Banyak Jalan Menuju Dakwah

 

Peran Teknologi Informasi Dalam Perkembangan Dakwah

Semua perubahan dalam kehidupan manusia dewasa ini dimulai dengan kemajuan di bidang teknologi informasi. Adapun tujuan teknologi informasi antara lain yaitu : pertama, dapat memecahkan suatu masalah, kedua, membuka kreativitas, dan ketiga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam melakukan pekerjaan. Karena pada saat ini masyarakat tengah membutuhkan percepatan informasi yang begitu luar biasa. Dan ini semua terjadi karena komunikasi dan teknologi informasi memiliki peran besar dalam masyarakat kita.

Ada beberapa prinsip yang terdapat dalam budaya informasi. Pertama, informasi itu selalu ada serta tidak dapat dibendung. Artinya tidak dapat dibendung dalam artian sekecil apapun yang terjadi. Kedua, keinginan seseorang khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi cenderung lebih besar. Oleh karena itu, keberadaan teknologi informasi ini dapat menjadi salah satu solusi yang bijak.

Begitu juga dalam bidang dakwah. Perkembangan teknologi informasi (TI) melaju dengan cepat dan dibarengi dengan berbagai inovasi dapat mendekatkan atau menjauhkan masyarakat kepada pemahaman agama. Saat ini, nyaris tidak ada lagi batasan bagi manusia dalam berkomunikasi, mereka dapat berkomunikasi kapan saja dan di mana saja. Perkembangan informasi tidaklah menunggu hari, jam, atau menit, namun dalam hitungan detik bermacam-macam informasi baru sudah dapat ditemui di internet. Sehingga ragam bentuk dakwah akan hadir baik dipahami maupun mengalir begitu saja.

Islam tumbuh dengan cara menebarkan kedamaian, dan adaptif melalui berbagai instrumen yang sesuai konteks zaman.  Dakwah sebagai seruan kebajikan dan kemaslahatan memiliki makna transformasi sosial menuju masyarakat berkeadaban. Maka peran teknologi informasi sangat penting dalam pelaksanaan dakwah di kalangan masyarakat. Dakwah dengan menggunakan IT akan memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dakwah secara manual sebagaimana model dakwah sebelum era milenial. Dakwah dengan cara lama, seperti metode ceramah langsung atau dengan surat kabar atau koran membutuhkan waktu khusus. Bahkan tidak jarang membutuhkan lebih banyak biaya. Adapun daya jangkau dakwah dengan IT lebih jauh dan meluas.Dakwah melalui media sosial (online) lebih cepat tersampaikan. Hanya dengan satu posting sudah dapat menjangkau khalayak luas.

Kebutuhan Masyarakat akan Dakwah

Perlahan tapi pasti agama dan spritualitas tampil kembali sebagai sebuah kebutuhan yang dianggap mendasar. Bukan karena adanya hal menarik didalamnya namun disebabkan oleh hal-hal lain seperti ambruknya ideologi-ideologi raksasa, materialisme yang dirasakan dangkal dan kekosongan batin manusia sekuler yang semakin akut. Untuk sekian kalinya agama berkesempatan untuk mengambil peran utama dalam kehidupan sosial manusia. Banyak dari masyarakat saat ini yang lebih suka membuka internet dan mengunjungi “google” untuk mencari jawaban dari permasalahan sehari-hari mereka dari pada bertanya pada seorang yang memiliki pengetahuan agama mendalam. Hal ini disebabkan karena banyak kalangan masyarakat yang memahami kegitan dakwah sebagai upaya memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah yang menerpa kehidupan masyarakat.

Memasuki era milenial seperti sekarang ini tantangan terhadap gerakan dakwah sangatlah kompleks, baik yang bersifat konkret maupun ideologis. Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada era ini mengakibatkan dampak destruktif bagi gerakan dakwah dan penyiaran misi Islam pada masyarakat. Demikian munculnya berbagai pemahaman dan ideologis dapat menggeser eksistensi dakwah yang pada gilirannya akan mendesak lingkup dan laju dakwah Islam. Perlu diingat bahwa konteks jejaring masyarakat yang menjadi objek dakwah saat ini adalah orang yang bersifat aktif. Hal ini, karena mereka tidak hanya dapat menerima pesan, namun juga dapat mengkritiki, merespon, mengomentari bahkan melakukan reproduksi pesan-pesan dakwah.

Dakwah di Era Sebelum Milenial

Kita tentu mengenal dakwah sebagai sebuah kegiatan mengajak masyarakat untuk memperdalam ajaran Islam atau mengajak non-muslim untuk masuk Islam. Dakwah banyak macamnya, umumnya berbentuk ceramah yang diadakan di rumah, masjid atau diluar ruangan.

Ketika teknologi cetak dan elektronik analog muncul, dakwah menyasar masyarakat luas melalui buku, kaset, radio dan televisi analog. Dakwah model ini bisa diartikan sebagai dakwah konversional atau era dakwah 1.0 (sebelum era milenial), di mana dakwah masih mengandalkan kehadiran fisik, baik itu pendakwah (dai) ataupun jamaah yang didakwahi. Satu ciri khas dari dakwah 1.0 adalah dibutuhkannya kemampuan otoritatif dalam bidang agama dari seorang dai, baik itu melalui pembelajarannya di pesantren ataupun secara otodidak. Yang jelas, seorang dai era dakwah 1.0 harus punya literasi kuat terhadap literatur keagamaan agar dia bisa berdakwah.

Dakwah di Era Milenial

Dan ketika dunia memasuki era milenium dan kehidupan manusia dipenuhi dengan teknologi digital, metode dakwah mulai beradaptasi dengan tidak hanya mengandalkan fasilitas yang terbatas oleh ruang dan waktu ataupun teknologi analog, tetapi juga mengandalkan dunia digital terutama media sosial.dakwahpun berkembang sangat luar biasa, sekaligus membawa efek positif dan negatif pada masyarakat.

Menurut peneliti Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Hew Wai Weng (2015), selain tetap menggunakan tipologi dakwah konvensional, dakwah 2.0 ditandai dengan penekanan pada tiga aspek penting: estetika visual, menggunakan cara yang komunikatif (seperti forum tanya jawab) dan strategi marketing.

Tidak dapat dipungkiri masyarakat haruslah menghadapi dampak dari masuknya era industri 4.0 ini, baik dalam bentuk agresi politik, kultural, ekonomi dan ideologi yang memarjinalisasi dan mendiskualifikasi struktur tradisional masyarakat yang telah mapan. Pada tataran ini gerakan dakwah dituntut untuk memberikan paradigma-paradigma baru yang mampu mentranfer ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Signifikansi dakwah Islam dalam perkembangan tata nilai masyarakat adalah bagaimana cara pandang masyarakat yang berubah tersebut, diarahkan pada nilai-nilai positif yang berasal dari cara pandang dan ajaran Islam.

Saat ini, untuk mendengarkan pengajian tidak harus berhadapan langsung dengan ulama, namun cukup dengan mengakses internet, masyarakat bisa mendapatkan bahan bacaan keagamaan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan dan di manapun mereka berada. Para pelaku dakwah sudah seharusnya memanfaatkan media baru beserta aplikasi-aplikasinya sebagai sarana dalam berdakwah. Berbagai media itu bermanfaat untuk menanamkan nilai, ideologi, atau gagasan yang dipandang penting. Di era dakwah milenial ini, bisa dikatakan bahwa otoritas keagamaan bukan lagi satu-satunya ukuran orang bisa berdakwah.

Para jamaah mempunyai kewenangan mutlak untuk menentukan program dakwah seperti apa yang akan diikutinya sesuai dengan tingkat kepuasan yang ingin dicapainya dari beragam program yang diikutinya. Fakta ini merupakan kontra teori yang menyatakan bahwa para tokoh dan media massa yang mendominasi pengikutnya.

Oleh karena itulah perlu adanya niatan yang baik, akhlak baik dan kehati-hatian supaya tidak terjebak pada hal-hal yang tidak diharapkan dari mudharatnya penggunaan IT.

Oleh : Badrah Uyuni

Diambil dari berbagai sumber

 

 

 

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *