Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, ada kaedah,

 

الأمر بالشيء أمر بوسائله

 

Perintah (melakukan) suatu tujuan sama saja perintah (melakukan) perantara menuju tujuan tersebut.

 

Ketika ada nash menyuruh untuk shalat, di sana ada perintah untuk berwudhu. Shalat merupakan tujuan perintah sedangkan wudhu perantara menuju tujuan perintah. Karena tidak sah shalat tanpa bersuci.

 

Berkaitan dengan judul di atas, kita mendapatkan pesan bahwa perantara setingkat dengan tujuan. Dalam kehidupan keseharian kita dapati kesuksesan seseorang pasti tidak lepas dari orang-orang yang berjasa terhadap kesuksesan tersebut. Dalam hadits disebutkan,

 

من لا يشكر الناس لا يشكر الله

 

“Siapa yang tidak berterima kasih kepada orang-orang (yang berjasa kepadanya) sama saja tidak bersyukur kepada Allah” (HR. At-Tirmidzi, beliau menilai status hadits ini hasan shahih)

 

Faktanya, tidak sedikit orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Melupakan mereka dalam arti tidak berterima kasih baik secara lisan ataupun secara sikap perbuatan sama saja tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Ada orang tua, sanak famili, guru, teman lama ataupun baru, tetangga, kenalan, bahkan pasangan hidup kita sangat berjasa dalam perjalanan kita menuju kesuksesan. Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang kita meremehkan orang-orang yang tidak dipandang status sosialnya. Sabdanya:

 

هل تُنصَرون وتُرزَقون إِلا بضعفائكم؟ أَخرجه البخاري.

 

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki (Allah) dikarenakan orang-orang lemah kalian?” (HR Bukhari)

 

Bahkan dalam riwayat Nasa’i Nabi menyebutkan:

 

(إِنما ينصُر الله هذه الأمةَ بضعيفها: بدعوتِهم، وصلاتِهم، وإِخلاصهم).

 

“Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, sholat dan keikhlasan mereka.” (HR Nasa’i)

 

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyandingkan diri-Nya dengan orang-orang yang berjasa dalam hidup kita, makna ekplisitnya kita tidak boleh melupakan jembatan yang menghantarkan kita menuju kesuksesan.

 

*Faedah:*

 

*Satu,* perintah melakukan suatu tujuan sama dengan perintah melakukan perantara menuju tujuan tersebut.

 

*Dua,* tidak berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa terhadap kesuksesan kita sama saja tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

*Tiga,* dilarang meremehkan orang-orang yang tidak terpandang status sosialnya. Boleh jadi kesuksesan, pencapaian dan tinggi derajat seseorang karena doa, shalat dan ketulusan orang-orang lemah di antara mereka. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *