Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Ahli Kitab secara bahasa artinya Pemilik Kitab Suci, merupakan sebutan bagi umat Yahudi dan Nasrani di dalam Al-Qur’an. Dinamakan demikian karena Allah telah mengutus nabi-nabi yang membawa kitab suci yaitu Taurat melalui Nabi Musa dan Injil melalui Nabi Isa. Meski demikian, Imam al-Syafi’i memberikan definisi yang lebih sempit lagi yaitu bahwa yang termasuk Ahli Kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nasrani dari Bani Israil saja. (Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i (w. 204 H), Al-Umm, (Baerut: Dar al-Ma’rifah, 1410 H), juz 4, hal. 193). Ini berarti siapa saja yang masuk ke dalam agama Yahudi dan Nasrani yang berasal bukan dari Bani Israil maka tidak bisa disebut sebagai ahli kitab.

 

*Ahli Kitab Yang Beriman*

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

 

“….Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

 

Potongan ayat di atas merupakan kelanjutan dari firman Allah yang mengatakan bahwa umat ini adalah umat yang terbaik, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kepada yang munkar dan beriman kepada Allah. Maksudnya dakwah kepada ahli kitab merupakan kesanambungan dakwah para nabi. Karena Islam tidak pernah menafikan ajaran agama yang dibawa oleh para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam. Para nabi merupakan satu-kesatuan dalam mengemban amanah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ahli Kitab yang beriman kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan apa yang dibawanya seperti Abdullah bin Salam dan seterusnya akan mendapatkan pahala dua kali lipat. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

 

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali: (1) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala; (2) budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah l dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan (3) seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam “Kitabul Iman”, dan hadits ini lafadz Muslim)

 

*Ahli Kitab Yang Kafir*

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

 

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136)

 

Penjelasan: “Hai orang-orang yang beriman kepada para nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad dan beriman pada apa yang mereka bawa dari Allah, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni nabi Muhammad; Bahwa Allah memiliki Rasul yang diutus kepadamu dan kepada semua bangsa sebelum kamu. Dan berimanlah kepada kepada apa yang dibawa Muhammad kepadamu dari Kitab yang diturunkan Allah kepadanya, dan itulah Al-Qur’an dan berimanlah kepada Kitab yang diturunkan Allah sebelum Kitab yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, yaitu Taurat dan Injil.

 

Jika seseorang berkata: Apa alasan mengajak orang-orang ini untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab-kitab-Nya, padahal Allah menyebut mereka “مؤمنين orang-orang beriman”?

 

Jawabannya: Allah Yang Terpuji tidak menyebut mereka “مؤمنين” orang-orang beriman” dalam bentuk isim fail (gelar permanen), melainkan menggambarkan mereka sebagai “آمنوا orang-orang beriman” dalam bentuk fiil. Itu adalah gambaran mereka dengan iman yang khusus (eklusif). Yang demikian itu karena mereka ada dua golongan. Golongan pertama, ahli Taurat, mereka beriman kepadanya dan beriman kepada yang membawanya (nabi Musa), dan mereka mengingkari Injil, Al-Qur’an, Isa dan Muhammad shalawatullahu ‘alaihima. Golongan kedua, ahli Injil, mereka membenarkan Injil, Taurat dan kitab lainnya, namun mereka mendustakan (menyangkal) nabi Muhammad dan Al-Qur’an.

 

Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka: “Hai orang-orang yang beriman terhadap apa yang mereka yakini dari Kitab-kitab dan Rasul-Rasul sebelum Al-Qur’an dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad shalallahu’alaihi wasallam) dan berimanlah kepada Kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya (Al-Qur’an), karena kalian telah mengetahui bahwa Muhammad adalah Utusan Allah; kalian menemukan ciri-cirinya dalam kitab-kitab kalian. Dan berimanlah kepada Kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an yang kalian mengaku beriman kepadanya. Karena kalian tidak akan beriman kepadanya sedangkan kamu mengingkari Muhammad, karena kitab kalian memerintahkan untuk beriman kepadanya dan apa yang dibawanya kepadamu, maka percayalah kepada Kitab kalian dalam mengikuti Muhammad, jika tidak, kalian sebenarnya kafir terhadap kitab tersebut.” (Tafsir Ath-Thabari dengan penyesuaian bahasa dari penulis)

 

Dalam Al-Qur’an, Ahli Kitab yang mengingkari kerasulan nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam mendapat ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

 

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)

 

Wallahu a’lam. Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *