Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Panjat Tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olahraga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45° dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu (Wikipedia).

 

Aktivitas ini dimana seseorang memanjat, turun atau melintasi formasi batuan alami atau dinding batu buatan, yang secara fisik dan mental menuntut kekuatan, ketahanan, kelincahan, dan keseimbangan dengan control mental. Tujuannya adalah untuk mencapai puncak formasi atau titik akhir dari rute yang biasanya ditentukan sebelumnya tanpa jatuh. Selain itu, bagi sebagian orang kegiatan panjat tebing dilakukan untuk suatu ekspedisi, mengukir prestasi dan juga rekreasi. Panjat Tebing umumnya dibedakan dengan penggunaan tangan yang terus-menerus untuk mendukung bobot pemanjat dan juga untuk memberi keseimbangan.

 

Tidak beda dengan panjat tebing, ada juga panjat pinang, salah satu tradisi masyarakat Indonesia dalam memperingati HUT RI. Panjat pinang mengajarkan kerja keras, kerja sama dan kerja sama dalam berjuang untuk mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa. Kegiatan beregu ini dapat melatih kerjasama, kecerdikan, dan saling menopang antar pemain.

 

Pelajaran dari panjat tebing dan panjat pinang adalah kesuksesan tidak terjadi secara kebetulan. Dibutuhkan tindakan strategis ke arah yang benar untuk sampai ke sana. Kesuksesan tidak terjadi dalam semalam juga. Ada lebih banyak kegagalan selama perjalanan. Kerja keras berarti fokus kepada tujuan, dengan mengatasi kemalasan, penundaan, keraguan, ketakutan akan kegagalan, rasa tidak aman, dan kebiasaan buruk.

 

Lain halnya dengan pansos atau panjat sosial. Pemanjat sosial atau dalam bahasa Inggris social climber adalah istilah yang digunakan terhadap seseorang yang mencari keunggulan sosial melalui perilaku agresif, menjilat, atau tunduk. Meski seorang pemanjat sosial sering tampak atraktif dan mudah bersosialisasi dengan orang lain, sebenarnya mereka pengidap rendah diri kronis dan memiliki kecenderungan ekstrim untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Ada rasa tak nyaman ketika ia merasa tak berada di kelas sosial ekonomi yang dipandang lebih atas. Pemanjat sosial melakukan aksinya dengan menjilat ‘keatas’, menghina nilai-nilai kesucian, menghujat tokoh terkenal dan selalu menutupi kekurangannya dalam polesan pencitraan.

 

Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik. Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

 

Dalam ungkapan bahasa Arab dikatakan, “Kencingi air Zamzam, pasti engkau terkenal. Kebebasan berpendapat atau berekspresi tidak boleh dilakukan melampaui batas atau kebablasan, sehingga mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama. Menghina nilai-nilai kesucian bukanlah bagian dari kebebasan berekspresi, tapi termasuk perbuatan yang dikategorikan sebagai kejahatan sosial.

 

Tidak bisa dinafikan bahwa tokoh yang paling terkenal di dunia adalah Nabi Muhammad. Michael Hart, menempatkan Sang Nabi agung tersebut pada urutan pertama dalam 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Maka upaya-upaya penghujatan pembunuhan karakter terhadapnya dianggap sebagai hujatan toko paling terkenal di dunia (juga di akhirat). Otomotis si penghujat mendapatkan banyak atensi, namun sebenarnya apa yang dilakukannya bagai ‘meludah ke langit’, yang pastinya ludah kehinaan itu mengenai pelakunya sendiri.

 

Pencitraan yang dimaksud merupakan usaha untuk menonjolkan citra diri yang baik kepada publik dengan kebohongan dan berlebihan dari semestinya. Usaha yang dilakukannya untuk membentuk atau membangun opini yang baik di mata kalayak ramai, bukan untuk kemaslahatan mereka.

 

Khulashah qaul, panjat sosial dengan menjilat, menghina nilai-nilai kesucian, menghujat tokoh terkenal dan pencitraan lebih mudah dilakukan untuk mencapai tujuan terkenal namun dengan cara yang tidak terpuji. Sedangkan panjang tebing dan panjat pinang merupakan representasi dari usaha mendapatkan kesuksesan dengan cara yang sesuai prosedur dari insan-insan yang memiliki jiwa petarung, jujur, pekerja keras, ulet dan sabar . Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *