Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Seorang mukmin ndengan keimanannya tidak boleh merasa aman dari azab Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

 

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

 

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”

(QS. Al A’raf: 99)

 

Al-Hasan Al-Bashri – seorang ulama dari kalangan tabiin – rahimahullahu ta’ala mengatakan:

 

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مُشْفِق وَجِل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

 

“Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Dalam hadits yang disebutkan oleh ‘Abdur Razaq dalam Mushonnafnya,

 

عن بن مسعود قال أكبر الكبائر الإشراك بالله والأمن من مكر الله والقنوط من رحمة الله واليأس من روح الله

 

“Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.”

(Hadith Riwayat Abdurrazaq, 10: 460, dikeluarkan pula oleh Ath Thabarani)

 

Sikap yang lebih baik adalah sikap pertengahan, iaitu tidak begitu melehihkan rasa harap (roja’), begitu pula tidak melebihkan rasa takut (khouf). Seharusnya pertengahan di antara keduanya.

 

Jadi jika ia memiliki rasa takut, janganlah membuatnya sampai berputus asa. Jika ia memiliki rasa harap, janganlah sampai ia menganggap remeh murka Allah.

 

Seorang hamba hendaknya tidak merasa aman dengan iman yang ia miliki. Bahkan seharusnya ia selalu merasa takut akan kecacatan imannya nanti. Sehingga itu membuatnya selalu berdoa pada Allah,

 

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

 

“Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbiy ‘alaa diinik” (Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu),

 

عن مسروق قال: ما من شيء خير للمؤمنين: من لحد، قد استراح من هموم الدنيا، وأمن من عذاب الله.

 

Tidak ada perkara yang memberi banyak kebaikan bagi orang mukmin melainkan liang lahad (kematian). Kerana di situ dia berasa bebas daripada kesibukan dunia serta dia berasa aman daripada azab Allah SWT. (Kitab Hilyatul Awliya’)

 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ “

 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam dan dari azab kubur, dan fitnah hidup dan mati dan kejahatan fitnah al-Masih Dajjal.”

 

*Faedah:*

 

*Satu,* tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (Al-Qur’an)

 

*Dua,* perbedaan mu’min taat dan ahli maksiat menurut Al-Hasan Al-Bashri: Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).

 

*Tiga,* di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah. (Al-Hadits)

 

*Empat,* seorang hamba hendaknya tidak merasa aman dengan iman yang ia miliki. Bahkan seharusnya ia selalu merasa takut akan kecacatan imannya nanti. Sehingga itu membuatnya selalu berdoa pada Allah agar diteguhkan hatinya dalam keimanan.

 

*Lima,* Rasulullah mengajarkan kepada kita sebuah doa – terutama dibaca setelah tahiyat akhir – yang berisi mohon perlindungan kepada Allah dari azab jahannam azab kubur fitnah hidup mati dan dari fitnah Dajjal. Wallahu alam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *