Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Istiqamah dalam kebaikan dan menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala bukan untuk waktu sehari, sepekan, sebulan, setahun atau beberapa tahun. Istiqomah yang benar adalah tetap dalam kebaikan dan menjalankan perintah Allah sampai ajal menjemput. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

 

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

 

Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi.

 

Demikian juga yang dicintai Allah subhanahu wata’ala adalah amalan yang rutin meskipun sedikit. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

 

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.” (HR. Muslim)

 

*Rutinitas amal sholeh*

 

Usia kita berangsur-angsur dari waktu shalat ke waktu shalat lainnya, dari satu Jumat ke Jumat lainnya dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan lainnya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ

 

“Shalat fardhu lima waktu, shalat Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut seandainya dosa-dosa besar dijauhkannya.”HR Muslim.

 

*Salat lima waktu*

 

Terkait dengan hal ini, Rasulullah saw. pernah menyampaikan perumpamaan shalat lima waktu bagi umat Islam.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الخَطَايَا. رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي.

 

“Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah saw. pernah bersabda (kepada para sahabat), “ Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sebuah sungai di pintu salah satu dari kalian, lalu ia mandi dari (air)nya setiap hari lima kali, apakah masih ada kotorannya?” Mereka menjawab, “Tidak tersisa sesuatu kotoran pun.” Beliau bersabda, “Maka demikian itu seperti halnya shalat lima waktu, Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dengannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i).

 

Imam Ibnul Arabi mengatakan bahwa perumpamaannya (yang tergambar dalam hadis tersebut) adalah bahwasannya ada seseorang yang badan dan bajunya banyak kotoran-kotoran yang menempel, lalu ia membersihkannya dengan air yang banyak. Begitu juga dengan shalat-shalat yang dapat membersihkan seorang hamba dari kotoran-kotoran dosa.

 

*Shalat Jum’at*

 

Sepekan dalam tradisi muslim ditandai dengan hari Jumat. Di hari yang Agung itu ada perintah untuk menjalankan salat Jumat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

 

*Ibadah Ramadhan*

 

Dalam satu tahun، Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan puasa hanya di bulan Ramadhan, dan menekankan (sunnah mu’akkadah) tarawih di dalamnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

 

Ayat tersebut dikuatkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Berkenaan dengan tarawih Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

 

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Tiga rangkaian ibadah di atas mengandung pengertian, kalau kita rutin dari waktu ke waktu mendirikan shalat 5 waktu, dalam sepekan mendirikan shalat Jumat, kemudian menjalankan ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun sampai ajal menjemput, selama dia tidak melakukan dosa besar maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

 

Berkaitan dengan dosa besar yang telah dilakukan, seorang muslim wajib bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya, karena dengan cara itulah dosa dosanya diampuni.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat

 

*Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *