Artikel

Niat Puasa, “Romadhona” atau “Romadhoni”?

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Mohon penjelasannya Ustadz dan Ustadzah, niat puasa yg benar itu romadhona apa romadhoni? selama ini kan banyak yang membacanya romadhona… Terimakasih banyak (Edy Sanjaya, mahasiswa S1)

Jawab:

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Lafazh (رمضان) termasuk jenis isim ghoir munsorif (tidak menerima tanwin), dimana menurut ilmu nahwu (gramatikal arab), kalimat (رمضان) dalam lafazh niat puasa (نويت صوم غد عن اداء فرض شهر رمضان هذه السنة لله تعالى) berstatus jarr/ khofadh karena menjadi mudhof ilaih dari lafazh sebelumnya, yaitu (شهر).

Adapun isim ghoir munshorif ketika jarr ditandai dengan fathah, namun dapat ditandai dengan kasroh jika: (1) didahului alif lam (ال), dan (2) menjadi mudhof.

Dasarnya adalah satu bait Imam ibnul Malik al Andalusi dalam kitab Alfiyyah:

“وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ # مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِف”

“Dan dijerkan dengan fathah terhadap isim yang tidak menerima tanwin # selama tidak dimudhofkan atau berada setelah alif lam yang mengiringinya.”

Kesimpulan:

1. Jika dibaca (َرمضان) “romadhona”, berarti ia berposisi mudhof ilaih dari kalimat (ِشهر) “syahri”. Sedangkan kalimat selanjutnya sudah bukan bagian dari idhofah. Sehingga harus dibaca (َهذه السنة) “hadzihis sanata” (dengan fathah karena menjadi zhorof zaman/ keterangan waktu).

Bacaan seperti ini tidak fasih dan rusak maknanya, sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Bakri Syatho dalam Ianatuth Thalibin:

“… أن النـية زمنها يسير، فلا معنى لـجعل هذه السنة ظرفاً لها. (قوله: هذه السنة)… ”

“Niat itu waktunya pendek, sehingga tidak ada maknanya jika menjadikan lafazh (هذه النية) sebagai zhorof”

2. Jika dibaca (ِرمضان) “romadhoni”, berarti ia menjadi mudhof ilaih dari lafazh (ِشهر) “syahri”, sekaligus menjadi mudhof bagi kalimat sesudahnya. Sehingga, kalimat sesudahnya wajib dibaca dengan kasroh (هذه السنةِ) “hadzihis sanati”. Bacaan inilah yang fasih dan benar.

Adapun yang terjadi dilapangan adalah adalah kesalahan umum, dimana umat mencampur adukkan kalimat (رمضانَ) yang dibaca dengan fathah dan (ِهذه السنة) yang dibaca dengan kasroh. Ini bukan lagi rusak dalam segi makna, namun rusak juga susunan kalimatnya.

Meski demikian, salah dalam pengucapan niat (talaffuzh) tidak mempengaruhi sahnya puasa, karena letak niat adalah dalam hati.

Wallaahu a’lam.

Comment here