Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ajakan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada umatnya agar minta ampun kepada-Nya,

 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

 

“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

 

Ibnu Shabih berkata, “Ada seseorang mengeluhkan paceklik kepada Al-Hasan rahimahullah. Lalu beliau berkata kepadanya, ‘Mintalah ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!”

 

Ada lagi seseorang datang mengeluhkan kefakirannya. Beliau berkata, Mintalah ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!”

 

Ada lagi yang mengeluhkan, “Doakanlah agar aku dikaruniai anak!” Beliau menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!”

 

Begitu pula dengan orang yang mengeluhkan kondisi kebunnya yang kering, beliau juga berkata, “Mintalah ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!” Lantas kami pun menanyakan hal itu kepada Al-Hasan. Beliau berkata, “Yang aku katakan sedikitpun bukan berasal dariku. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Nuh” – Al-Hasan rahimahullah membacakan beberapa ayat dari surat Nuh di atas.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan kabar gembira bagi orang yang senantiasa beristighfar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (رواه أبو داود (1518) وابن ماجه (3819) ، وأحمد في “المسند” (1/248) ، والطبراني في “المعجم الأوسط” (6/240)، والبيهقي في “السنن الكبرى” (3/351) ، وغيرهم عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما)

 

“Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari setiap kegundahan, jalan keluar dari setiap kesempitan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

 

Ada yang menilai hadis ini dhaif secara sanad, namun maknanya shahih sesuai dengan dalil-dalil Qur’aniyah yaitu, beberapa ayat dari Surat Nuh di atas dan sesuai dengan firman Allah,

 

….وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ….

 

“….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya….” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

 

Berkenaan dengan istighfar atas dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ (رواه البيهقي في شعب الإيمان (6882) عن إبن عباس رضي الله عنهما)

 

“Tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar (memohon ampunan Allah), dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus-menerus.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma)

 

Berkenaan dengan istighfar tanpa berniat dari dalam hati untuk meninggalkan dosa, Imam Nawawi rahimahullah berkata,

 

….عن الفضيل بن عياض رضي الله تعالى عنه : استغفار بلا إقلاع توبة الكذابين.

 

“Al-Fudahil bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata: “Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para tukang dusta.” (Al Adzkar, Karya An Nawawi)

 

Al-Qurtuby rahimahullah berkata:

 

قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.

 

“Ulama kita berkata: “Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan (dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang mengatakan dengan lisan “astaghfirullah” sedangkan hatinya bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada dosa besar. Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: “Istighfar kita membutuhkan kepada Istighfar.” (Tafsir Al-Qurthuby)

 

Beberapa faedah dari tulisan ini:

 

*Satu,* dengan istighfar, dosa terampuni, hajat terpenuhi dan mendapatkan limpahan rezeki.

 

*Dua,* orang yang beristighfar atas dosa besar, dosanya akan terampuni sedangkan orang yang terus-menerus melakukan dosa kecil, dosanya akan menjadi besar.

 

*Tiga,* istighfar yang hanya keluar mulut tanpa niat tulus untuk berhenti dari dosa dianggap sebagai istighfarnya para pendusta – wal ‘iyadz billah – istighfarnya butuh kepada istighfar atau dengan kata lain, istighfar atas istighfar. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *