Oleh: Hayat Abdul Latief
Kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah atau koloni bukan pula dari kekuatan kita namun merupakan hadiah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam keyakinan, kita tidak boleh menafikan peran besar Allah dalam hal ini di samping tekad bulat dan kemauan yang luhur dari seluruh komponen anak negeri. Allah subhanahu wa taala berfirman,
…وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ
“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)
Mari kita perhatikan potongan Pembukaan UUD 1945: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemerdekaan sebagai nikmat karunia Allah yang harus kita syukuri. Kemerdekaan sebagai amanat-Nya, harus kita isi dengan merealisasikan cita-cita luhur para pahlawan dan pendiri bangsa ini.
Dengan apa mensyukuri nikmat kemerdekaan? Allah subhanahu wa taala berfirman,
ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili: Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dengan pertolongan dari musuh mereka, niscaya mereka mendirikan sholat pada waktunya, menunaikan zakat kepada yang berhak, menyuruh berbuat ma´ruf sesuai syariat baik perkataan maupun perbuatan, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada hukum Allah-lah tempat kembalinya segala urusan di dunia, begitu juga di akhirat tentang pahala dan siksa. (Tafsir Al-Wajiz)
Di bawah ini beberapa cara mensyukuri nikmat kemerdekaan dalam konteks keindonesiaan sesuai dengan ayat di atas:
I. Mengamalkan kandungan أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan dengan menjadi muslim yang berbakti untuk agama, bangsa dan negaranya. Bagi anak bangsa secara umum, membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengacu kepada asas-asas Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak mengabaikan norma-norma agama dan tidak menganut ideologi yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila tersebut.
2. Mengamalkan kandungan وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ dengan pemerataan keadilan sosial. Keadilan sosial merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang berwujud mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan masyarakat tanpa membeda-bedakan strata sosial, kelompok dan golongan tertentu.
3. Melaksanakan kandungan وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ . Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, tentunya kita memahami bahwa makna kemerdekaan tidaklah hanya sebatas kebebasan terhadap teritorial atau kewilayahan saja, tetapi juga merdeka dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu berdaulat di semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa yang merdeka dan berdaulat sejatinya adalah bangsa yang independen, dan ini diwujudkan dengan adanya kemandirian bangsa. Maka usaha-usaha kemandirian, menjadi negara yang berdaulat dan persaingan positif dengan negara lain harus selalu digalakkan agar kita menjadi bangsa berwibawa dalam kancah dunia.
4. Mengamalkan kandungan وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ . Fenomena kemunkaran demikian mengejala di masyarakat. Yang dulu dianggap tabu sekarang sudah dianggap biasa seperti pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, saling menghina dan mengejek, dan perbuatan-perbuatan munkar lainnya. Apabila dibiarkan, maka akan terjadi pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat. Sehingga nanti boleh jadi yang tidak wajar dianggap wajar, dan yang tidak layak menjadi layak. Gejala ini sepertinya sudah mulai merebak di tengah-tengah masyarakat. Maka, kita selaku umat Islam diperintah untuk merubah dan mencegah perbuatan munkar ini
5. Melaksanakan kandungan وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ dengan berbangsa dan bernegara berlandaskan keimanan dan ketakwaan agar mencapai kemakmuran dan kesejahteraan berbasis keberkahan Ilahiyah. Firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
Wallahu a’lam. Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *