Mengais Keberkahan Dalam kesuksesan

Oleh: Kuswati Amirah

Adakah orang yang tidak ingin sukses dalam hidupnya? Bentuk ungkapan ini bukanlah sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban. Namun, Pertanyaan ini adalah salah satu gaya bahasa yang mengandung pernyataan tegas bahwa setiap manusia mendambakan kesuksesan. Tidak dipungkiri juga, kata sukses adalah kata yang paling “laris” bak kacang goreng dalam konsep pikiran manusia saat tahun baru di depan mata. Kesuksesan memiliki arti dan pemahaman yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mana kata ini akan dibidik, tujuannya dan harapan yang diimpikan. Kebanyakan orang mengartikan sukses ketika seseorang mampu menjalani hidupnya sesuai yang diharapkan secara materi serta tercapainya target-target yang direncanakan.

Namun, Islam berbicara kesuksesan yang sudah digenggam seseorang haruslah berbanding lurus dengan satu kata yang juga diidam-idamkan seorang muslim yaitu keberkahan. Oleh karena itu kesuksesan bukanlah akhir suatu ambisi semata namun, bagaimana proses panjang menggapai harapan yang dilalui penuh liku, namun tetap pada track yang dibenarkan Islam. Maka bagi seorang muslim kesuksesan yang hakiki adalah ketika apa yang telah dijalani dan apa yang yang telah direncanakan diwarnai oleh keberkahan dan bermanfaat bagi orang lain. Keberhahan inilah yang menjadikan manusia mencapai kebahagiaan. Oleh karena itu setiap muslim haruslah paham apa yang menjadi sumber keberkahan dan bagaimana caranya agar hidup penuh berkah.

Pengertian berkah, sebagaimana yang dijelaskan oleh salah seorang ulama tafsir abad ke-5 H, Abu al-Hasan ‘Ali ibn Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Ali al-Wahidi an-Naisaburi asy-Syafi’i (Al-Wahidi) dalam kitab tafsirnya at-Tafsir al-Basith. Beliau menjelaskan ketika menafsirkan kata مباركا dengan pengertian :

البركة : كثير الخير, أن جعل فيه وعنده البركة : كثرة في كل الخير

“Keberkahan adalah banyaknya kebaikan, menjadikan di dalamnya (banyak kebaikan), dan memiliki keberkahan maksudnya adalah banyaknya segala bentuk kebaikan”.

Dalam kitabnya, al-Wahidi mengutip juga pendapat dari ulama ahlu al-Lughoh, Ibn Faris dalam kitab Maqoyiis al-lughoh, asal arti kata al-barokah adalah:

لثبوب , من قولك : ( برك , بركا , وبروكا ) إذا ثبت على حاله. فالبركة : ثبوت الخير, بنموه و تزيده

قال ابن فارس : الباء و الراء و الكاف , أصل واحد وهو: ثبات الشيء ثم يتفرع فروعا يقارب بعضها بعضا (كتاب مقاييس اللغة)

“ (al-Barokah) adalah tetap, dari kata baroka, barkan, buruukan) ketika (sesuatu) tetap dalam suatu kondisi. Maka berkah adalah tetapnya kebaikan, tumbuh dan bertambah. Berkata Ibn Faris: huruh ba, ro dan kaf adalah huruf asalnya, yaitu (memiliki pengertian) tetapnya sesuatu kemudian bercabang yang saling berdekatan (Kitab maqayiis al-Lughoh)”.

Dengan demikian yang dimaksud dengan berkah adalah tetapnya suatu kebaikan terhadap apa yang dicapai dan kebaikan itu selalu berkembang dan bertambah. Baik kebaikan itu bersifat materi maupun immateri. Tidaklah salah ketika misalnya ada dua orang mencapai target atau cita-cita yang sama namun memiliki nilai kebaikan yang berbeda, baik kebaikan yang dirasakan oleh dirinya maupun kebaikan yang dirasakan orang lain. Maka berdasarkan rujukan di atas, ada tiga karakter suatu keberkahan: pertama, adanya nilai kebaikan. Kedua, selalu tumbuh dan berkembang (memiliki nilai kebaikan di semua aspek). Ketiga, selalu bertambah (kebaikan yang selalu meningkat dari sebelumya).

Menggapai keberkahan tidaklah cukup bagi seorang muslim memahami arti berkah saja. Seorang muslim haruslah paham apa yang menjadi sumber keberkahan. Dengan mengetahui sumber keberkahan maka akan lebih yakin tujuan dan mengapa kita harus menggapai keberkahan. Ternyata, sumber keberkahan adalah kitab suci al-Qur’an yang menjadi pedoman muslim. Al-Qur’an sendirilah yang mensifati dirinya sebagai sumber keberkahan, surah Shad: 29

كِتبٌ أَنْزَلْنهُ إِلَيْكَ مُبرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَاب

“ Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.

Imam ar-Razi (abad ke-7 H) dalam tafsirnya, Mafatiih al-Ghoib menjelaskan permasalahan kata mubarokah pada ayat di atas bahwa:

…أَنَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا أَنْزَلَ هَذَا الْقُرْآنَ لِأَجْلِ الْخَيْرِ وَالرَّحْمَةِ وَالْهِدَايَةِ…

“…Sesungguhnya Allah menurunkan AlQur’an ini bertujuan untuk kebaikan, rahmat dan hidayah…”

Seberapakah sulit mencapai keberkahan? Mungkin ini pertanyaan yang muncul setelah membaca penjelasan di atas. Keberkahan selalu identik dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan muncul ketika seseorang dilingkupi dengan ahlak al-karimah. Seperti rasa syukur, qonaah, rendah hati, tawakkal,optimis, kasih sayang dan semua dimensi ahlak yang baik.

Semua ahlak yang baik terangkum dalam satu kata kunci yaitu ihsan, dan ihsan dapat terwujud ketika seseorang melaksanakan ajara Islam dengan penuh kesadaran dan kebutuhan akan mematuhi aturan-aturan Allah. Dan kedua unsur inilah (ihsan dan Islam) termaktub dalam satu kata yang dahsyat yaitu iman yang merupakan landasan ketakwaan. Hal ini senada yang gambarkan di dalam Al-Qur’an, Allah akan membuka pintu keberkahan suatu kaum ketika mereka beriman dan bertakwa. Surah al-A’raf: 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka keberkahan dan keimanan adalah dua komponen yang tidak dapat dipisahkan dan harus seiring sejalan bagi seorang muslim, agar kualitas hidupnya lebih berdaya guna dalam memerankan eksistensinya sebagai hamba Allah, sebagai mahluk individu, maupun sebagai mahluk sosial. Al-Quran menjadi pedoman dan menjadi kurikulum yang dahsyat bagi kehidupan manusia dari Zat Yang Maha segala-galanya. Mengais keberkahan adalah puncaknya cita-cita mulia seorang muslim, akankah rencana kita ingin lebih dekat dengan al-Qur’an di tahun depan?

Referensi:

Al-Qur’an al-Karim

Kitab at-Tafsir al-Basith (Al-Wahidi)

Kitab Mafatiih al-Ghoib (Ar-Razi)

Dan sumber-sumber lainnya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *