Oleh Hayat Abdul Latief

 

Kewajiban ibadah

 

Tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya:

 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengambil untung dari ibadah hamba-hamba-Nya. Lanjutan firman-Nya:

 

مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

 

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 57)

 

Sebagaimana disebutkan pada ayat selanjutnya, bahkan Dia-lah Maha Pemberi rizki yang tidak butuh kepada makhluk-Nya:

 

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

 

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

 

Mukallaf

 

Disebut mukallaf atau orang yang berkewajiban menjalankan ajaran agama Islam harus memiliki 2 syarat:

 

a. Akil atau berakal, alias tidak gila dan sejenisnya. Orang dalam gangguan jiwa bebas atau tidak ada kewajiban menjalankan ajaran agama Islam. Menjalankan agama saja tidak diwajibkan apalagi harus ikut pemilu. 😀

 

b. Baligh atau pubertas dengan ciri-ciri haidh bagi perempuan, mimpi basah dan keluar bulu kemaluan bagi laki-laki dan perempuan.

 

Seseorang apabila tidak memiliki dua syarat di atas maka tidak ada kewajiban untuk menjalankan ajaran agama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

 

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud)

 

Dalam Keadaan Safar dan Sakit

 

Dalam keadaan mukim (berada dalam negerinya) dan sehat, seorang muslim tidak ada kesusahan dalam menjalankan ibadah. Namun apabila dalam keadaan safar dan sakit, di dalamnya ada kesusahan dalam menjalankan kewajiban agama. Sehingga Islam agama yang penuh rahmat memberikan rukhshah atau keringanan juga kemudahan. Dalam keadaan safar, shalat bisa dilakukan dengan cara qashar dan jamak. Dalam keadaan sakit seorang yang tidak bisa berdiri dalam shalatnya, boleh dilakukan dalam keadaan duduk tidur dan seterusnya.

 

Demikian juga dalam bersuci, apabila safar tidak mendapatkan air atau dalam keadaan sakit, berwudhu atau mandi janabah bisa diganti dengan tayamum. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah,

 

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ

 

“Jika kamu sakit atau dalam perjalanan”, beliau mengatakan,

 

إِذَا كَانَتْ بِالرَّجُلِ اَلْجِرَاحَةُ فِي سَبِيلِ اَللَّهِ وَالْقُرُوحُ, فَيُجْنِبُ, فَيَخَافُ أَنْ يَمُوتَ إِنْ اِغْتَسَلَ: تَيَمَّمَ” . رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ مَوْقُوفًا, وَرَفَعَهُ اَلْبَزَّارُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَالْحَاكِم

 

“Apabila seseorang mengalami luka-luka di jalan Allah atau terserang penyakit kudis lalu ia junub, tetapi ia takut akan mati jika ia mandi, maka boleh baginya bertayamum.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni secara mawquf. Hadits ini marfu’ menurut Al-Bazzar, dan sahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

 

Jelas sekali dalam hadis di atas, Islam tidak membenarkan perbuatan yang membahayakan jiwa dan kesehatan. Sesuai pula dengan hadis berikut: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

 

“Tidak boleh memberikan mudarat kepada diri sendiri dan tidak boleh memberikan mudarat kepada orang lain” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, dan selain keduanya dengan sanadnya dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, serta HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain)

 

Faedah:

 

Satu, tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Dua, disebut mukallaf atau orang yang berkewajiban menjalankan agama harus memiliki dua syarat yaitu berakal dan baligh.

 

Tiga, agama Islam yang penuh dengan rahmat memberikan rukhshah atau keringanan dan kemudahan bagi seorang musafir dan yang sakit.

 

Empat, dalam keadaan safar, shalat bisa dilakukan dengan cara qashar dan jamak. Dalam keadaan sakit seorang yang tidak bisa berdiri dalam shalatnya boleh dilakukan dalam keadaan duduk, berbaring dan seterusnya. Jika yang sakit dalam keadaan hadats kecil maupun hadats besar lantas sulit menggunakan air, boleh beralih pada tayamum

 

Lima, Islam tidak membenarkan perbuatan yang membahayakan jiwa dan kesehatan . Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber [Al-Qur’an, Bulughul Maram, Arba’in Nawawi dsb]. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *