Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Tempo antara hidup dan mati hanyalah berjarak antara waktu shalat yang dengan waktu shalat lainnya. Kegiatan, aktivitas, kesibukan dan rutinitas hanyalah mengisi antara waktu shalat dengan waktu shalat lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

 

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Kalau memperhatikan firman Allah tersebut, kita jumpai makna secara eksplisit bahwa aktivitas, kesibukan dan rutinitas merupakan selingan sedangkan waktu pokoknya yaitu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sangat merugilah orang yang menjadikan ibadah sebagai intermezzo dan tidak sungguh-sungguh di dalamnya, sedangkan dalam urusan dunia seolah-olah merupakan tujuan utama hidupnya.

 

Dalam perjalanan menuju kematian apabila diisi dengan kebaikan, itu merupakan anugrah yang tidak bisa dinilai dengan harta atau materi. Perlu bersyukur kepada Allah yang memberikan kehidupan. Ketika kita terus-menerus dalam keadaan sibuk membangun dunia, lupa membina akhirat, sibuk memperindah yang lahir mengabaikan tuntutan batin dan mengejar penghargaan manusia melupakan ridha Allah semuanya itu merupakan wasting time. Tidak ada yang menampik bahwa umur semakin menua, jatah hidup semakin menipis dan jarak dengan kuburan semakin dekat. Benarlah firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa,

 

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ. حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-takaatsur: 1-8)

 

Benar pula hadits berikut: Dari Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah SAW pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda,

 

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

 

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.” (HR. At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hibban, dan lainnya)

 

Orang yang transit dalam perjalanan memang perlu istirahat, makan, minum dan tempat berteduh tapi itu bukan tujuan karena masih ada perjalanan panjang yang akan ditempuh, bekalnya tidak sedikit dan persiapannya Tidak boleh asal-asalan. Memang syarat kematian tidak harus menunggu tua dan tidak harus sakit. Orang yang bijak selalu mempersiapkan dirinya semenjak muda dengan berkarya untuk menyongsong kematian. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *