Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Di dalam kitab-kitab fiqih pembahasan awal biasanya dimulai dari thoharoh atau praktek hidup suci dan bersih dari hadas dan najis khususnya sebelum melaksanakan ibadah. Sedemikian indahnya Islam di dalamnya – ada aturan badan, tempat dan pakaian harus suci ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala.

 

Al-Qur’an menyebutkan,

 

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

 

“Dan bersihkanlah pakaianmu.” (QS. Al-Mudatsir: 4)

 

Ada beberapa penjelasan dari ayat ini, di antaranya ; mensucikan diri dari dosa, memurnikan niat dalam beramal, tidak boleh memakai baju yang berasal dari usaha yang tidak thaib (baik), tidak boleh memakai baju di atas kemaksiatan, anjuran mencuci pakaian dari najis, dan kadang-kadang ayat tersebut mengandung penjelasan pentingnya thaharah hati.

 

Ucapan yang baik lahir dari suasana hati yang baik. Sebaliknya ucapkan buruk, sumpah serapah atau trash talking mewakili suasana hati yang buruk. Teko (tempat air minum) akan mengeluarkan sesuai air yang ada di dalamnya. Demikian pula diri seseorang akan mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya.

 

Berkaitan dengan ucapan yang baik, Al-Qur’an memberikan arahan:

 

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى ۗ وَٱللَّهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ

 

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263)

 

Maksudnya, Kata-kata mulia yang menyenangkan hati orang mukmin dan kata maaf yang engkau berikan kepada orang yang berbuat buruk kepadamu lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan sesuatu yang menyakitkan hati, seperti menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan orang yang menerima sedekahnya. (Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid [Imam Masjidil Haram])

 

*Sikap terhadap Sumpah Serapah atau Ucapan Kasar*

 

Seseorang akan memberi sesuatu yang dimilikinya. Jika memiliki kebaikan maka dia memberikan kebaikan itu dan jika dia memiliki keburukan maka dia akan memberikan keburukan itu. Berkaitan dengan keburukan, jika seseorang memberi sesuatu kepada kita, tapi kita tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapa kah pemberian itu ? Tentu saja menjadi milik si pemberi.

 

Begitu pula dengan kata-kata kasar dari seseorang. Jika kita tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri.

Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia atau pun akhirat, karena energi negatif yg muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup.

 

Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepada kita, biarkan saja, karena mereka sedang membuang sampah hatinya. Jika kita diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau kita tanggapi, berarti kita menerima sampah itu.

 

Karena demikian QS. Al-furqan: 63 memberikan bimbingan kepada kita apabila kita diganggu oleh orang jahil maka kita tidak boleh menanggapinya.

 

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

 

“Dan para hamba Allah itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan tenang dan mantab tanpa bersikap angkuh. Dan ketika orang-orang bodoh berbicara kepada mereka tentang sesuatu yang menyakiti mereka (hamba Allah), maka mereka akan berkata: “Semoga keselamatan (atasmu)”. itu adalah salam perpisahan yang tidak mengandung kebaikan dan keburukan, serta bukan salam penghormatan.” (Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah)

 

Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *