Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Seyogyanya para isteri tahu bahwa jima’ banyak menyelesaikan masalah rumah tangga terutama suami, di antaranya;

 

1. Menghindarkan suami memandang (tertarik) kepada wanita lain.

 

2. Menghindarkan suami dari melakukan zina. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

 

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).

 

3. Memberi keturunan kepada suami. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

 

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)

 

4. Melembutkan hati suami. Imam An-Nawawi رحمه الله berkata,

 

اعلم أن شهوة الجماع شهوة أحبها الأنبياء و الصالحون, قالوا لما فيها من المصا لح الدينية و الدنيوية, و من غض البصر, و كسر الشهوة عن الزنا, و حصول النسل الذي تتم به عمارة الدنيا و تكثر به الأمة إلى يوم القيامة. قالوا: و سائر الشهوات يقسي تعاطيهم القلب, إلا هذه فإنها ترقق القلب

 

“Ketahuilah bahawa syahwat jimak adalah syahwat yang disukai oleh Para nabi dan orang-orang soleh

Mereka berkata, kerana padanya terdapat berbagai mashalat agama dan dunia seperti menundukkan pandangan, meredakan syahwat dari zina dan memperoleh keturunan yang dengannya menjadi sempurna bangunan dunia dan memperbanyak jumlah umat Islam.

Mereka berkata, semua syahwat boleh mengeraskan hati jika ditunaikan kecuali syahwat ini, kerana boleh melembutkan hati.” (Syarh Al-Arbain An-Nawawiyah hal 91, Darul Aqidah, Koiro)

 

5. Menyelesaikan kebuntuan suami,

 

6. Membersihkan fikiran suami,

 

7. Memudahkan suami untuk belajar. Ibnu ‘Uqail Al-Hambil berkata,

 

كنت إذا استغلقت على مسألة، دعوت زوجتي إلى الفراش,فإذا فرغت من أمرها قمت إلى قراطيس أصب العلم صبا. لأن الجماع يصفى الذهن ويقوى الفهم.

 

“Ketika aku terkunci (buntu) pada suatu permasalahan (ilmu), maka aku panggil isteriku untuk berhubungan badan. Ketika aku selesai, maka aku ambil kertas dan aku tuangkan ilmu padanya (mulai menulis)”, kerana jimak dapat membersihkan fikiran dan menguatkan pemahaman.* (Quwwatul Qulub karya syaikh Abu Thalib Al-Makkiy)

 

8. Membersihkan hati suami. Al-Junaid Al Baghdadi berkata,

 

وكان الجنيد يقول : أحتاج الى الجماع كماأحتاج الى القوت. فالزوجة على التحقيق قوت وسبب لطهارة القلب. ولذللك أمر رسول الله كل من وقع نظره على إمرأة فتاقت اليها نفسه ان يجامع أهله.

 

“Aku memerlukan jimak sebagaimana aku memerlukan makanan. Isteri itu hakikatnya adalah penampilan badan dan menjadi sebab bersihnya hati. Oleh kerana itu Rasulullah memerintahkan kepada setiap lelaki yang melihat perempuan lalu bersyahwat, maka hendaknya ia menggauli isterinya.” (Ihya ‘ulumuddin hal. 389)

 

9. Menghindarkan suami dari sakit. Kita sering mendapati banyak pemuda-pemuda yang sering sakit-sakitan karena telat menikah. Namun setelah menikah hilanglah penyakit tersebut.

 

10. Meredakan marah dan emosi suami. Ibnul Qayyim Al Jawzi رحمه الله‌‎ menyimpulkan tujuan-tujuan jima’;

 

a. Menyambung keturunan dan kewujudan bangsa sehingga yang ditakdirkan Allah.

 

b. Mengeluarkan cairan yang akan mendatangkan kemudaratan pada tubuh badan apabila cairan itu tertahan

 

c. Memenuhi keperluan biologi, mencapai kenikmatan dan kesenangan. Tujuan inilah yang akan dinikmati di syurga, kerana di sana tidak ada kelahiran keturunan dan juga tidak ada sesuatu tertahan yang harus dikeluarkan.

 

Apabila air mani tertahan, ia akan mendatangkan penyakit-penyakit buruk, seperti was-was, hilang kewarasan (marah adalah permulaan kepada hilang kewarasan), khayal dan lain-lain. Oleh itu, secara semula jadinya, air mani akan terdorong keluar melalui mimpi basah bila berjumlah banyak, tanpa melalui jimak.

 

Inilah alasannya kenapa para istri (yang tidak dalam keadaan haidh, nifas dan udzur lainnya) dilarang menolak permintaan suami untuk berjima’. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda,

 

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

 

“Jika seorang lelaki mengajak isterinya ke ranjang (untuk berhubungan intim), lantas si isteri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Subuh.” (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436)

 

Perlu diketahui, jima’ merupakan sedekah suami kepada istrinya.Nabi ﷺ bersabda:

 

وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

 

“Dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan isterinya) adalah sedekah.

 

Mereka pun bertanya: “Adakah salah seorang dari kami memenuhi syahwatnya, dan dia memperoleh pahala di dalamnya?”

 

Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan sebuah analogi:

 

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

 

“Bukankah kalian telah tahu, seandainya dia memenuhi syahwatnya dengan cara yang haram, dia akan menanggung dosa? Demikianlah juga jika dia memenuhi syahwatnya dengan cara yang halal, maka baginya *pahala*.” (HR. Muslim no.1006)

 

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi istri yang tidak ada udzur untuk menolak ajakan suami untuk berjima’. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *