Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Menurut keterbatasan pengetahuan saya, anjing disebutkan dalam tiga surat Al-Qur’an berikut:

 

1. Anjing disebutkan sebagai binatang yang bisa dilatih untuk berburu dan keperluan lain sebagaimana dalam ayat berikut,

 

یَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَاۤ أُحِلَّ لَهُمۡۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّیِّبَـٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِینَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُوا۟ مِمَّاۤ أَمۡسَكۡنَ عَلَیۡكُمۡ وَٱذۡكُرُوا۟ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَیۡهِۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ

 

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 4)

 

2. Orang yang kemaruk dunia dan memperturutkan nafsu ditamsilkan seperti anjing – terpenuhi nafsunya ataupun tidak – tetap menjulurkan lidahnya sebagaimana dalam ayat berikut,

 

وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَـٰهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُۥۤ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَیۡهِ یَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ یَلۡهَثۚ ذَّ ٰ⁠لِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ

 

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

 

3. Anjing disebutkan sebagai penjaga setia kepada majikannya sebagaimana dalam ayat berikut,

 

وَتَحۡسَبُهُمۡ أَیۡقَاظࣰا وَهُمۡ رُقُودࣱۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡیَمِینِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ وَكَلۡبُهُم بَـٰسِطࣱ ذِرَاعَیۡهِ بِٱلۡوَصِیدِۚ لَوِ ٱطَّلَعۡتَ عَلَیۡهِمۡ لَوَلَّیۡتَ مِنۡهُمۡ فِرَارࣰا وَلَمُلِئۡتَ مِنۡهُمۡ رُعۡبࣰا

 

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS Al-Kahfi: 18)

 

Sedangkan anjing dalam Sunnah, setidaknya bisa diwakili oleh beberapa hadits berikut,

 

1. Memberi makan dan minum kepada binatang, termasuk kepada anjing, bernilai pahala disisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam hadits berikut: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

غُفِر لامرأةٍ مومِسَةٍ مرت بكلب على رأس رَكيٍّ كاد يقتله العطش، فنزعت خفها فأوثقته بخمارها، فنزعت له من الماء فَغُفِر لها بذلك (رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه)

 

“Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata ‘Anjing ini hampir mati kehausan.’ Lalu dilepaslah sepatunya kemudian diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu)

 

2. Tidak boleh memelihara anjing, selain untuk berburu, menjaga kebun dan keperluan lainnya, sebagaimana dalam hadits berikut: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ (رواه البخاري ومسلم عن ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُماَ)

 

“Barangsiapa yang memelihara anjing, selain anjing ternak dan anjing untuk berburu, maka berkuranglah setiap hari dari perbuatannnya dua qirath.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar raḍiyallahu’anhuma)

 

3. Anjing dan patung didalam rumah menjadi penghalang malaikat rahmat memasuki rumah tersebut, sebagaimana dalam hadits berikut: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ تَمَاثِيلُ (رواه البخاري ومسلم واللفظ له عَنْ أَبِى طَلْحَةَ الأَنْصَارِىِّ رضي الله عنه)

 

“Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing (dipelihara) dan patung (untuk disembah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi dari Muslim dari Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu’anhu)

 

4. Najisnya anjing dan cara mensucikanya. Disebutkan dalam hadits berikut: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ اَلْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ, أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

وَفِي لَفْظٍ لَهُ: – فَلْيُرِقْهُ –

وَلِلتِّرْمِذِيِّ: – أُخْرَاهُنَّ, أَوْ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ.

 

“Sucinya tempat air seseorang di antara kalian jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu). Dalam riwayat lain disebutkan, “Hendaklah ia membuang air itu.” Menurut riwayat Tirmidzi, “Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan tanah).” (HR. Tirmidzi, no. 91)

 

Hadits ini menunjukkan najisnya anjing, air yang dijilati anjing dalam wadah dihukumi najis karena air tersebut diperintahkan untuk dibuang, wajib menyucikan jilatannya sebanyak tujuh kali, satu diantaranya menyucikanya dengan air bercampur tanah. Secara ilmiah diketahui bahwa tanah mengandung dua materi yang dapat membunuh kuman-kuman. Ilmu kedoteran modern telah menetapkan bahwa tanah mengandung dua materi yakni tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini digunakan untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman.

 

Pada masa modern sekarang ini, para ilmuwan telah melakukan analisis terhadap tanah kuburan untuk mengetahui kuman-kuman yang terkandung di dalamnya. Mereka berkeyakinan dapat menemukan kuman-kuman yang membahayakan dalam jumlah yang banyak. Asumsi ini berdasarkan sebuah fakta bahwa banyak manusia yang matinya karena penyakit yang ditularkan melalui kuman. Namun setelah diadakan penelitian, ternyata mereka tidak menemukan bekas apa pun dari kuman penyakit tersebut di dalam tanah. Akhirnya, mereka menarik sebuah kesimpulan bahwa tanah memiliki keunggulan dalam membunuh kuman yang membahayakan. Jika tidak, tentu kuman akan banyak dan menyebar ke mana-mana.

 

Mukjizat ilmiah dengan sangat jelas mendukung penggunaan tanah pada salah satu dari tujuh kali basuhan dalam menghilangkan najis jilatan anjing. Hal ini berdasarkan bahwa molekul-molekul yang terkandung di dalam tanah menyatu dengan kuman-kuman tersebut, sehingga mempermudah dalam proses sterilisasi kuman secara keseluruhan. Ini sebagaimana tanah juga mengandung materi-materi yang dapat mensterilkan bibit-bibit kuman tersebut.

 

Beberapa faedah dari tulisan ini:

 

*Satu,* Al-Qur’an menyebutkan anjing sebagai binatang yang bisa dilatih (untuk berburu) dan setia menjaga majikannya. Al-Qur’an juga menyebutkan orang yang kemaruk dunia dan memperturutkan nafsunya ditamsilkan sebagai anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.

 

*Dua,* memberikan makanan atau minuman kepada binatang yang kelaparan dan kehausan, termasuk kepada anjing, bernilai pahala disisi Allah subhanahu wa ta’ala.

 

*Tiga,* tidak boleh menjadikan anjing sebagai _pat_ (binatang piaraan) di rumah yang menjadi sebab malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing, juga patung.

 

*Empat,* memelihara anjing tanpa keperluan untuk berburu, menjaga kebun dan keperluan lainnya menyebabkan pemelihara anjing tersebut dikurangi amal kebaikannya.

 

*Lima,* air yang dijilati anjing dalam bejana dihukumi najis, karenanya air tersebut diperintahkan untuk dibuang dan wajib menyucikan bekas jilatannya sebanyak 7 kali – satu diantaranya menyucikanya dengan air bercampur tanah. Secara ilmiah diketahui bahwa tanah mengandung dua materi yakni tetracycline dan tetarolite yang berfungsi untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *