Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Pertama, sudahkah kita menjadi hamba yang bersyukur? Rasulullah SAW ketika dikomplen sayyidah Aisyah R. Ha tidak semestinya beliau memberatkan diri dalam shalat malam sampai-sampai kaki menjadi bengkak. Padahal dosa yang terdahulu dan yang akan datang sudah diampuni Allah SWT. “Tidak senangkah engkau kalau aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” Itulah jawaban cerdas Rasulullah atas pertanyaan istri tercintanya.

 

Allah SWT memberikan Alkautsar kepada kanjeng nabi Muhammad. Kautsar adalah sumber mata air ma’nawi-surgawi yang aliran kebaikan tidak akan putus meskipun kehidupan dunia telah berakhir. Kautsar bisa diartikan kenabian, Alquran, sunnah atau telaga yang Allah khususkan untuknya. Beruntung bagi umatnya yang diberi seteguk kautsar yang tidak akan kehausan untuk selama-lamanya.

 

Sebagai tanda syukur, Allah meyuruh nabi juga umatnya untuk shalat dan berqurban sebagai napak tilas perjuangan nabi Ibrahim. Orang yang memiliki keluasan rizki di hari raya idul adha namun tidak bertaqarrub kepada Allah SWT melalui menyembelih binatang qurban, ia tidak bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Sabdanya, “Siapa yang memiliki keluasan rizki lantas tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami.”

 

Kedua, anjuran bagi orang yang berqurban meluruskan niat karena Allah SWT. Bukankah Allah mengajarkan nabi kita – juga umatnya – untuk mengikrarkan – “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Rabbul ‘Aalamiin.” Firman-Nya, Daging dan darah binatang quran tidak akan sampai kepada (dan diterima oleh) Allah, Akan tetapi yang sampai ke (hadirat) Allah (karena) taqwa darimu.”

 

Di antara ciri orang yang bertaqwa adalah ikhlas dalam beramal, dan orang ikhlas tidak mudah diperdaya syetan.

 

Ketiga, berqurban merupakan salah satu indikator memiliki karakter dermawan dan suka berbagi. “Orang dermawan/pemurah dekat dengan Allah, dekat dengan jannah dan jauh dari neraka. Dan orang bakhil (menahan kebaikan kepada orang lain) jauh dari Allah, jauh dari jannah dan dekat dengan neraka.” Demikian sabda nabi Muhammad SAW.

 

Keempat, perbedaan status sosial dalam kehidupan masyarat tidak boleh ada jurang pemisah. Maka ibadah zakat, sedekah dan qurban menjembati kecemburuan sosial dari si papa kepada si kaya.

 

Kelima, sebelum menjadikan nabi Muhammad dan nabi Ibrahim sebagai teladan, mari kita renungkan sebuah doa dari Alquran, – “Ya Allah anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan hidup dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami sebagai imam (teladan) bagi orang-orang yang bertaqwa.” Pesan dari doa tersebut, kita tidak diperkenankan menjadi sholeh sendirian, tetapi pasangan hidup, anak keturunan dan masyarakat juga diajak dan dibimbing menjadi sholeh.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

3 Komentar

  1. Subhanallah

  2. NABILA PUTRI SYAHARANI

    bagi umat Islam yang mampu di wajibkan untuk ber qurba’ n dan bagi yang tidak mampu sesungguhnya allah memberi keringanan bagi orang yang tidak mampu dan tidak di wajibkan untuk ber qurba’

    HUKUM NYA YANG BER QURBA’ N HUKUM NYA WAJIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *