Oleh Hayat Abdul Latief

 

Ketika mengisahkan peradaban manusia, Al-Qur’an membagi fase kehidupan manusia sesuai dengan nama nabi yang diutus. Fase Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh Ibrahim sampai kepada fase nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Makna implisitnya, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan amanah dan kepemimpinan diperuntukkan kepada kaum muslimin sebagai kelompok manusia yang mengikuti ajaran para nabi tanpa membeda-bedakan di antara mereka.

 

Dengan bukti dari Al-Qur’an dan juga fakta sejarah bahwa manusia-manusia yang menolak risalah para nabi yang diutus oleh Allah akan mengalami kehancuran peradaban. Peradaban semua yang dibangun oleh musuh-musuh para nabi dengan sendirinya hancur dan tidak meninggalkan apa-apa kecuali puing-puing peradaban yang tidak berarti.

 

Dalam artikelnya Dr. Adian Husaini menulis, Abul Hasan Ali an-Nadwi, ulama besar India, dalam bukunya Maadza Khasiral ’Alam bi-Inhithaathil Muslimin (Apa Kerugian Dunia Islam akibat Kemunduran kaum Muslim) menyebutkan, bahwa umat Islam adalah pemegang amanah risalah para Nabi dan Rasul Allah. Jika mereka lemah dan mundur, maka misi kenabian akan menjadi lemah. Umat Islam adalah bagaikan obat yang tugasnya menyembuhkan tubuh kemanusiaan. (Cuplikan tulisan Adian Husaini)

 

Sebagai pemegang amanah risalah para nabi, umat Islam harus menjadi lokomotif peradaban dunia bukan malah mengekor terhadap peradaban semu yang dibangun oleh pengusung komunisme, sosialisme ataupun kapitalisme.

 

Dengan sendirinya seorang muslim harus menjadi seorang dai yang menghidupkan kembali risalah para nabi membangun peradaban yang saripatinya diambil dari wahyu ilahi dan aplikasi kehidupannya meniru dari kehidupan para utusan yang menjadi penerang bumi.

 

Al-Qur’an menjelaskan selama kaum muslimin menjadi pemegang amanah risalah para nabi dan rasul maka mereka menjadi manusia yang paling baik sepanjang zaman, sepanjang berlangsungnya peradaban manusia.

 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

 

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

 

Umat Islam harus diingatkan bahwa mereka adalah dokter bukan pasien mereka, yang menawarkan penyembuhan pada penyakit umat manusia dan peradabannya bukan malah menjadi konsumen terhadap isme-isme dari peradaban lain yang mengakibatkan kehancuran perlahan-lahan, cepat atau lambat.

 

Umat Islam harus menjadi subjek peradaban bukan menjadi objek yang menjadi sasaran empuk bagi umat-umat lain kemudian mengekor terhadap peradaban mereka. Kalau demikian halnya berarti tidak mensyukuri nikmat Islam yang sudah tertanam di dalam hati. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan kemuliaan, kejayaan dan Izzah hanya di dalam Islam. Benar sekali apa yang diucapkan oleh Umar Bin Khattab,

 

إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العزة بغير ما أعزنا الله به أذلنا

 

“Sesungguhnya kita dulu adalah sekumpulan manusia yang paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dengan Islam. Manakala kita mencari kemuliaan di luar dari Islam Allah pasti menghinakan kita kembali.”

 

Kata-kata Umar itu hendaklah menjadi penyemangat bagi umat Islam agar menjadi lokomotif peradaban yang mewarnai dunia dengan keadilan persamaan derajat dan keindahan Islam. Kita jenuh dan bosan pada peradaban yang lahir bukan dari pancaran nilai ilahi, seolah-olah gilang-gemilang padahal rapuh dan melahirkan kesengsaraan. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *