Pentingnya Rasa Ta’zim Kepada Guru

Oleh : Agung

(Mahasiswa Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Dalam kitab adaabul alim wal muta’lim karya Hadrotussyaikh Kh. Hasyim Ashari, ‌Imam Syafi’i suatu ketika pernah ditanya: “Bagaimana pengakuanmu terhadap budi pekerti?.Beliau menjawab: “Aku mendengarkan perhuruf darinya, sehingga semua anggota tubuhku menjadi senang, sesungguhnya seluruh anggota tubuhku mempunyai pendengaran yang bisa menikmatinya.

Kemudian beliau ditanya lagi, “Bagaimana cara engkau mencari budi pekerti itu?” Beliau menjawab: ”Aku mencarinya ibarat orang perempuan yang kehilangan anaknya, kemudian ia mencarinya. Sementara ia tidak mempunyai orang lain selain anak itu.”Begitu pentingnya Budi pekerti/Akhlak terhadap siapapun, terlebih kepada para guru dan ulama kita. Karena berkat beliau kita memperoleh berbagai macam bidang ilmu. Karenanya rasa ta’zim harus kita miliki kepada mereka. Ada cerita menarik kenapa ketika kita mengirim fatihah/bertawasul kepada Al Habib Abdurrahman Al Athos selalu diiringi dengan nama Syaikh Ali Abdillah Baros atau harus menyertakan beliau juga.

Dulu, ketika itu waktu Alhabib Umar sedang mengajar di majlisnya yang dihadiri banyak muridnya yang pada umumnya ulama (termasuk juga Syaikh Ali didalamnya). Dicengangkan oleh kedatangan Nabi Allah Khidir A.s ke majlis ilmunya tersebut.
Kemudian Sang Guru (Alhabib Umar) berkata, “wahai murid disana ada Nabi Allah Khidir a.s datang”. Serentak semua murid bangun mendengar perkataan gurunya yang alim tersebut. Tetapi ada satu orang murid yang tetap diam tidak bergeming dari duduknya. Beliau adalah Syekh Ali Bin Abdillah Baros.
Lalu sang guru (Alhabib Umar) bertanya “Wahai muridku, kenapa engkau tidak menyambut kedatangan Nabi Allah Khidir A.s seperti murid-murid ku yang lain?” lalu Syekh Ali menjawab “Kenapa aku harus bangun dari dudukku wahai tuan guru? Sedangkan di depanku ada guruku sendiri, yang bahkan Nabi Khidir a.s yang Allah telah angkat menjadi nabi menyempatkan untuk menjumpai engkau?”.
Alhabib Umar Bin Abdurrahman Al Athos sang guru pun berkata “Wahai muridku, sungguh besar rasa ta’zimmu kepadaku, maka dengan rasa ta’zimmu kepadaku ini, jika kelak ada orang yang mengirimkan Al Fatihah kepadaku tanpa namakmu ikut serta setelahnya. Tidak akan aku terima Fatihahnya.

Dari cerita ini kita tahu betapa Mulianya Alhabib Umar Bin Abdurrahman Al Athos sampai Nabi Alloh Khidir a.s datang langsung untuk menjumpainya dan betapa besar rasa ta’zim Syeh Ali Bin Abdillahibaroys kepada sang guru. Sehingga dari sini kita sebagai santri atau murid dapat menyimpulkan betapa pentingnya mencari guru yang benar yang ilmunya nafi atau manfaat bagi umat. Juga pentingnya mempunyai rasa ta’zim yang besar kepada guru atau pengajar, sehingga turunlah keberkahan dan keikhlasan ilmu dari guru tersebut dan bermanfaat bagi semuanya.

Mungkin para pembaca sudah tau bahwa, para pengajar agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, mereka semua itu ada di pesan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bersabda ;
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Dari perkataan Baginda Nabi terisrat, bahwa mereka para guru para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.
Berbeda jauh dengan zaman salaf, sekarang kita lihat begitu mirisnya, Banyak kita lihat dan baca di media pada lingkungan pendidikan. Ketika sang guru memberikan perintah, si murid dengan berani menyangkal atau mengabaikan perintah gurunya, lalu ketika sang guru menghukumnya. Lantas si murid melawan dengan tindakan verbal maupun fisik, bahkan melaporkan dengan dalih “HAK ASASI”. Jadi rasanya tidak heran kalau di zaman sekarang banyak pemimpin tidak amanah, pejabat korupsi, dan kejahatan lainnya dimana-mana, lantaran ilmunya tidak berkah.

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan :

اصبر على مر من الجفا معلم
فإن رسوب العلم في نفراته
“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”
Ketika kerasnya beliau-beliau pun kita juga dituntut harus bersabar seperti dalam syair masyhur dalam 6 keutamaan menuntut ilmu salah satunya adalah “Sabar”. Bayangkan betapa waktu berharga yang mereka korbankan demi mengajar kita para muridnya, jadi saya rasa adalah hal yang wajar ketika sesekali mereka jenuh ataupun marah. Bahkan para saafusshalih berkata pada doanya ;

اللهم استر عيب شيخي عني ولا تذهب بركة علمه مني
“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.”
Maka dari itu mari kita doakan para guru kita agar Allah ampuni segala khilaf dan dosanya, berkahkan umurnya, Allah terima segala amal ibadahnya dan juga luruskan hati kita bersama, sehingga niat kita mencari ilmu menjadi baik agar timbul rasa ta’zim sehingga mendapatkan keberkahan dan keridhoan guru atas ilmu yang kita dapat. Dan Allah jadikan ilmu kita, ilmu yang manfaat dunia & akhirat.

Wallahu taala a’lam
Jakarta, 15 Rabiul Akhir 1441H

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *