Oleh: Hayat Abdul Latief
Beberapa hadits berikut menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala – dengan keagungan dan kesucian sifat-Nya dari penyerupaan terhadap makhluk – ‘tertawa’:
*Pertama,* Allah subhanahu wa ta’ala ‘tertawa’ karena seorang terbunuh dan pembunuh, keduanya bertemu di jannah-Nya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
يَضْحَكُ اللَّهُ لِرَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أحَدُهُما الآخَرَ كِلاهُما يَدْخُلُ الجَنَّةَ، قالوا: كيفَ يا رَسولَ اللهِ؟ قالَ: يُقْتَلُ هذا فَيَلِجُ الجَنَّةَ، ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ علَى الآخَرِ، فَيَهْدِيهِ إلى الإسْلامِ، ثُمَّ يُجاهِدُ في سَبيلِ اللهِ، فيُسْتَشْهَدُ. (متفق عليه عن أبي هريرة رضي الله عنه)
Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tertawa terhadap dua orang, tertawa yang sesuai dengan (sifat keagungan)-Nya, tanpa penyerupaan (dengan makhluk-Nya). Ini karena kedua orang ini saling membunuh, dan meskipun demikian, Dia akan mengumpulkan mereka di Surga. Yang demikian itu karena pembunuhnya adalah seorang kafir dan dia membunuh seorang mukmin, maka orang mukmin itu mati syahid di jalan Allah, maka dia masuk surga seperti yang Allah janjikan kepada para syuhada. Kemudian si pembunuh masuk Islam, dan dia berperang di jalan Allah, lalu dia mati syahid. Allah subhanahu wa ta’ala akan mempertemukan dia dengan temannya yang membunuhnya di surga. Perbuatan ini menjadi alasan Allah SWT untuk menertawakan mereka berdua di akhirat.
*Kedua,* Allah subhanahu wa ta’ala ‘tertawa’ terhadap mantan penduduk neraka yang mengatakan Jannah sudah penuh, dia tidak kebagian tempat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنِّي لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْل النَّار خُرُوجًا مِنهَا، وَآخِرَ أَهْل الْجنَّةِ دُخُولًا الْجنَّة. رجُلٌ يخْرُجُ مِنَ النَّارِ حبْوًا، فَيقُولُ اللَّه  لَهُ: اذْهَبْ فَادخُلِ الْجنَّةَ، فَيأْتِيهَا، فيُخيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا ملأ، فيَرْجِعُ، فَيقُولُ: يا ربِّ وجدْتُهَا ملأ، فيَقُولُ اللَّه لهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجنَّةَ، فيأْتِيها، فَيُخَيَّل إِلَيْهِ أَنَّهَا ملأ، فَيرْجِعُ. فيَقُولُ: يا ربِّ وجدْتُهَا ملأ، فَيقُولُ اللَّه لهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ. فإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيا وعشَرةَ أَمْثَالِها، أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْل عَشرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيا، فَيقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي، أَوَ أَتَضحكُ بِي وأَنْتَ الملِكُ. قَال: فَلَقَدْ رأَيْتُ رَسُول اللَّهِ ﷺ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجذُهُ فَكَانَ يقُولُ: ذَلِكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ منْزِلَةً. (متفقٌ عليه عن إبن مسعود رضي الله عنه)
“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui penghuni neraka yang terakhir dikeluarkan darinya dan penghuni surga terakhir yang memasukinya. Seorang laki-laki merangkak keluar dari neraka, lalu Allah berfirman kepadanya: “Pergilah, dan masuklah ke dalam surga!” Dia mendatanginya dan membayangkan bahwa surga terisi penuh, dia akan kembali lalu berkata: Ya Rabb, saya telah mendapati surga itu terisi penuh (tidak ada bagian untukku -red)
lalu Allah berfirman kepadanya: “Pergilah, dan masuklah ke dalam surga!” Dia mendatanginya dan membayangkan bahwa surga terisi penuh, dia akan kembali lalu berkata: “Ya Rabb, saya telah mendapati surga itu terisi penuh (tidak ada bagian untukku -red), lalu Allah berfirman kepadanya: “Pergilah, dan masuklah ke dalam surga! Maka sesungguhnya bagimu mendapatkan yang setara dengan dunia dan sepuluh kali lipatnya atau sesungguhnya bagimu mendapatkan sepuluh kali dunia.”
Dia berkata: “Apakah Engkau mengejek saya, atau menertawakan saya padahal Engkau adalah Maha Raja?” Dia (Ibnu Mas’ud raḍiyallahu’anhu) berkata: “Saya melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tertawa sampai gerahamnya terlihat. Lalu beliau bersabda: “Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.” (Muttafaqun’ Alaihi dari Ibnu Mas’ud raḍiyallahu’anhu)
*Ketiga,* Allah subhanahu wa ta’ala ‘tertawa’ karena mantan penduduk neraka dengan permintaan ‘melonjaknya’. Dalam hadis yang agak panjang, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
….وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ، مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ قِبَلَ النَّارِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنِ النَّارِ، قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا، وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا، فَيَقُولُ: هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فُعِلَ ذَلِكَ بِكَ أَنْ تَسْأَلَ غَيْرَ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: لَا وَعِزَّتِكَ، فَيُعْطِي اللهَ مَا يَشَاءُ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ، فَيَصْرِفُ اللهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ، فَإِذَا أَقْبَلَ بِهِ عَلَى الْجَنَّةِ، رَأَى بَهْجَتَهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَسْكُتَ، ثُمَّ قَالَ: يَا رَبِّ قَدِّمْنِي عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ اللهُ لَهُ: أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنْتَ سَأَلْتَ؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ لَا أَكُونُ أَشْقَى خَلْقِكَ، فَيَقُولُ: فَمَا عَسَيْتَ إِنْ أُعْطِيتَ ذَلِكَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَهُ؟ فَيَقُولُ: لَا وَعِزَّتِكَ، لَا أَسْأَلُ غَيْرَ ذَلِكَ، فَيُعْطِي رَبَّهُ مَا شَاءَ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ، فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ، فَإِذَا بَلَغَ بَابَهَا فَرَأَى زَهْرَتَهَا وَمَا فِيهَا مِنَ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ، فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَسْكُتَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ اللهُ: وَيْحَكَ يَا ابْنَ آدَمَ، مَا أَغْدَرَكَ، أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي أُعْطِيتَ؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ، فَيَضْحَكُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ، ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: تَمَنَّ، فَيَتَمَنَّى حَتَّى إِذَا انْقَطَعَ أُمْنِيَّتُهُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا، أَقْبَلَ يُذَكِّرُهُ رَبُّهُ، حَتَّى إِذَا انْتَهَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ “. (صحيح البخاري 806)
“…. Dan yang tinggal hanyalah seorang yang berada antara surga dan neraka, dan dia adalah orang terakhir yang memasuki surga di antara penghuni neraka yang berhak memasukinya, dia sedang menghadapkan wajahnya ke neraka seraya berkata, “Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka! Sungguh anginnya neraka telah meracuni aku dan baranya telah memanggang aku.” Lalu Allah berfirman: “Apakah seandainya kamu diberi kesempatan kali yang lain kamu tidak akan meminta yang lain lagi?” Orang itu menjawab: ‘”Tidak, demi kemuliaan-Mu, ya Allah!” Maka Allah memberikan kepadanya janji dan ikatan perjanjian sesuai apa yang dikehendati orang tersebut. Kemudian Allah memalingkan wajah orang tersebut dari neraka. Maka ketika wajahnya dihadapkan kepada surga, dia meliahat taman-taman dan keindahan surga lalu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki.
Kemudian orang itu berkata, “Ya Rabb, dekatkan aku ke pintu surga!” Allah ‘azza wa jallaa berfirman: “Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah permintaan kamu sebelumnya?” Orang itu menjawab, “Ya Rabb, aku tidak mau menjadi ciptaan-Mu yang paling celaka.” Allah kembali bertanya: “Apakah kamu bila telah diberikan permintaanmu sekarang ini, nantinya kamu tidak akan meminta yang lain lagi?” Orang itu menjawab, “Tidak, demi kemuliaan-Mu. Aku tidak akan meminta yang lain setelah ini.” Maka Rabbnya memberikan kepadanya janji dan ikatan sesuai apa yang dikehendati orang tersebut.
Lalu orang tersebut didekatkan ke pintu surga. Maka manakala orang itu sudah sampai di pintu surga, dia melihat keindahan surga dan taman-taman yang hijau serta kegembiraan yang terdapat didalamnya, orang itu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian orang itu berkata, “Ya Rabb, masukkanlah aku ke surga!” Allah berfirman: “Celakalah kamu dari sikap kamu yang tidak menepati janji. Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah kamu diberikan apa yang kamu pinta?” Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, janganlah Engkau menjadikan aku ciptaan-Mu yang paling celaka.” Maka Allah ‘azza wa jalla tertawa mendengarnya. Lalu Allah mengizinkan orang itu memasuki surga.
Setelah itu Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Bayangkanlah! ‘ Lalu orang itu membayangkan hingga setelah selesai apa yang ia bayangkan, Allah berfirman kepadanya: “Dari sini.” Dan demikianlah Rabbnya mengingatkan orang tersebut hingga manakala orang tersebut selesai membayangkan, Allah berfirman lagi: “Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu)
*Keempat,* Allah subhanahu wa ta’ala ‘tertawa’ karena itsar seorang sahabat Anshar terhadap tamu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam hadits,
أنَّ رَجُلًا أتَى النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَبَعَثَ إلى نِسَائِهِ، فَقُلْنَ: ما معنَا إلَّا المَاءُ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: مَن يَضُمُّ -أوْ يُضِيفُ- هذا؟ فَقالَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ: أنَا، فَانْطَلَقَ به إلى امْرَأَتِهِ، فَقالَ: أكْرِمِي ضَيْفَ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَتْ: ما عِنْدَنَا إلَّا قُوتُ صِبْيَانِي، فَقالَ: هَيِّئِي طَعَامَكِ، وأَصْبِحِي سِرَاجَكِ، ونَوِّمِي صِبْيَانَكِ إذَا أرَادُوا عَشَاءً، فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا، وأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا، ونَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا، ثُمَّ قَامَتْ كَأنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فأطْفَأَتْهُ، فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أنَّهُما يَأْكُلَانِ، فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ، فَلَمَّا أصْبَحَ غَدَا إلى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ -أوْ عَجِبَ- مِن فَعَالِكُما. فأنْزَلَ اللَّهُ: {وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [الحشر: 9] (رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه)
Dalam hadits ini, Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, menjadi tamunya seraya mengeluh tentang keadaannya (yang kemungkinan dalam keadaan lapar -red). Lalu Nabi mengirim utusan kepada istri-istrinya satu per satu: Apakah disisinya punya sesuatu (yang bisa dikonsumsi -red)? Masing-masing dari mereka akan berkata: “Kami tidak punya apa-apa selain air – Ini merupakan bahasa kinayah bahwa mereka tidak memiliki makanan untuk menjamu tamu. Maka Nabi berkata kepada para sahabatnya yang mulia: “Siapa yang akan menjamu laki-laki ini; membawanya, memberinya makan, dan menghormatinya di rumah?”
Seorang pria dari Anshar (dikatakan dia Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshari atau dikatakan Abu Thalhah bukan Zaid bin Sahl) berkata: “Saya.” Kemudian dia mengambil tamu itu, dan dia membawa ke rumahnya dan dia berkata kepada istrinya: “Hormatilah tamu Rasulullah!” – ia menisbatkan tamu tersebut  kepada Rasulullah untuk memperjelas kemuliaan dan kedudukannya, juga untuk menekankan perhatian istrinya agar bertanggung jawab dan memberinya makan.
Istrinya berkata: “Kami tidak memiliki apa-apa selain makanan anak-anakku.” – maksudnya, mereka tidak memiliki apa-apa selain makan malam pada malam itu, yang hanya cukup untuk anak-anak mereka.
Suaminya berkata: “Siapkan makananmu, nyalakan lampu dam tidurkan anak-anakmu!” – yakni, siapkan seperti yang layaknya akan disajikan kepada tamu, menyalakan lampu, dan cepatlah menidurkan anak-anakmu sehingga kelaparan tidak menguasai mereka. Wanita itu mematuhi suaminya, jadi dia menyiapkan makanannya, menyiapkannya untuk tamu, menyalakan lampu, dan menidurkan anak laki-lakinya tanpa makan malam. Kemudian dia menyajikan makanan kepada tamu itu, lalu berdiri seolah-olah untuk memperbaiki lampunya, dan dengan sengaja mematikannya sehingga rumah jadi gelap.
Lalu suami-istri itu berpura-pura makan dengan menggerakkan gigi dan merentangkan tangan, agar tamu itu makan dari makanan yang dia butuhkan dan agar dia tidak sadar sebenarnya makanan itu sedikit. Maka suami-istri itu tidur dalam keadaan lapar demi memuliakan tamu Rasulullah. Esok harinya seorang Anshar tersebut pergi menghadap Rasulullah. Beliau bersabda: “Malam tadi, Allah tertawa – atau takjub – atas tindakan kalian berdua!” Lalu Allah menurunkan (ayat),
….وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (الحشر: 9)
“….dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Maknanya, bahwa salah satu ciri kaum Ansar yang dengannya mereka lebih unggul dari yang lain dan yang membedakan mereka dari yang lain adalah sifat itsar (bahasa intelektualnya: altruisme -red). Itsar ini merupakan jenis kedermawanan paling sempurna, yang merupakan memprioritaskan orang lain daripada diri sendiri dalam hal harta dan hal-hal lain dan memberikannya kepada orang lain, padahal diri mereka membutuhkannya. Ini tidak mungkin terjadi kecuali dari akhlak yang bersih dan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala lebih diprioritaskan daripada cinta nafsu dan syahwat dirinya. Siapa yang diberi sifat itsar, maka ia telah dijaga dari kekikirannya sendiri. Dengan demikian ia akan mencapai kesuksesan dan kemenangan di dunia dan di akhirat.
Badruddin ‘Aini, pensyarah Shahih Al-Bukhari, memberikan komentar tentang tertawa Allah dalam hadits ini:
الضحك محَال على الله وَيُرَاد لَازمه وَهُوَ الرِّضَا عَنهُ ومحبته إِيَّاه
“Tertawa mustahil bagi Allah. Yang dimaksud dengan (kata tertawa) adalah Allah meridai dan mencintainya.” (“Umdatul Qaary” – XXV/127)
Kesimpulan dalam tulisan ini:
1. Allah subhanahu wa ta’ala tertawa karena seorang yang terbunuh dan pembunuh keduanya bertemu di jannah-Nya.
2. Allah subhanahu wa ta’ala tertawa karena mantan penduduk neraka menyangka surga sudah penuh terisi.
3. Allah subhanahu wa ta’ala tertawa karena mantan penduduk neraka dengan permintaan ‘melonjaknya’.
4. Allah subhanahu wa ta’ala tertawa karena itsar seorang sahabat Anshar terhadap tamu Rasulullah.
5. Tertawa, menurut Badruddin ‘Aini, mustahil bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tertawa terhadap hamba, maksudnya, adalah Allah meridhainya dan mencintainya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *