Dakwah, Tantangan Dan Peluangnya Di Tengah Wabah (Pandemi) Virus Corona

 

 

Hayat Abdul Latief

 

Allah SWT berfirman,

 

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)

 

*Kewajiban dakwah*

 

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim agar menjadi umat yang terbaik. Allah ta’ala berfirman,

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

 

*Di antara tujuan-tujuan dakwah sebagai berikut:*

 

*Satu،* menolong manusia agar beribadah kepada Allah SWT sesuai dengan syariat Islam.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

*Dua,* menolong manusia agar saling kenal-mengenal.

 

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13) }

 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

 

*Tiga,* merubah kondisi yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik.

 

عن أبي سعيد الخدري رضي اللّه عنه قال: سمعتُ رسولَ اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: “مَنْ رأى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فإنْ لَم يَسْتَطِعْ فَبِلِسانِهِ، فإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذلكَ أضْعَفُ الإِيمَانِ

 

Artinya: Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda:” Siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya dan jika tidak mampu dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

 

*Empat,* membina pribadi muslim. Ruang Lingkung Kepribadian Islami:

 

1. Aspek ruhiyah-ma’nawiyah

 

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10

 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

 

Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ruhiyah-ma’nawiyah seseorang adalah:

 

a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah.

 

b. Aspek akhlaq. Rasulullah SAW bersabda,

 

َ إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

 

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Imam Malik Rah. Alaih)

 

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Aisyah berkata;

 

كان خلقه القرآن

 

“Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an”

 

c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang.

 

2. Aspek fikriah

 

Fikrah yang dimaksud meliputi:

 

a. Wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

 

ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨﺎﺱِ ﺃَﻧْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻟِﻠﻨﺎﺱِ

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ no:3289).

 

b. Pola pikir islami. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir:

 

افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون

“Kenapa tidak menggunakan akal kalian, kenapa tidak mengambil pelajaran, kenapa tidak berfikir, mudah-mudahan kalian berfikir, mudah-mudahan kalian mengambil pelajaran.”

 

c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat.

 

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

 

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

 

3. Aspek amaliyah-harakiyah

 

Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik, tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata. Allah Ta’ala berfirman :

 

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

 

*Tantangan dan peluang dakwah di tengah wabah Corona*

 

Ada banyak tantangan dalam dakwah yang harus dihadapi di era Covid-19 saat ini. Di antaranya

 

*Satu,* meluruskan tauhid umat berkaitan dengan wabah penyakit. Menjadi kewajiban seorang da’i meluruskan aqiqah umat, agar mereka tidak panik, namun tetap waspada menjaga kesehatan, kebersihan, sosial distance dan kurangi aktivitas di luar rumah.

 

*Dua,* ruang gerak da’i yang terbatas. Disikapi dengan dakwah lewat sosial media mensilaturrahimkan ide, wawasan, usulan atau pandangan keislaman seorang da’i yang berkaitan dengan problematika keumatan.

 

*Tiga,* semangat da’i sendiri yang terbentur ruang dan waktu. Seorang da’i laksana lampu yang tidak boleh padam karena umat butuh penerangan. Seorang da’i merupakan perpanjangan tangan kerja dan program langit meneruskan estafet dakwah para nabi dan Rasul termasuk nabi kita Muhammad SAW.

 

يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5)

وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

 

1). Hai orang yang berkemul (berselimut),

2). Bangunlah, lalu berilah peringatan!

3). Dan Tuhanmu agungkanlah!

4. Dan pakaianmu bersihkanlah,

5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7)

 

Selain tantangan dan solusinya di atas di sana ada tantangan yang lebih berat, yaitu: pemikiran liberal, LGBT,

Penyimpangan, fanatisme golongan dan dangkalnya pemahaman umat terhadap Islam.

 

Alhasil, virus Corona merupakan satu pandemi yang harus diwaspadai dengan doa dan ikhtiar yang sempurna, meskipun demikian tidak boleh pula takut yang berlebihan. Perlu dicamkan bahwa pandemi dan virus pemikiran liberal, virus LGBT, virus pemahaman menyimpang, virus fanatisme dan dangkalnya pemahaman umat terhadap Islam menjadi tantangan dakwah yang lebih berat dari pada virus Corona itu sendiri. Wallahu A’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat

 

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *