Artikel

Sunnahkah menikah di bulan Syawal?

Menikah di bulan Syawal memiliki keistimewaan tersendiri, sebagaimana yang dikatakan Syaikh Ahmad bin Zainuddin al Malibari dalam Fathul Muin bisyarhi Qurrotil Ain:

ﻭ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﻜ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻘ‍‍ﺪ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺴ‍‍ﺠ‍‍ﺪ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﻡ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻤ‍‍ﻌ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻭ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ شوال, ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﺪ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﻀ‍‍ﺎ

“(Disunnahkan) hendaknya akad nikah dilaksanakan didalam masjid, pada hari jumat, di permulaan hari, di BULAN SYAWAL, dan juga melakukan jimak di bulan Syawal.”

Namun, apakah yang menyebabkan menikah di bulan Syawal bernilai sunnah?

Simak Selengkapnya:

Dasarnya adalah hadits yang bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha berikut:

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي
(رواه مسلم)

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi dan menjimak diriku di bulan Syawal, dan siapakah diantara istri-istri beliau yang lebih utama ketimbang diriku?”
(HR. Muslim)

as Sayyid al Bakri Syatho dalam kitab Ianatuth Thalibin ala Halli Alfazhi Fathil Muin mengomentari hadits ini dengan ucapan:

‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺭ‍ﺩ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍

“Hadits ini mengandung bantahan terhadap orang yang membenci (pernikahan pada bulan) tersebut.”

Hal ini senada dengan yang dikatakan as Syaikh Abu Muhammad Maulana at Tihami dalam kitab Qurrotul Uyun bisyarhi Nazhm ibni Yamun (hal. 23):

و أن الشهور كلها في ذالك سواء، لكن يستحب شوال، خلافا لما زعم من الجهال كراهية العقد و الدخول في المحرم و شوال

“Sesungguhnya setiap bulan dalam perkara tersebut (nikah) adalah sama saja, namun disunnahkan bulan Syawal, untuk melawan anggapan orang bodoh yang tidak menyukai akad nikah dan jimak di bulan Muharram dan Syawal.”

Dengan demikian, menikah di bulan Syawal adalah pilihan yang tepat bagi kalian yang sudah mampu untuk menikah.

Intaha.
Wallaahu a’lam bish Shawab

(Ditulis oleh mahasantri Mahad Aly Zawiyah Jakarta)

Referensi:
– Fathul Muin bisyarhi Qurrotil Ain lil Imam Ahmad bin Zainuddin al Malibari
– Ianatuth Thalibin ala Halli Alfazhi Fathil Muin lis Sayyid al Bakri Syatho
– Qurrotul Uyun bi Syarhi Nazhm ibni Yamun lis Syaikh Abi Muhammad Maulana at Tihami

Comment here