Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Pernikahan yang dilandasi keimanan, ketakwaan, dan kasih sayang akan mewujudkan kebahagiaan, ketenteraman, dan keharmonisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tuntunan:

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «تُنكَح المرأة لأربع: لمالها، ولحسَبِها، ولجمالها، ولدِينها، فاظفَرْ بذات الدين تربتْ يداك» (متفق عليه).

 

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, bersabda: “Wanita dinikahi karena empat hal: karena harta, keturunan, kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah yang karena agamanya, semoga engkau berhasil dan selamat.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

 

Maksudnya adalah bahwa laki-laki secara umum memilih wanita yang dijadikan istrinya dengan mempertimbangkan empat hal ini. Prioritas mencari wanita yang akan dijadikan istri yang bagus dalam mempraktekkan agamanya tentu akan membawa keberkahan.

 

Lebih jauh Allah subhanahu wata’ala memperingatkan orang beriman agar memilih pasangan hidup yang seakidah dan tidak mencari di luar agama Islam. QS. Al-Baqarah:221 menyebutkan:

 

وَلَا تَنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟ ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ ۖ وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱلْجَنَّةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

 

Dikutip dari tafsir kementerian agama, pada ayat ini Allah memberi tuntunan dalam memilih pasangan:

 

*Satu,* pria-pria muslim, dilarang menikahi atau menjalin ikatan perkawinan dengan perempuan musyrikah (penyembah berhala) sebelum mereka benar-benar beriman kepada Allah dan nabi Muhammad.

 

*Dua,* dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala, hamba sahaya perempuan beriman yang berstatus sosial rendah menurut pandangan masyarakat lebih baik daripada perempuan musyrikah meskipun dia menarik hati karena kecantikan, nasab, kekayaannya, atau semisalnya.

 

*Tiga,* para wali, dilarang menikahkan orang laki-laki musyrik penyembah berhala dengan perempuan yang beriman kepada Allah dan rasulullah sebelum mereka beriman dengan sebenar-benarnya.

 

*Empat,* dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hati, karena kegagahan, kedudukan, atau kekayaannya.

 

*Lima,* Alasan pelarangan itu karena orang musyrik akan selalu berusaha mengajak ke dalam kemusyrikan yang menjerumuskan kita ke neraka, sedangkan Allah mengajak dengan memberikan bimbingan dan tuntunan menuju jalan ke surga dan ampunan dengan rida dan izin-Nya.

 

*Enam,* Allah menerangkan ayat-ayat-Nya, yakni tanda-tanda kekuasaan-Nya berupa aturan-aturan kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran sehingga mampu membedakan mana yang baik dan membawa kemaslahatan, dan mana yang buruk dan menimbulkan kemudaratan.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *