelis Ulama Indonesia Pusat, yaitu di Komisi Fatwa dan Hukum, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Obat Makanan (LP- POM) MUI Pusat, dan salah seorang ketua MUI Pusat.

Pada tanggal 21 Syawal atau 7 Februari 1999, masyarakat Betawi dan umat Islam di Indonesia kehilangan salah satu ulama terbaiknya. Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi pada tanggal tersebut, di usia 68 tahun, wafat dengan meninggalkan karya yang begitu berharga bagi umat Islam. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di Pedurenan (belakang JMC), Jakarta Selatan.

Comment here