Oleh Hayat Abdul Latief

 

Seorang muslim dalam keislamannya harus memenuhi 5 syarat yang sempurna.

 

a. Ketaatan. Sangat bertolak belakang, seorang muslim yang dalam sepak terjangnya tidak menunjukkan ketaatan kepada Allah subhana wa ta’ala dan Rasul-Nya.

 

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

“….Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 71)

 

عن أبي هريرة ، عن النبي ﷺ أنه قال: كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل: يا رسول الله ومن يأبى؟! قال: من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى

 

“Dari Abu Hurairoh, dari baginda Nabi SAW bahwasanya beliau berkata: “Seluruh umatku masuk surga kecuali yang enggan” Lalu para sahabat bertanya, “Lalu siapakah yang enggan?” Rasulullah pun menjawab, “Barang siapa yang taat padaku masuk surga dan barang siapa mengingkariku/berbuat maksiat maka merekalah yang enggan.” (HR. Bukhari).

 

b. Kepasrahan. Menjadi muslim, artinya memasrahkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

 

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

 

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,” (Al-An’am: 162)

 

c. Berserah diri. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

 

“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS. Lukman: 22)

 

d. Ketulusan. Tanpa ketulusan, keislaman seseorang akan dipertanyakan. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

 

“Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

 

Dalam syarah hadits yang dimaksud dengan النصيحة = الخلوص atau ketulusan. Sesuai dengan Firman Allah subhanahu wata’ala:

 

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاۤءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضٰى وَلَا عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوْا لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

 

“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang yang lemah, orang yang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS. At-Taubah: 91)

 

e. Kedamaian. Menjadi muslim berarti menjadi pribadi yang penuh kedamaian dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Juga pribadi yang memberikan rasa damai tidak menjadi ancaman bagi yang lain. Dari Abdullah bin ‘Amru. Nabi Muhammad SAW bersabda,

 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مِنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

 

“Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (Shahih Bukhari).

 

5 kata di atas, obedience (ketaatan), surrender (penyerahan), submition (kepasrahan), sincerity (ketulusan), dan peace (kedamaian), menurut syekh Yusuf Estes mantan pendeta yang kemudian menjadi seorang da’i, kalau ditranslate ke dalam bahasa Arab menjadi satu kata, yaitu Islam. Wallahu a’lam.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *