Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Rezeki, ada yang bisa dilihat kasat mata seperti kesehatan dan harta benda atau materi, ada yang non-materi seperti keimanan dan kesabaran. Rezeki keduniawian, Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai ataupun yang tidak dicintai, berbeda dengan iman. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُعطي الْمَالَ مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لَا يُحب، وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memberi harta kepada siapa yang Dia cintai dan siapa yang Dia tidak cintai, dan (Allah) tidak memberi keimanan kecuali hanya kepada siapa yang Dia cintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufradnya)

 

Kemurahan Allah (sifat Ar-Rahman) berkaitan dengan rizki keduniawian bersifat umum ditujukan pada orang mukmin dan orang kafir, atau yang taat dan yang maksiat. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa kedua golongan itu akan dilimpahi kemurahan-Nya. Maksudnya, baik hamba-hamba yang dicintai ataupun hamba-hamba yang tidak dicintai akan diberi rezeki duniawi. Kemurahan Allah Yang Mahaluas tidak terhalang karena keingkaran seseorang kepada-Nya. Oleh sebab itu, kedua golongan hamba-hamba itu sama-sama dapat mencicipi kelezatan hidup di dunia. Akan tetapi, kedua golongan itu tidak akan merasakan kasih sayang (sifat Ar-Rahim) Allah yang sama, kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat. Berbeda dengan rezeki non-materi berupa iman, Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai.

 

Berkenaan dengan rezeki duniawi, kemungkinan ada jebakan di dalamnya. Apabila yang diberikan rezeki dalam keadaan terus-menerus bermaksiat pada Allah subhanahu wa ta’ala maka bisa dipastikan itu bukan nikmat, tetapi istidraj, azab yang ditangguhkan turunnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

 

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

 

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)

 

Hadits di atas sesuai dengan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa,

 

فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُكِّرُوۡا بِهٖ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ اَبۡوَابَ كُلِّ شَىۡءٍ ؕ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰهُمۡ بَغۡتَةً فَاِذَا هُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ

 

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksamerekadengansekonyong-konyong, makaketikaitu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

 

Selain iman, rezeki non-materi yang terbaik adalah sabar. Dalam hadits disebutkan,

 

إنَّ نَاسًا مِنَ الأنْصَارِ سَأَلُوا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فأعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فأعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فأعْطَاهُمْ، حتَّى نَفِدَ ما عِنْدَهُ، فَقَالَ: ما يَكونُ عِندِي مِن خَيْرٍ فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، ومَن يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وما أُعْطِيَ أحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ (رواه البخاري عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه)

 

“Sesungguhnya beberapa orang Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah, lalu beliau memberikannya kepada mereka, kemudian mereka memintanya (lagi) dan beliau memberikannya kepada mereka, kemudian mereka memintanya (lagi), Lalu beliau memberikannya kepada mereka, sampai habis (harta) di sisi beliau. Lalu beliau bersabda: kebaikan (harta) yang ada padaku, tidak akan aku simpan (menahan) dari kalian dan siapa pun yang berusaha untuk iffah, Allah pasti menjadikanya bersifat iffah. Siapa pun yang berusaha mencukupkan diri, Allah akan mencukupkan diri. Dan siapa pun yang berusaha untuk sabar, Allah menjadikannya sabar, melakukannya. tidak sabar. Dan tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dari kesabaran.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu)

 

Dalam hadits di atas, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu menceritakan beberapa orang Ansar, yang tidak disebutkan namanya, meminta kepada Rasulullah, sebagian dari harta itu, dan beliau memberi mereka, lalu mereka memintanya, dan beliau memberi mereka, lalu mereka memintanya. , dan beliau memberi mereka sampai habis harta yang ada padanya. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka bahwa beliau tidak menahan dari mereka harta yang dia miliki, lalu beliau menyimpannya menahan kebaikan untuk orang lain.

 

Kemudian beliau membimbing dan mendorong mereka untuk memiliki sifat iffah. Sabdanya: “ومَن يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ (Dan siapa pun yang berusaha untuk iffah, Allah pasti menjadikanya bersifat iffah)”, yakni barangsiapa menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah (iffah) – baik dalam makanan, minuman, pakaian dan sejenisnya – Allah akan membantu mereka untuk memperolehnya sifat tersebut.

 

Lalu beliau mengajak mereka untuk merasa cukup dan tidak minta-minta, yaitu mencukupkan diri dan tidak mengharap apa yang ada di tangan orang lain dengan tidak mudah meminta-minta, lalu tidak meminta-minta kecuali terpaksa. Sabdanya: “ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ (Siapa pun yang berusaha mencukupkan diri, Allah akan mencukupkan dirinya)”, yakni, siapa yang melakukan hal demikian, Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolongnya dengan rasa kaya di dalam jiwanya dan menjadikan rezeki sedikit menurut orang banyak menjadi banyak dalam pandangannya.

 

Kemudian beliau mendorong kita untuk bersabar dan membiasakan diri dengannya. Karena jika bersabar, kita menjauhkan diri dari yang haram, makruh bahkan syubhat dan mencukupkan diri dengan yang halal. Itu semua tidak bisa dicapai dengan meminta-minta dan sifat tidak tahan uji.

Sabdanya: “ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ (Dan barang siapa yang sabar, maka Allah akan membuatnya sabar)”, artinya barang siapa yang sabar dan menjadikannya sebagai kendaraan dalam kesulitan hidup dan musibah dunia lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala memenuhi hatinya dengan itu, dan siapa pun yang berjuang sekuat tenaga agar bersabar, Allah subhanahu wa ta’ala membantunya untuk mencapai itu dan menjadikannya sebagai karakter dengan sifat tersebut.

 

Kemudian beliau menjelaskan dengan sabdanya: “وما أُعْطِيَ أحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ (Dan tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dari kesabaran)”, yakni Allah tidak memberikan kepada seseorang suatu nikmat atau akhlak mulia yang lebih baik atau lebih luas dari kesabaran. Karena sabar itu mencakup semua kebajikan, dan semua keutamaan berasal darinya dan bergantung padanya; Iffah (menjaga diri dari yang haram bahkan dari yang makruh dan syubhat, syaja’ah (berani karena membela yang benar), Azimah (tekad yang kuat), Iradah (kemauan), menjaga harga diri, dan lain-lain. Seseorang, jika dia sabar, menanggung setiap kesulitan, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

ما رُزِقَ عبدٌ خيرًا له و لا أوسعَ من الصَّبرِ (رواه الحاكم عن أبي هريرة)

 

“Seorang hamba tidak diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih besar dari kesabaran.” (HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu)

 

Berkaitan dengan sabar, sifat ini memiliki keutamaan tersendiri, yaitu pemilik sifat sabar mendapatkan pahala yang tidak terhitung dan tidak terbatas. Firman-Nya,

 

… إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

“…. Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

 

Tafsir Jalalain: “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ (Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan)” yang bersabar di dalam menjalankan ketaatan dan bersabar di dalam menahan ujian yang menimpa diri mereka. “أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (pahala mereka tanpa batas)”, yakni tanpa memakai neraca dan timbangan lagi. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *