Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Manusia merupakan masterpiece (mahakarya) ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yang dilengkapi dengan berbagai macam keistimewaan dibanding dengan makhluk lain. Satu di antara keistimewaan itu selain memiliki kepekaan hati, rohani dan memiliki kecanggihan menangkap gelombang ilahi, manusia diberikan keistimewaan akal.

 

Akal sepatutnya digunakan untuk sesuatu yang benar-benar tak melenceng dari syariat Islam bahkan harus menopang syariat itu sendiri. Posisi akal yang tidak bisa menembus alam gaib dan memiliki standar yang berbeda di setiap wilayah dalam hal moral dan kehidupan spiritual yang berhubungan dengan Pencipta alam semesta, maka akal perlu dituntun oleh agama Islam, dalam hal ini akal harus tunduk kepada petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala berupa Al-Qur’an dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa hadits atau sunnah.

 

Di bawah ini 5 aktivitas akal yang sesuai dengan syariat Islam:

 

Satu, akal merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Allah dan Rasul-Nya mendorong orang-orang beriman untuk menuntut ilmu agar ditinggikan derajatnya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mendapatkan Wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala diperintahkan untuk berdoa,

 

….وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

 

“….dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)

 

Menurut Imam Syafi’i – Semoga Allah merahmatinya – dalam syairnya syarat mendapatkan ilmu ada 6:

 

ألا لا تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِتَّةٍ # سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ

ذَكاءٌ وَحِرصٌ وَاِجتِهادٌ وَبُلغَةٌ # وَصُحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ

 

“Camkan! Tidaklah engkau mendapatkan ilmu kecuali ada enam syaratnya; (Yakni) 1. Cerdas (sehat akal), 2. Semangat dalam menyerap ilmu-ilmu, 3. Bersungguh-sungguh, 4. Adanya bekal 5. Bimbingan guru, dan 6. Waktu yang lama.”

 

Dua, akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran mutlak dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

 

…فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ

 

“….Maka ambilla pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS. Al-Hasyr: 2)

 

Tiga, akal digunakan sebagai sarana untuk berpikir. Yang menjadi objek kajian adalah ayat-ayat kauniyah. Terdapat lebih dari 750 ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan agar manusia diminta untuk dapat memikirkan berbagai gejala alam sebagai upaya untuk lebih mengenal Tuhan melalui tanda-tanda-Nya. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman,

 

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191)

 

Empat, akal merupakan syarat untuk dapat menerima taklif (beban syari’at) dari Allah subhanahu wa ta’ala. Syarat ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki akal seperti orang gila. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

رُفِعَ الْقَلَمُ عن ثلاثة: عن النائم حتى يَسْتَيْقِظَ، وعن الصبي حتى يَحْتَلِمَ، وعن المجنون حتى يَعْقِلَ (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد عن علي رضي الله عنه)

 

“Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia baligh, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi Ibnu Majah dan Ahmad dari Ali raḍiyallahu ‘anhu)

 

Lima, akal berfungsi sebagai pencegah. Maksudnya akal mencegah manusia mengikuti nafsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

 

«اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ». قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ المَوْتَ وَالبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ»

 

“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu”, ia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah benar-benar malu kepada Allah, Alhamdulillah?”, Beliau menjawab, “Bukan seperti itu, akan tetapi malu kepada Allah yang benar itu adalah dengan memelihara kepala dan apa yang ada disekitarnya, memelihara perut dan apa yang berhubungan dengannya, dan mengingat mati dan kehancurannya. Siapa saja yang menghendaki akhirat maka hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa saja yang telah melakukan itu semua, maka ia sungguh telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu. (HR Tirmidzi)

 

Kalau akal tidak digunakan sebagai alat untuk menuntut ilmu, berpikir, memahami kebenaran dan tidak menjadi penghalang hawa nafsu – padahal tidak gila – maka manusia termasuk golongan yang disebutkan dalam Al-Qur’an berikut – wal ‘iyadz billah,

 

وَقَالُوۡا لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ اَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِىۡۤ اَصۡحٰبِ السَّعِيۡرِ‏

 

“Dan mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10)

 

Mengomentari surat Al-Mulk ayat 10, Syaikh Muhammad bin Shalih Asy-Syawi berkata: Kemudian penghuni neraka mencerca dan menyalahkan dirinya masing-masing, dengan berkata : Seandainya kami di dunia mendengar sungguh-sungguh kepada siapa yang membawa kebenaran dan menginginkan jawaban, atau menyadari dan berpikir atas apa yang ia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) seru kepada kami, dari hidayah dan petunjuk, maka tidaklah kami tertimpa api nereka yang menyala-nyala. (An-Nafahat Al-Makkiyah)

 

Wallahu a’lam. Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Dai An Nashihah dan Pelajar Mahad Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *