Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Seyogyanya bagi setiap muslim di setiap saat banyak bertaubat dan istighfar.

 

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Dan bertaubatlah kalian kepada Allah (wahai kaum mukminin) seluruhnya, semoga kalian mendapatkan keberuntungan.” (QS. An-Nur: 31)

 

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

 

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian, serta menuju surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan untuk kaum yang bertakwa.” (QS. Ali `Imran: 133)

 

Banyak bertaubat dan istighfar ini mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang mana dosa yang terdahulu dan yang akan datang mendapatkan jaminan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih pantas lagi kita sebagai umatnya yang banyak dosa dan kesalahan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Apalagi dalam menyambut waktu yang berharga dan istimewa, tentu lebih layak untuk banyak bertaubat dan istighfar.

 

Sepuluh hari awal Dzulhijjah disebut waktu yang berharga dan istimewa, karena menurut para mufassirin, disebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

 

“Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)

 

Mengutip Liyaddabbaruu Ayaatih: “Mahasuci dzat yang memuliakan ummat ini, dan membuka baginya dengan tangan nabinya yang penuh kasih sayang pintu-pintu keutamaan dan kemuliaan yang banyak, dan tidaklah suatu kaum melakukan suatu amalan yang besar dan amalan tersebut tidak diberikan kepada kaum lainnya melainkan Allah telah menjadikan suatu amalan untuk mengalahkan kaum lainnya, atau mendahulukan kaum tersebut diatas kaum lainnya, sehingga setiap kaum berada diatas keutamaan yang sama. Diantara sebab penyebutan ayat : { وَلَيَالٍ عَشْرٍ } yaitu 10 hari yang telah dikenal oleh orang-orang yang telah mendengarkan tentangnya, yang dikenal dengan hari yang sepuluh, dan dalam penyebutannya bukan dengan ( الليالي العشر ) karena penyebutan lafazh ini dengan tanwin adalah pengagungan untuknya, dan tidaklah hari-hari dalam satu tahun 10 hari yang agung berturut-turut seperti 10 hari dzulhijjah yang didalamnya kaum muslimin menunaikan ibadah haji, ihram, masuknya kaum muslim dari berbagai belahan dunia ke kota Makkah, thowaf, yaum tarwiyah pada hari kedelapan, dan wukuf di arafah pada hari kesembilan, dan pada hari kesepuluh hari qurban. Pada sepuluh hari inilah dahulu para sahabat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah, dan dialah 10 hari yang paling utama secara muthlak, karena pada hari itu berbagai keutamaan dan amalan-amalan yang besar berkumpul, yang pada hari-hari lainnya keutamaan tersebut tidak ada; seperti shalat, puasa dan sedekah, dan berkumpulnya kaum muslimin pada hari itu tidak sama dengan perkumpulan mereka pada hari-hari lainnya, dan diantara amalan yang paling besar pada hari itu adalah haji ke Baitullah

 

Selain bertaubat dan istighfar, juga seyogyanya umat Islam bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan shalih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Dan mereka yang bersungguh-sungguh dalam (menggapai ridha) Kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah ‘azza wajalla bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-`Ankabut: 69)

 

Beberapa Amalan Yang Dianjurkan untuk Dilakukan di Bulan Dzulhijjah:

 

1. Menunaikan ibadah haji dan umrah bagi yang mampu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

….وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“Menunaikan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

 

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَة كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

 

“Satu umrah kepada umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang dilakukan di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan setimpal baginya selain surga.” (HR. Bukhari no: 1773 dan Muslim no: 3276 keduanya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

 

2. Melakukan shaum sesuai dengan kemampuan, terutama pada tanggal 9 Dzulhijjah terutama bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

 

“Aku berharap kepada Allah ‘azza wajalla agar shaum pada hari Arafah menghapuskan (dosa-dosa) selama satu tahun lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim no: 2738 dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu)

 

3. Menjaga pelaksanaan shalat lima waktu berjamaah dan meningkatkan shalat nafilah. Sebab semua amalan nafilah termasuk sunnah nafilah merupakan salah satu ibadah yang mulia di sisi Allah. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

…. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ….

 

“….Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya….” (HR. Al-Bukhâri no.6502)

 

4. Bertakbir, tahmid dan tahlil, terutama di malam id sampai sebelum salat idul Adha dan setiap selesai salat fardhu sampai akhir hari tasyriq.

 

Lafadz takbir yang ma’tsur:

 

الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

 

“Allah Maha Besar (diulang 2 atau 3 kali). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Bagi Allah segala pujian.”

 

5. Memperbanyak sedekah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari (harta) yang telah Kami limpahkan kepada kalian sebelum tiba suatu hari yang tidak ada padanya perniagaan, tidak pula ada persahabatan yang akrab serta tidak ada pula syafa`at. Dan orang-orang yang kafir mereka itulah yang berbuat zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

 

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبِحُ العِبادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

 

“Setiap pagi, dua malaikat turun mendampingi seorang hamba. Yang satu mendoa: Wahai, Tuhan! Berikanlah ganti rugi bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya. Dan yang satu lagi berkata: Wahai, Tuhan! Musnahkanlah harta si bakhil. Nabi Muhammad SAW” (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

 

6/7. Shalat idul Adha dan Berqurban. Al-Qur’an

Menyebutkan,

 

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

 

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar: 1-3)

 

Berkenaan dengan orang yang mampu namun tidak berqurban, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

 

”Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dan Al-Hakim menilai hadits ini shahih)

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *