Oleh Hayat Abdul Latief

 

Apabila musibah menimpa suatu wilayah, maka yang cepat-cepat harus kita kerjakan adalah simpati empati memberikan bantuan donasi dan sejenisnya dan atau setidaknya mendoakannya agar diberi kekuatan dan kesabaran dan diberikan solusi yang terbaik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tidak terburu-buru menyalahkan korban bencana atau Victim Blaming.

 

Kita sering mendengar tesis yang disampaikan para dai bahwa bencana itu ada kemungkinan berupa ujian bagi orang baik, teguran bagi orang yang lalai atau kemungkinan menjadi azab bagi penentang Tuhan. Tesis itu dilengkapi dengan dalil-dalilnya.

 

Musibah Sebagai Ujian Keimanan

 

Allah SWT ingin mengetahui apakah seorang benar dalam keimanannya atau dusta dengan diuj, baik berupa ujian individu maupun ujian kolektif – ujian itu bisa berupa kesulitan hidup atau juga bisa berubah kemudahan. Firman-Nya,

 

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

 

Namun kita tidak boleh memukul rata bahwa bencana itu berupa murni ujian murni teguran dan murni azab karena pada kenyataannya korban dari bencana tersebut bermacam-macam ada orang baik ada orang lalai dan ada orang yang memang pantas diazab. Yang jelas orang baik perlu diuji; apakah memang terbukti orang baik atau hanya dusta belaka?

 

Musibah Berupa Teguran

 

Untuk hamba-hamba Allah yang baik namun lalai, Allah kirim musibah sebagai teguran untuknya agar kembali kepada-Nya.

 

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

 

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

 

Orang yang lalai perlu diingatkan. Diantara cara Allah mengingatkan orang lalai adalah dengan ditimpa musibah.

 

Musibah Sebagai Azab

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرٰى حَتّٰى يَبْعَثَ فِيْٓ اُمِّهَا رَسُوْلًا يَّتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِى الْقُرٰىٓ اِلَّا وَاَهْلُهَا ظٰلِمُوْنَ

 

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qasas: 59)

 

Opsi ketiga apabila diuji tidak lulus, ditegur tidak sadar maka pantas orang semacam tersebut mendapatkan azab dari Allah SWT.

 

Azab Allah itu apalagi datang, tidak hanya menimpa pelaku kezaliman tapi merata kepada penduduk yang menghuni wilayah tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan,

 

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

 

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya.” (QS. Al-Anfal : 25)

 

Sebab Datangnya Azab: Meninggalkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

 

Sebab terbesar turunnya azab adalah bukannya tidak ada orang baik di wilayah tersebut. Di wilayah tersebut ada orang baik, namun tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar – tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak melarang kepada kemungkaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إنَّ النَّاسَ إذا رأَوُا الظَّالمَ فلم يأخُذوا على يدَيْه أوشك أن يعُمَّهم اللهُ بعقابٍ

 

“Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka semua. (HR Abu Dâwud, At-Tirmidzi)

 

Hadits di atas diperkuat oleh hadits berikut: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

 

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا

 

“Perumpamaan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang terjatuh di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang sedang mengundi untuk mendapatkan tempat mereka masing-masing di dalam kapal. Sebagian mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah jika ingin mendapatkan air minum mereka melewati orang-orang yang ada di atas. Mereka (yang ada di bawah) berkata: “Andaikata kita melubangi perahu ini untuk mendapatkan air minum, maka kita tidak akan mengganggu mereka yang ada di atas”. Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan perbuatan dan keinginan orang-orang yang ada di bawah (yaitu melubangi kapal), maka mereka semua akan tenggelam. (HR Al-Bukhâri dari Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu)

 

Faedah:

 

Satu, apabila musibah menimpa suatu negeri, maka kita tidak cepat-cepat menyalahkan korban. Kita kedepankan simpati, empati, bantuan donasi atau setidaknya mendoakan Mereka agar diberi kekuatan dan kesabaran.

 

Dua, musibah ada kalanya sebagai ujian, sebagai teguran dan adakalanya sebagai azab.

 

Tiga, azab Allah apabila datang tidak hanya menimpa para pelaku kezaliman, namun merata kepada penduduk wilayah tersebut.

 

Empat, meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar menyebabkan datangnya azab. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *