Oleh: Kang Hayat Abdul Latief

 

Selama 14 abad adzan dikumandangkan tanpa henti dan lafadznya sama semenjak nabi hidup hingga saat ini dan sampai dunia ini tidak ada lagi. Bila adzan dikumandangkan toko-toko ditutup, perkantoran sepi seolah-olah orang yang bertaqwa tidak berdaya di hadapan panggilan suci. Begitulah seharusnya segala aktivitas dan lalu lintas duniawi harus berhenti ketika panggilan ilahi memasuki ruangan telinga lalu masuk ke hati.

 

Orang yang pertama kali mengumandangkan Adzan namanya terpatri dalam sejarah yang bertintakan emas. Dialah Bilal bin Rabah muadzin Rasulullah. Sepanjang zaman manusia iri terhadap kedudukannya di sisi Allah dan rasulnya karena dialah manusia pertama yang menjadi wasilah memanggil manusia kepada Tuhannya. Suara terompahnya terdengar di surga Padahal dia masih hidup di dunia. Seorang yang menjaga wudhunya tetap setiap kali berhadas dia mengambil air wudhu lantas sholat 2 rakaat dan itulah di antara penyebab kemuliaan derajatnya.

 

Sepanjang zaman manusia beriman senang mendengar adzan, senang shalat akan didirikan. Bahkan selalu menanti-nanti dan berjaga-jaga di waktu adzan agar tidak ketinggalan oleh kafilah salat berjamaah. Orang yang selalu menjaga shalatnya di awal waktu berjamaah dan di tempat adzan dikumandangkan laksana pasukan perang yang selalu berjaga siap menghadapi serangan musuh dan siapa pula menyerang balik. Sesuai dengan makna yang dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam Shahih Muslim. Makna yang terkandung dalam hadits tersebut, agar iman kita terjaga dan tidak kecolongan dari tipu daya syetan maka perlu ribath dengan cara isbaghul wudhu, banyak langkah menuju masjid dan menunggu waktu shalat yang satu kepada waktu shalat lainnya. Syetan selalu takut ketika mendengarkan kumandang adzan sampai lari tidak kelihatan lagi bahkan disebutkan dalam hadits mereka pontang-panting dan tunggang-langgang sambil terkentut-kentut. Demikian satu isyarat bahwa suara adzan paling tidak disukai syetan, baik dari kalangan jin dan manusia.

 

*Nama Lain Adzan*

 

Sesungguhnya panggilan salat yang bernama azan itu memiliki nama lain, yaitu:

 

1. Dakwah yang sempurna

 

2. Shalat yang didirikan sesuai dengan doa yang kita panjatkan selepas mendengar adzan:

 

Adzan merupakan tanda masuknya sholat. Jika mendengar adzan, Muslim dianjurkan untuk menghentikan aktivitasnya sementara waktu untuk mendengarkan dan menjawabnya. Selain itu, berdoa setelah adzan dikumandangkan. Ada banyak keutamaan membaca doa setelah adzan salah satunya jaminan mendapatkan syafaat atau pertolongan dari Nabi Muhammad SAW kelak di hari kiamat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan:

 

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

 

(Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

 

Adzan dikatakan sebagai dakwah yang sempurna suatu panggilan mengajak manusia dan jin untuk bertauhid kepada Allah, mengakui risalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, mengajak kepada shalat, mengajak kepada kemenangan, dan mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala. Azan disebut shalat yang didirikan. Dengan dikumandangkan adzan yang mendengar menjadi tahu masuknya waktu shalat – karena shalat fardhu tidak sah dikerjakan kalau belum masuk waktunya -, dan setelah iqomah tanda shalat akan didirikan.

 

Keutamaan Adzan dari Al-Quran dan Hadits:

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

 

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِى التَّهْجِيْرِلَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

 

“Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Di dalam kitab Sahih Muslim melalui salah satu hadisnya yang mengatakan:

 

“الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

 

Penyeru adzan adalah orang yang paling panjang lehernya (terhormat) kelak di hari kiamat.

 

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِى غَنَمٍ فِى رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّى فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِى هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلاَةَ يَخَافُ مِنِّى فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِى

 

“Tuhanmu takjub kepada seorang penggembala domba di puncak bukit gunung, dia mengumandangkan azan untuk shalat lalu dia shalat. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku ini, dia mengumandangkan azan dan beriqamah untuk shalat, dia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuni hamba-Ku dan memasukkannya ke dalam surga,” (HR Abu Dawud dan An Nasa’i).

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *