Oleh: Hayat Abdul Latief
Pada kenyataannya, adakalanya kita dianjurkan untuk kompetitif dan adakalanya kita dianjurkan untuk itsar – sesuai dengan porsinya masing-masing. Kita dianjurkan kompetitif dalam hal ibadah dan memberi manfaat untuk banyak orang. Bahasa Al-Qur’an menyebutkan;
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  (البقرة: 148)
Terjemah Tafsiriyah:
فبادروا – أيها المؤمنون- متسابقين إلى فِعْل الأعمال الصالحة التي شرعها الله لكم في دين الإسلام.
Maka bersegeralah, wahai orang-orang beriman, dalam keadaan berlomba-lomba mengerjakan amal-amal yang sholeh yang Allah syariatkan untuk kalian dalam agama Islam.” (Tafsir Muyassar)
Atau dengan bahasa lain,
وفي ذلك فليتنافس المتنافسون (المطفّفين – 26)
Terjemah Tafsiriyah:
 فليرغب الراغبون بالمبادرة إلى طاعة الله – عز وجل
Maka hendaklah para pecinta kebaikan termotivasi untuk bersegera mentaati Allah Azza wa Jalla.” (Tafsir Jalalain)
Kita dianjurkan untuk berlomba-lomba menjadi orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman;
ۚإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“....Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah SAW. bersabda;
خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ  (رواه البخاري)
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi dari Usman bin Affan r.a)
Kita dianjurkan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda;
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath)
Kita dianjurkan berlomba-lomba dalam akhlak yang baik. Rasulullah SAW bersabda;
خَيْرُ النُّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Thabrani).
Dalam hal ini kita diperintahkan untuk kompetitif dan  dilarang itsar atau mendahulukan orang lain. Dalam kaidah Fiqih disebutkan;+
الايثار بالعبادة مكروه وبالدنيا محبوب
Mengutamakan orang lain dalam hal ibadah tidak disukai sedangkan mengutamakan orang lain dalam hal dunia disukai.”
Allah subhanahu wa ta’ala memuji sahabat Ansor yang mendahulukan kebutuhan sahabat Muhajirin dengan berfirman;
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Kisah sahabat Ansor yang menjamu tamu Rasulullah SAW sangat masyhur – satu keluarga menjamu tamu Rasulullah SAW walaupun mereka sendiri tidur dalam keadaan lapar. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *