Oleh: Hayat Abdul Latief
Mengutip kalam hikmah Ahnaf bin Qais, beliau berkata,
لا خير في قول بلا فعل، ولا في مال بلا جود، ولا في صديق بلا وفاء، ولا في فقه بلا ورع.
Tidak ada kebaikan dalam perkataan tanpa perbuatan, harta tanpa kedermawanan, sahabat tanpa kesetiaan, fiqih tanpa ketakwaan.
Berkenaan dengan ucapan tanpa perbuatan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3.)
Tafsir Surat As-Shaff: 2-3. “Allah memperingatkan atas ibadah seorang hamba yang beriman untuk meninggalkan persetujuan atas amalan yang hanya berupa perkataan, Allah berkata : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kenapa kalian katakan dari kebaikan atas apa yang tidak kalian kerjakan ? Sungguh besar perbuatan jahat ini di sisi Allah, yaitu kalian yang mengatakan, tapi kalian tidak mengamalkan. Karena sebuah amanah yang diberikan kepada manusia yang lain adalah petunjuk bagi kejujuran dan kemulian atas tabiat manusia dan baiknya kebiasaan yang mengatakan. Diriwayatkan dari hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dari Abdullah bin Sallam : Bahwasanya para lelaki dari para sahabat berkata : Seandainya kami mengetahui sebuah amalan yang utama, yang dicintai Allah ketika seorang hamba mengamalkannya, sungguh kami pasti mengamalkannya. Kemudian Allah menurunkan : Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? {Ash Shaf 1-2}. Berkata Abdullah bin Sallam : Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, kemudian Ibnu Katsir berkata : Sesungguhnya ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah sebesar-besar sesuatu yang dibenci dan membuat kemurkaan.” (An-Nafahat Al-Makkiyah – Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi)
Kita minta mohon ampun kepada Allah dari apa yang diucapkan Imam Al-Bushiri dalam Qashidah Burdahnya yang berbunyi,
أسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَ عَمَلٍ # لقد نَسَبْتُ به نَسْلاً لِذِي عُقُمِ
أمَرْتُكَ الخَيْرَ لكنْ ما ائْتَمَرْتُ به # وما اسْتَقَمْتُ فما قَوْلِي لَكَ اسْتَقِمِ
“Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa perbuatan # Aku telah menasabkan  keturunan kepada orang yang mandul
Aku memerintahkanmu kebaikan, tetapi aku tidak melakukan apa yang aku perintahkan. Aku tidak istiqamah apa yang ku katakan kepada Anda: Istiqamahlah!”
Berkenaan dengan orang kaya yang pelit, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
….وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“….Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)
Adapun pujian Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang dermawan sebagai berikut,
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا. اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan, (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-insan: 8-9)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ
”Orang yang dermawan (al-sakhi) itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang pelit (al-bakhil) itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah ketimbang ahli ibadah yang pelit.” (HR Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu)
Berkenaan dengan teman, Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita berteman dengan orang jujur (benar),
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Kriteria teman yang baik (sholih) antara lain: memberikan nasehat untuk melakukan kebaikan, menjaga nama baik temannya, menjaga rahasia temannya, berteman karena Allah, bukan karena keuntungan dunia, mengajak kita sholat kepada kebaikan, amanah, jujur dan memiliki solidaritas yang kuat. Itulah arti kesetiaan seorang teman.
Berkenaan dengan ahli agama namun tidak bertaqwa, Allah subhanahu wa ta’ala membuat contoh buruk tentangnya yaitu berkaitan dengan Qarun,
اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖوَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤاُ بِالْعُصْبَةِ اُولِى الْقُوَّةِ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ
“Sesungguhnya Karun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (QS. Al-Qashas: 76)
Beberapa faedah:
*Satu,* dilarang omdo (omong doang) atau NATO (No Action – Talk Only)
*Dua,* dilarang menjadi bakhil (menahan kebaikan untuk orang lain) dan sakhikh (disamping pelit kepada orang lain, juga pelit untuk dirinya sendiri)
*Tiga,* carilah teman yang memiliki yang benar yang memiliki kesetiaan.
*Empat,* setelah menjadi orang berilmu, lebih-lebih Ilmu agama, jadilah orang yang bertaqwa berhati-hati dalam berkata dan berbuat harus ditimbang apakah membawa manfaat untuk umat atau membawa bahaya, apakah membawa k kebaikan dunia-akhirat atau malah sebaliknya. Wallahu a’lam.
Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *