Oleh Hayat Abdul Latief

 

Para nabi merupakan satu-kesatuan dalam mengemban amanah nubuwah dan risalah dari Allah subhanahu wa taala. Mendustakan satu satu nabi sama dengan mendustakan para nabi. Allah subhanahu wa taala berfirman,

 

كَذَّبَتۡ قَوۡمُ لُوۡطٍ اۨلۡمُرۡسَلِيۡنَ​ ۖ ​ۚ‏

 

“Kaum Luth telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara’: 160)

 

Para kritikus Al-Qur’an menggugat ayat ini, mereka mengatakan Allah subhanahu wa taala hanya mengutus Nabi Luth di tengah-tengah mereka. Kenapa Al-Qur’an menyebutkan mereka mendustakan para rasul. Jawaban atas kritikan ini: Inilah keindahan uslub Al-Qur’an. Memang Allah subhanahu wa taala hanya mengutus Nabi Luth di tengah-tengah mereka. Namun mendustakan ajaran Nabi Luth sama saja mendustakan ajaran para rasul, karena mereka adalah satu-kesatuan dalam mengemban amanah Allah subhanahu wa taala.

 

Umat Islam Lebih Berhak Terhadap Nabi Ibrahim

 

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam selain nabi, rasul juga Al-Qur’an menyebutnya seorang muslim. Allah subhanahu wa taala berfirman,

 

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi Muslim (seorang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (tidak pernah musyrik sama sekali baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya).” (QS. Ali Imran: 67)

 

Al-Qur’an menyuruh kita untuk mengikuti Millah (cara hidup) Nabi Ibrahim,

 

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

 

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. Al-Nisa:125)

 

Yang dimaksud millah ibrahim adalah “agama Ibrahim” yang lurus, yang lempeng dan tidak bengkok, itulah agama “hanifiah” yaitu yang lurus dan benar, itu semua sebenarnya adalah sinonim dari tauhid, berserah diri kepada Allah azza wa jalla dengan melemparkan segala amalan kesyirikan, kekufuran dan setiap apa saja yang diibadahi selain Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Diantara syariat Nabi Ibrahim alaihis salam yang dilestarikan sampai sekarang adalah berkhitan. Didalam Perjanjian Lama, khitan merupakan perjanjian Allah terhadap laki-laki. Siapa yang tidak berkhitan harus dibunuh. Setidaknya ada dua komunitas yang mengamalkan ajaran ini yaitu Yahudi dan Muslim. Bedanya, Yahudi beriman kepada seluruh nabi, kecuali kepada Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Sedangkan umat Islam beriman kepada seluruh nabi dan rasul yang diutus.

 

Didalam Al-Qur’an orang yang mulia menurut Nabi Ibrahim adalah para pengikut di zamannya, Nabi Muhammad dan umat Islam,

 

إِنَّ أَوْلَى ٱلنَّاسِ بِإِبْرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِىُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلْمُؤْمِنِينَ

 

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 68)

 

Komentar Prof. Dr. Syaikh Wahbah az-Zuhaili atas ayat ini: “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikuti jalannya yang lurus dan mengikuti Nabi ini (Muhammad) sebagai keturunannya, yang membawa ajaran yang lurus untuk mengesakan Allah. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. Orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi: Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa kami adalah lebih dahulu mengikuti agama Ibrahim daripada kalian, menurut keyakinan kami bahwa ia adalah Yahudi. Engkau hanya iri kepada kami. Kemudian Allah menurunkan ayat ini.” (Tafsir Al-Wajiz)

 

Umat Islam Lebih Berhak Terhadap Nabi Musa daripada Kaum Yahudi

 

Berkaitan dengan keagamaan, kaum Yahudi mengklaim sebagai pengikut Nabi Musa. Mereka puasa’ Asyura (tanggal 10 Muharram) dengan alasan ungkapan rasa syukur dan memperingati kemenangan Nabi Musa dan Bani Israil atas Firaun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma menceritakan,

 

قَدِمَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ المَدِينَةَ، فَوَجَدَ اليَهُودَ يَصُومُونَ يَومَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عن ذلكَ؟ فَقالوا: هذا اليَوْمُ الذي أَظْهَرَ اللَّهُ فيه مُوسَى، وَبَنِي إسْرَائِيلَ علَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا له، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: نَحْنُ أَوْلَى بمُوسَى مِنكُم فأمَرَ بصَوْمِهِ أخرجه البخاري (4680)، ومسلم (1130) واللفظ له، عبدالله بن عباس رضي الله عنهما.

 

Dari hadits di atas, dapat kita fahami bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau menemukan orang-orang Yahudi Madinah berpuasa pada hari Asyura, yang merupakan hari kesepuluh bulan Muharram. Lalu beliau bertanya kepada mereka tentang alasannya, maka mereka menyebutkan bahwa ini adalah hari yang baik di mana kebaikan dan kebenaran terjadi, ketika Allah subhanahu wa taala menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka Firaun dengan menenggelamkannya dan tentaranya di laut, lalu Nabi Musa, berpuasa. Ketika mengetahui hal itu. Nabi Muhammad mengatakan bahwa beliau lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, karena mereka (Nabi Musa dan Nabi Muhammad) bersaudara dalam hal kenabian dan karena beliau lebih berhak taat, mengikuti kebenaran daripada mereka dan lebih layak bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala karena telah menyelamatkan Musa ‘alaihis salam. Untuk itu beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. Karena kita – umat Islam – lebih layak mencintai dan menyamai Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi. Mereka mengubah dan mengganti syari’ahnya, sedangkan kita mengikuti Islam yang notabene agama semua nabi.

 

Umat Islam Lebih Berhak Terhadap Nabi Isa daripada Kaum Nasrani

 

Umat Islam lebih cocok disebut pengikut Nabi Isa (meskipun kalimat yang sesuai adalah umat Islam pengikut semua para nabi. Red) daripada kaum Nasrani, Kesesuaian yang diperbuat olehnya dengan kita; akidah tauhid, shalat, puasa, khitan bagi laki-laki, bertudung bagi wanita, pengharaman khamr dan seterusnya. Yang dikhotbahkan di gereja dan yang diamalkan orang Kristen adalah ajaran Paulus, bukan ajaran Nabi Isa; Doktrin Trinitas, dosa warisan dan penebusan dosa dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan, mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia. Itu semua bukan ajaran Nabi Isa dan beliau berlepas diri darinya.

 

Bible (Perjanjian Baru: red) dan Hadits Shahih sama-sama menceritakan kedatangan Nabi Isa untuk kedua kalinya menjelang hari akhir. Versi Perjanjian Baru, Yesus mengusir dan tidak mengenal orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya yang menuhankanya: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7 : 21- 22)

 

Versi Hadits Shahih, Nabi Isa datang menjadi umat Nabi Muhammad yang berdiri di belakang kepemimpinan Imam Mahdi untuk membunuh Dajjal, mematahkan salib (Doktrin Trinitas), membunuh babi (mengharamkan babi yang sekarang mayoritas Kristen memakanya). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ المَالُ، حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

 

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (Isa) Ibnu Maryam AS sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti atau pajak), dan akan melimpah ruah harta benda sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Ahmad dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

 

Kenapa Allah subhanahu wa taala memilih Nabi Isa untuk mematahkan salib, bukan yang lain? Apa alasannya? Salib dihancurkan dan dimusnahkan oleh Nabi Isa dengan alasan apa yang diyakini oleh orang Kristen tentang Nabi Isa itu salah:

 

1. Sebagian besar umat Nasrani berpendapat bahwa Isa putra Maryam bukanlah Nabi, melainkan Tuhan anak Allah, dan Siti Maryam merupakan istri Allah.

 

2. Kaum Nasrani berpendapat bahwa Isa putra Maryam sempat dibunuh pada zaman Raja Herodes atas persetujuan para pendeta Yahudi, lalu mayatnya dipalang pada kayu salib, sebagai penebus dosa manusia dari dosa warisan Nabi Adam dan ibunda Hawa.

 

3. Doktrin Trinitas mendominasi ajaran Kristen.

 

Beberapa kesimpulan:

 

Satu, umat Islam lebih berhak terhadap para nabi dan rasul daripada umat manapun.

 

Dua, Ibrahim ‘alaihis salam selain nabi, rasul juga Al-Qur’an menyebutnya seorang muslim.

 

Tiga, di dalam Al-Qur’an orang yang mulia menurut Nabi Ibrahim adalah, pengikut di zamannya, Nabi Muhammad dan umat Islam.

 

Empat, umat Islam lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada Kaum Yahudi dalam hal menyamai ajarannya sedangkan kaum Yahudi merobah-robah syariatnya.

 

Lima, umat Islam lebih berhak terhadap Nabi Isa daripada kaum Nasrani. Yang dikhotbahkan di gereja dan yang diamalkan orang Kristen adalah ajaran Paulus, bukan ajaran Nabi Isa. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *