Oleh Hayat Abdul Latif
Di tengah hiruk-pikuk ibukota dan hedonisme kehidupan warganya, Ma’had Aly Zawiyah Jakarta berdiri untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah dianggap mati, menumbuhsuburkan geliat kecintaan untuk umat Islam kepada agamanya dan memompa kembali semangat mempelajari keilmuan Islam.
Banyak ilmuwan dan praktisi di ibu kota ini – ada praktisi ekonomi, praktisi sosial, praktisi perbankan dan praktisi yang tiada terhitung lagi. Di tengah lalu-lalang Jakarta yang begitu sibuk, ada semburat cahaya yang memancar dari pojok Jakarta yang radiasinya memenuhi angkasa Jabodetabek bahkan melalui medsosnya bisa menjangkau seluruh mancanegara.
Digagas oleh seorang ulama Betawi kharismatik  yaitu Kyai Haji Saifudin Amsir – semoga Allah mengampuni dosanya, memaafkan kesalahannya dan melipatgandakan kebaikannya, Ma’had Aly ini mengeluarkan wisudawan-wisudawati atau lulusan yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat muslim dalam mengamalkan syariat Islam atau menjadi seorang dai atau praktisi pendidikan keislaman yang manfaatnya dirasakan oleh warga sekitar.
Di tengah pandangan Islam yang liberal dan tidak mau terikat oleh pakem syariat, lulusan Ma’had Aly Zawiyah memberikan nuansa yang menguatkan kembali apa yang dulu pernah dirintis oleh para ulama-ulama kenamaan kita. Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali menulis sebuah karya monumental yaitu Ihya Ulumuddin yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama, demikian juga Ma’had Aly Zawiyah Jakarta menghidupkan kembali ilmu dan amal agama di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan Kota Jakarta.
Di akhir pekan biasanya warga Ibu Kota sibuk dengan wisata dan berlibur, Ma’had Aly ini menawarkan wisata rohani untuk menyalami rahasia lika-liku ilmu agama yang telah ditorehkan oleh ulama-ulama terdahulu atau yang disebut dengan Kutubut Turats yang merupakan warisan ulama-ulama terdahulu untuk generasi sesudahnya agar berpegang teguh kepada Islam dan mencintai ilmu-ilmu keislaman.
Dengan demikian Ma’had Aly Zawiyah Jakarta merupakan satu titik cahaya bersama lembaga Islam, pesantren dan perguruan tinggi Islam lainnya untuk kembali mengukuhkan betapa pentingnya memahami agama lewat karya ulama-ulama kita terdahulu dan berusaha meniru mereka dalam khidmatnya untuk izzul Islam wal Muslimin.
Dengan tujuan mulia tersebut maka ketika masyarakat luas menerima Ma’had Aly Zawiyah Jakarta sebagai lembaga yang concern untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu keislaman, maka tidak selayaknyalah mahasantri kemudian menyia-nyiakan kesempatan belajarnya dan menganggap Kegiatan Belajar-Mengajar sebagai rutinitas yang tidak mengalami peningkatan dan pendalaman yang berarti.
Ini merupakan cambuk bagi mahsantri untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas dan daya saing bersama dengan lulusan-lulusan lembaga dan perguruan tinggi Islam lainnya agar mendapatkan penerimaan dan sambutan di masyarakat yang istimewa sehingga dengan demikian tidak memandang sebelah mata terhadap lulusan dari Ma’had Aly Zawiyah Jakarta.
Demikianlah pengakuan, harapan dan motivasi untuk mahasantri Ma’had Aly Zawiyah Jakarta agar terus berkarya, terus berkompetisi dan terus mengabdi untuk Islam dan kaum muslimin dengan mengharapkan ridho Allah agar berbuah manis di dunia dan akhirat. Dan semoga Ma’had Alyly Zawiyah Jakarta berdiri kokoh dan memberi manfaat kepada umat sampai hari kiamat.
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *