Menjadi Keluarga Sakinah, Mawaddah Warahmah : Nasehat Pernikahan

 

*Oleh : Hayat Abdul Latief*

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An Nisa: 1)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabb-nya: ‘Ya Rabb-ku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkau-lah Waris Yang Paling Baik.’” [QS. Al-Anbiyaa’: 89].

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. ‘

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’” (HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah)

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” ( (no. 625)

agar mencapai ketentraman rumah tangga yang dalam bahasa Arab disebut sakinah mawaddah maka ikutilah 4 petunjuk ini,

1. Kenceng-kendor. Maksudnya adalah antara suami dan istri harus ada yang mengalah. Kalau suaminya marah istrinya harus mengalah, demikian juga sebaliknya. Kalau kedua-duanya tidak ada yang mengalah maka yang terjadi adalah pertikaian perpecahan bahkan bisa berujung kepada perceraian. dengan mudah sekali mengajukan alasan karena tidak ada saling kecocokan. keduanya bukan tidak ada saling kecocokan tapi keduanya sama-sama tidak ada yang mengalah.

2. Masuk-Keluar. Maksudnya adalah suami-istri harus saling memberi atau take and give. Rasulullah SAW berkata dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Ahmad:

لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Yang artinya: “Janganlah marah (laki-laki Muslim/suami) kepada seorang wanita Muslimah (istri). Jika tidak menyukai perangai darinya, maka sukailah perangai lainnya.”.

3. Celentang-Tengkurep. Antara suami istri harus saling terbuka tidak boleh saling tutup menutupi.

4. Merem-Melek. Merem artinya seorang suami atau istri menutupi aib pasangannya. melihat artinya seorang istri atau istri harus apresiasi kebaikan kelebihan atau sifat mulia pasangannya.

Kalau sudah kenceng kendor keluar masuk celentang tengkurep dan merem melek tandanya sudah bahagia, alias angguk-angguk.

*Penyakit Berumah Tangga*

*Pertama, kutilan,* kurang tahu ilmu dan tujuan pernikahan.

Tujuan pernikahan adalah Supaya kita bisa hidup damai penuh ketenangan, saling jaga, saling melengkapi saling membahagiakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)

*Kedua, jerawat*, jarang doa lewat shalat. Amalkanlah doa ma’tsur dari al-qur’an untuk kebaikan rumah tangga

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

*Ketiga, sembelit,* sedekah dan memberi sangat sulit. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’” (HR. Bukhari-Muslim)

*Menjadi Suami Shalih dan Istri Shalihah*

Ciri wanita soleha yang utama adalah taat kepada Allah, menjaga diri ketika suaminya tidak ada dan suami ridho kepadanya, sesuai dengan firman-Nya,

فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ‌

Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). (QS. An Nisa: 34)

Bila seorang laki-laki ingin mendapatkan istri solehah demikian juga seorang wanita ingin mendapatkan suami yang sholeh. Inilah di antara ciri-ciri suami sholeh: Kuat amalanya, bagus akhlaknya, santun, bersabar dan pemaaf sifatnya serta mampu memimpin dan mendidik anak-istrinya.

Sinergi antara suam- istri dalam membangun keluarga sakinah, mawadah warahmah adalah satu keharusan agar melahirkan keturunan yang sholeh dan Sholihah dan keluarga yang mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At Taubah: 71)

*(Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat)*

*Penulis: Direktur Korp Da’i An Nashihah Bekasi*

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Ma sya Allah, Alhamdulillah postingan nya bagus dan bermanfaat in sya Allah…
    Mudah²an menjadi ladang kebaikan buat yang membaca dan yang menuliskan nya.
    Aamiin ya Rabb…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *