Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Islam memperhatikan Lima hak dasar manusia; Agama (kebebasan beragama dan menjalankannya), akal (kebebasan berkreasi), jiwa (kebebasan hidup tanpa gangguan), keturunan (kebebasan berkeluarga) dan harta (kebebasan memiliki kekayaan dengan cara yang disyariatkan). Itu semua merupakan karunia yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala yang mana Seorang muslim harus menjaga dan mempertahankannya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ.

 

“Siapa saja yang gugur karena mempertahankan hartanya, ia syahid. Barang siapa yang gugur karena mempertahankan darahnya, ia syahid. Barang siapa yang gugur karena mempertahankan agamanya, ia syahid. Barang siapa yang gugur karena membela keluarganya, ia syahid.” (H.R. At-Tirmidzi no. 1421)

 

Maksud mafhum Hadits di atas:

 

1. Siapa yang gugur mempertahankan hartanya, yakni melawan dan membela diri dari orang yang mengambil hartanya secara sewenang-wenang dan memaksanya gugur maka dia termasuk syahid.

 

2. Siapa yang gugur membela darah (nyawa)nya, yakni membela dirinya dari orang yang hendak membunuhnya, maka dia termasuk syahid.

 

3. Siapa yang gugur membela keluarganya, yakni membela dirinya dari orang yang mengganggu terhadap istri dan keluarganya, maka dia termasuk syahid.

 

Syahid yang dimaksud disini adalah syahid akhirat, karena dia gugur dalam jalan kebenaran dan mempertahankannya. Syahid akhirat dalam hal pengurusan jenazah seperti jenazah lainnya yakni dimandikan, dikafani, disholati dan dikuburkan secara Islam. Berbeda dengan syahid dunia yang terbunuh dalam peperangan dan jihad di jalan Allah, maka orang tersebut tidak perlu dimandikan, tidak dikafani kecuali dengan baju yang dengannya gugur. Dialah seorang yang gugur di jalan Allah karena mempertahankan agama atau cara meninggikan kalimat Allah. Lalu orang yang syahid tersebut dikuburkan.

 

Murtede alias Amaq Sinta (34) kini bisa berkumpul kembali dengan keluarganya setelah mendapat penangguhan penahanan dari penyidik. Ia adalah korban begal yang ditahan polisi dan ditetapkan sebagai tersangka, lantaran membunuh dua begal dan melukai dua begal lainnya. Saat itu ia dibegal oleh empat orang ketika mengendarai sepeda motornya di Lombok TImur, Minggu (10/4/2022) malam. Dengan gagah berani, ia tidak melarikan diri melainkan membela diri dan memilih bertarung dengan empat pelaku begal tersebut. Menurutnya, ia melakukan itu, karena dalam keadaan terpaksa. Dihadang dan diserang dengan senjata tajam, mau tidak mau harus melawan. Lanjutnya, dirinya seharusnya tidak dipenjara, kalau dia mati siapa yang akan bertanggung jawab mengurus ibunya. Amaq Sinta hanyalah warga biasa. Ia dan keluarga adalah seorang petani. Bahkan ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah. (instagram.com/dampittv)

 

Meninjau kasus Amaq tersebut dalam sorotan Islam, bahwa apa yang dilakukannya merupakan perbuatan yang menunjukkan seorang ksatria, membela diri, membeli harta, bahkan membela ibunya yang selama ini ia urus. Sangatlah tepat pihak kepolisian membebaskan Amaq. Dalam Islam mempertahankan diri, harta, keluarga dan agama perbuatan yang terpuji. Seandainya Amaq gugur ketika melawan begal maka dia termasuk syahid. Faktanya Amaq masih hidup, selamat dari kejahatan para pembegal bahkan membunuh orang yang ingin membunuhnya, maka dialayak dipuji dan mendapat penghargaan karena kepahlawanan (heroisme)nya tersebut. Wallahu a’lam.

 

Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *