Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Semua nabi merupakan satu-kesatuan dalam hal membawa agama Islam. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan Wahyu sebagai juru bicara Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntun umatnya. Syariah Islam berlangsung dimulai dari nabi Adam ‘alaihis salam sampai kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala mengirim para utusan-Nya? Alasan yang utama karena manusia tidak dapat menangkap informasi yang benar berkaitan dengan ketuhanan dan kehidupan setelah kematian. Maka mereka butuh kepada para utusan itu menuntun kehidupan yang benar sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Islam telah disempurnakan Allah – tidak ada perubahan syariah – setelah ditutupnya pintu kenabian dengan diutusnya nabi terakhir, yakni nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

 

“Pada hari ini, telah kusempurnakan bagi kalian agama kalian, agama islam, dengan mewujudkan kemenangan dan kesempurnaan ajaran syariat. Dan telah kusempurnakan bagi kalian nikmat-nikmatKu dengan mengeluarkan kalian dari kegelapan-kegelapan masa jahiliyah menuju cahaya keimanan, dan Aku telah ridoi bagi kalian islam sebagai agama kalian, maka berpegang teguhlah dengan kuat, janganlah kalian melepaskannya.” Demikian yang dikutip dari Tafsir Al-Muyassar Kementerian Agama Saudi Arabia.

 

Dari 25 nabi yang wajib diketahui, ada 5 nabi besar yang disebut Ulul Azmi; Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad (‘alaihimus shalatu wassalam). Nabi Ibrahim disebut sebagai father of prophets, karena dari ibunda Sarah lahirlah nabi Ishaq dan nabi-nabi Bani Israil dan dari ibunda Hajar lahirlah nabi Ismail dan nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Nabi Ibrahim telah ada sebelum adanya agama Yahudi (Judaisme) dan agama Nasrani. Di kemudian hari, Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa beliau adalah penganut agama Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, Al-Qur’an membantah kalau beliau dikatakan Yahudi atau Nasrani.

 

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 135)

 

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi Muslim (seorang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (tidak pernah musyrik sama sekali baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya).” (QS. Ali Imran: 67)

 

Dari ayat ini, kita tahu bahwa beliau adalah muslim, dalam arti seorang yang tunduk dan patuh terhadap kehendak dan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan kita diperintah untuk mengikuti millahnya.

 

قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

 

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran: 95)

 

Millah Ibrahim yang dimaksud adalah “agama Ibrahim” yang lurus, yang lempeng dan tidak bengkok, itulah agama “hanifiah” yaitu yang lurus dan benar, itu semua sebenarnya adalah sinonim dari tauhid, berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melemparkan segala amalan kesyirikan, kekufuran dan setiap apa saja yang diibadahi selain Allah subhanahu wa ta’ala, inilah hakikat dari agama seluruh nabi, akidah semua rasul, tidak ada perbedaan diantara mereka melainkan hanya pada sisi syariat dan hukum-hukum yang ada, adapun dalam sisi aqidah dan iman kesemuanya sama di atas tauhid. Millah Ibrahim sejatinya adalah agama Islam itu sendiri, keduanya bersinonim, karena hakikatnya Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada Allah dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Di sini kita lihat bahwa millah Ibrahim sama persis dengan ajaran yang dibawa oleh nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

 

Ada sumber yang menyebutkan Nabi Adam ‘alaihis salam merupakan manusia pertama yang berkhitan. Ia melakukannya setelah bertobat kepada Allah dari dosa-dosa yang dilakukannya karena melanggar larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Namun sumber yang kuat menyebutkan bahwa khitan sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

اخْتَتَنَ إبْراهِيمُ عليه السَّلامُ وهو ابنُ ثَمانِينَ سَنَةً بالقَدُّومِ

 

“Ibrahim ‘alaihis salam berkhitan dan dia berumur 80 tahun dengan Qadum.” (HR. Bukhari, Muslim, Baihaqi, dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

 

Kalau kedua sumber itu digabungkan, maka syariat ini diperintahkan untuk dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim, dikarenakan pada masa itu banyak keturunan Nabi Adam yang telah melupakan syariat tersebut. Karena itu, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menghidupkan kembali tradisi yang menjadi fitrah umat manusia.

 

Khitan merupakan perjanjian Allah kepada setiap laki-laki sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama kitab Kejadian pasal 17 ayat 9-14 sebagai berikut :

 

(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

(10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu Berta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

(11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

(12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: balk yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

(13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau bell dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

(14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

 

Singkatnya, perintah khitan sangat jelas dalam Perjanjian Lama dan laki-laki yang menolaknya wajib dibunuh. Lalu bagaimana dengan Perjanjian Baru, apakah membatalkan perintah khitan Kenyataannya dalam kitab Perjanjian Baru, Allah tidak pernah membatalkan perintah tersebut. Dan Yesus pun tidak mungkin melarang bersunat, sebab dia sendiri saja bersunat tepat pada hari kedelapan sesuai perintah Tuhannya.

 

“Dan ketika genap delapan hari dan la harus disunatkan, la diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum la dikandung ibunya. ” (Luk 2:21)

 

Alasan kenapa orang Kristen tidak bersunat? Jawabannya sederhana karena tidak mengikuti Nabi Ibrahim, Musa dan Yesus itu sendiri. Yang mereka ikuti adalah Paulus.

 

“Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. ” (Gal 5:2)

 

“Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Krislus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman bekerja oleh kasih. ” (Gal 5:6)

 

“Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Kor 7:1819)

 

Khitan selain menjalankan perintah Allah, mengikuti Millah Ibrahim dan komitmen terhadap perjanjian untuk laki-laki, juga di dalamnya terdapat hikmah tasyri’. Setidaknya ada 5 manfaat khitan untuk kesehatan laki-laki; mengurangi risiko infeksi saluran kemih, mengurangi risiko kanker penis, mencegah peradangan penis, mengurangi risiko HIV dan mencegah penyakit menular seksual.

 

Beberapa faedah dari tulisan ini:

 

*Satu,* Syariah Islam telah disempurnakan dengan diutusnya nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

 

*Dua,* ada kewajiban bagi kita untuk mengikuti Millah Ibrahim ‘alaihis salam.

 

*Tiga,* khitan merupakan perjanjian Allah subhanahu wa ta’ala kepada setiap laki-laki.

 

*Empat,* nabi Isa dan nabi Muhammad mengikuti Millah Ibrahim dan mereka dikhitan.

 

*Lima,* khitan selain menjalankan perintah Allah, mengikuti Millah Ibrahim dan komitmen terhadap perjanjian untuk laki-laki, juga di dalamnya terdapat beberapa manfaat bagi kesehatan laki-laki. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *