Artikel

Mudah Mengetahui Awal Ramadhan dan Iedul Fithri dengan Jari

Selain rukyatul hilal dan hisab qothi, ternyata masih ada cara lain dalam menentukan jatuhnya hari-hari penting dalam Islam yang disebut dengan ‘Hisab Ishthilahy’. Metode ini sangat mudah dipraktikkan lho, kamu bahkan tak perlu kalkulator dan coret-coretan! Cukup dengan jari!

Ada 3 metode unik dalam hisab ishthilahy ini yang super mudah dan bisa kita praktikkan dimana saja. Penasaran, simak selengkapnya:

1. Metode Khumasi (Metode 5)

Dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhobun Nafais, al Imam Abdurrahman bin Abdis Salam as Shofury mengatakan bahwa beliau melihat sebuah riwayat dam kitab Ajaibul Makhluqot karya al Quzwaini dari al Imam Jafar as Shodiq yang berbunyi: “5 hari setelah awal jatuhnya Ramadhan tahun yang lalu adalah awal jatuhnya Ramadhan tahun berikutnya. Orang-orang telah mengujinya selama 50 tahun dan terbukti benar.”

Perlu bukti? Coba kalian hitung sendiri. Jika benar, jangan kaget ya.

2. Metode Awal Tahun

Almaghfurlah KH Maimoen Zubair dalam kitabnya Nushushul Akhyar fish Shoumi wal Ifthar mengatakan:

Jika kita ingin mengetahui awal hari dari setiap bulan, maka gunakan rumus huruf jumal berikut:

Muharrom – ا Alif : 1
Shofar – ج Jim : 3
Rabiul Awwal – د Dal : 4
Rabiul Tsani – و Wawu : 6
Jumadil Ula – ز Zai : 7
Jumadil Akhiroh – ب Ba : 2
Rojab – د Dal : 4
Syaban – هـ Ha : 5
Ramadhan – ز Zai : 7
Syawal – ا Alif : 1
Dzul Qodah – ب Ba : 2
Dzul Hijjah – ج Jim : 3

Kemudian, jumlahkan rumus angkanya pada hari awal tahun tersebut (1 Muharrom).

Caranya, pastikan kita lebih dahulu mengetahui hari jatuhnya awal tahun tersebut (tanggal 1 Muharrom-nya). Misal, 1 Muharom 1418 H adalah hari Jumat, maka tambahkan angka rumus bulan Ramadhan (Zai : 7). Hasilnya, hari ke 6 dari Jumat itu adalah Kamis. Jadi, 1 Romadhon 1418 H jatuh pada hari Kamis.

Begitu juga awal Shofar adalah hari ketiga dari hari pertama awal tahun. Robiul awal keempat. Robius tsani keenam. Di contoh 1418 H tadi, awal Shofar Ahad, Robiul Awwal Senin, Robiuts Tsani Rabu.

Bagaimana jika kita tidak tahu hari awal tahun (1 Muharrom)?

Masih dalam kitab yang sama, al Maghfurlah KH Maimoen Zubair mengatakan:

Tentukan dahulu tahun yang mau dicari. Kemudian dibagi delapan hingga habis, sampai tersisa 8 atau lebih kecil. Kemudian bandingkan sisa tersebut dengan rumus jumal angka hijaiyyah berikut (secara berurutan):

Jika,
Sisa 1 : ب Ba (2)
Sisa 2 : و Wawu (6)
Sisa 3 : د Dal (4)
Sisa 4 : ا Alif (1)
Sisa 5 : هـ Ha (5)
Sisa 6 : ج Jim (3)
Sisa 7 : ز Zai (7)
Sisa 8 : د Dal (4)

Kemudian jumlahkan angkanya ke hari Ahad.

Contoh:
Jika sisanya adalah 1, maka tahun tersebut adalah tahun (ب) ba. Artinya, awal tahunnya adalah hari Senin. Jika tersisa 2 maka tahun tersebut tahun (و) wawu. Artinya awal tahunnya hari Jumat. Jika tersisa 8 maka tahun (د) dal. Artinya awal tahun tersebut adalah hari Rabu.

Contoh hitungan:
Tahun 1418 H.
Dibagi 8, hasilnya bulatnya 177.
Sisa 2.
Berarti, tahun 1418 H adalah tahun (و) wawu (rumusnya 6). Awal tahunnya jatuh lada hari Jumat, karena merupakan hari keenam dari Minggu.

3. Metode Hari Raya

Masih dalam kitab Nushushul Akhyar fish Shoumi wal Ifthar, al Maghfurlah KH Maimoen Zubair mengatakan:

Terdapat khobar dalam kitab Syarah Zarqoni alal Baiquniyah hal 44. Yang teruji sering tepat, yaitu:

يوم نهركم يوم صومكم، و يوم فطركم يوم سنتكم الجديدة

“Hari idul adha kalian itu (sama) dengan hari awal puasa kalian. Kali idul fithri kalian itu (sama) dengan hari tahun baru hijriah kalian.”

Nah, itulah ketiga metode super mudah yang para ulama ajarkan kepada kita. Namun, perlu dicatat bahwa hisab ishthilahy tidaklah qothi. Tidak dianggap secara syariat (untuk menjadi dasar hakim dll), walaupun memang telah berlangsung penggunaannya. Antara hisab ishthilahy dan tahun hijriah memang sering terjadi kesesuaian, namun sering juga terlambat 1 atau 2 hari dibanding hisab qothi.

Wallahu a’lam bishshawab
(Ditulis oleh Mahasantri Mahad Aly Zawiyah Jakarta)

Referensi:
– Nushushul Akhyar fish Shoumi wal Ifthar lis Syaikh Maimoen Zubair
– Nuzhatul Majalis wa Muntakhobun Nafais lil Imam Abdurrahman bin Abdis Salam as Shofury

Comment here